Jakarta, 21 Mei 2021 - Acara kepedulian antar kota atas agresi Israel terhadap Palestina diinisiasi oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) DKI Jakarta bersama Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia Jakarta yang bertajuk "Lorong Cinta Dan Kemanusiaan Antara Gaza Dan Jakarta", bertujuan untuk menggalang solidaritas muslim Kota Jakarta untuk membantu meringankan beban penderitaan kaum muslim di Kota Gaza akibat agresi dan serangan militer Israel.

Lorong Cinta Dan Kemanusiaan Antara Gaza Dan Jakarta
Foto oleh Ehimetalor Akhere Unuabona di Unsplash

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk tabligh solidaritas dan penggalangan dana dilakukan secara belnded system, yaitu kombinasi dari acara yang diselenggarakan secara off-line dan on-line, tentunya yang hadir secara off-line dilakukan secara terbatas dan menerapkan protokol Covid-19. Acara yang berlangsung di Masjid Al-Furqon Dewan Dakwah menghadirkan beberapa nara sumber antara lain Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat Dr. Adian Husaini, Gubernur Provinsi DKI Jakarta Dr. Anies Baswedan, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Dr. M. Hidayat Nurwahid, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Ustadz Zainal Muttaqin.

Hujan roket di Kota Gaza adalah luka bagi kota-kota di dunia. Kota adalah konsep yang merangkum hak-hak sipil, nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi, kesetaraan dalam hukum, teknologi dan tentu saja peradaban. Karenanya, cendikiawan muslim Dr. Anwar Ibrahim memunculkan istilah masyarakat madani untuk mengadaptasi konsep civil society yang ciri utamanya adalah keberadaban.

Dalam sambutannya Dr. Adian Husaini mengatakan “Urusan kita sebagai bangsa Indonesia adalah mendorong seluruh potensi yang ada pemerintah, DPR, ulama, semua LSM fokus bagaimana kita segera memerdekakan palestina”

Meluluh lantakkan kota tempat bernaungnya warga sipil secara membabi buta adalah serangan brutal terhadap keberadaban. Bangunan kota yang rusak, bisa dengan mudah dipulihkan, namun tatanan dan nilai masyarakat kota (baca madani) akan mengalami trauma yang mungkin tak selesai diobati dalam satu generasi.

Memaknai serangan Israel atas kota Gaza dalam spirit solidaritas kota adalah serangan terhadap sendi-sendi dasar masyarakat madani. Sendi-sendi dasar tersebut merangkum nilai kemanusiaan, keadilan, supremasi hukum, rasionalitas dan perdamaian.

Baca juga:  Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), Gadget Dan Bahaya Yang Mengintai Anak

“Dunia semakin faham tentang kondisi ini, dan karenanya ketika kemudian itu semuanya menjadi sebuah dukungan internasional, doa umat islam, doa bangsa-bangsa yang tertindas, memberikan doa yang luar biasa kepada saudara-saudara kita di palestina menghadirkan keistiqomahan” kata Dr. M. Hidayat Nurwahid.

Serangan pongah Israel terhadap kota Gaza adalah ancaman serius bagi perdamaian dunia. Kelangsungan spesies manusia di muka bumi ini justru mendapatkan ancaman nyata dari konflik dan hilangnya sipirit perdamaian antar manusia itu sendiri. Sejarah peradaban manusia telah membuktikan bahwa manusia mampu beradaptasi dengan ancaman dan bencana alam, tapi kita semua ragu, apakah kita bisa tetap eksis jika perang besar meletus dengan melibatkan alutsista super canggih?

Secara fisik, kota Gaza dan Kota Jakarta terentang dalam jarak yang cukup jauh, sekitar 8.719 km. Namun dalam spirit tatanan masyarakat madani dan solidaritas kota, sungguh tak ada jarak kemanusiaan antara masyarakat Kota Gaza dan Masyarakat Kota Jakarta.

“Perintah konstitusi memberikan pada kita dasar bahwa Indonesia harus terlibat langsung dalam menghadirkan ketertiban dunia dan yang terjadi tanah Palestina adalah ketidaktertiban dunia, karena itu kita punya tanggung jawab konstitusional untuk peduli, untuk ambil tanggung jawab, apalagi sejarah dukungan antara Indonesia dengan Palestina adalah catatan sejarah yang amat panjang di saat Indonesia mengikhtiarkan kemerdekaan mereka hadir mendukung kemerdekaan kita” kata Gubernur Provinsi DKI Jakarta Dr. Anies Baswedan.

Baca juga:  Sikap Tegas Fraksi PKS: Batalkan Perpres Legalisasi Miras

Kemudian beliau menambahkan “Karena itu kita memiki tanggung jawab untuk memberikan pada bangsa Palestina dukungan atas perjuangan mereka, sebagaimana pernah dikatakan Bung Karno di tahun 1962 selama kemerdekaan belum diserkahkan kepada bangsa Palestina, maka bangsa Indonesia akan terus menentang penjajahan di tanah Palestina, dan Jakarta serta Gaza adalah wilayah yang punya catatan panjang atas hubungan itu.”

Ada lorong cinta dan kemanusiaan, yang memangkas jarak, ruang, dan waktu antara Gaza dan Jakarta. Luka Gaza terasa perihnya sampai ulu hati muslim Jakarta, pun nestapa anak-anak Gaza, menguras pula air mata para Ibu diseantero tanah Batavia. Jarak hati itu terlalu dekat, resonansi itu begitu kuat terasa, bahkan gigil kesedihan itu merambat begitu kuat dan cepat meski tanpa pelukan.

“Antara Gaza dan Jakarta” adalah ruang pembuktian Ishadu bi ana muslimun. “Antara Gaza dan Jakarta” adalah ruang pembuktian seberapa pancasilaisnya masyarakat kota Jakarta yang berkeyakinan bahwa kemerdekaan adalah hak semua bangsa dan penjajahan diatas dunia harus dihapuskan sebagaimana diamanahkan oleh UUD 1945.

Cukup sudah sedu-sedan itu. Cinta selalu menuntut pembuktian! Mari kita ubah butiran air mata menjadi butiran berlian yang bisa dikontribusikan untuk mengobati yang luka dan membangun yang runtuh.