Bahwa fikih kedaruratan memang sangat erat dan lekat dengan dunia kerelawanan dan kebencanaan, sebab situasi-situasi darurat pasti seringnya menyapa mereka para relawan dan korban bencana.

Dunia Kerelawanan Idealisme Berlian Tenggelam di Dasar Lumpur
Foto oleh mostafa meraji di Unsplash

Bahwa sudah menjadi sunnatullah saat-saat sebuah komunitas masih kecil biasanya sangat kuat memegang prinsip dan amanah, erat memegang akhlak dan etika, kencang mengikat idealisme, ketat menjaga aturan, juga rapat dalam menyaring ide dan pikiran liar. Betapa banyak pujian Allah dalam al-quran saat menyebut dan mengabadikan komunitas-komunitas kecil, bahkan ada yang sampai Allah abadikan kehebatan mereka saat mampu meluluhlantakkan dominasi sebuah komunitas besar, lalu keluar sebagai pemenang karena keteguhan dan kesabaran mereka dalam menjaga amanah dan idealisme.

Komunitas-komunitas kecil ini pada akhirnya ada yang tetap selamat, namun tak sedikit pula yang terjerembab.

Tapi seiring waktu saat kerja keras ditambah jerih payah menjaga amanah mulai menampak hasil, pelan namun pasti, kelonggaran-kelonggaran pun mulai dinikmati dan diminati. Sedikit demi sedikit aturan dan tata etika mulai dikendurkan. Sikap-sikap permisif mulai diberikan ruang. Dan semua itu acapkali diatasnamakan kedaruratan.

Disinilah memang pangkal persoalannya yang paling utama. Bahwa fikih kedaruratan memang sangat erat dan lekat dengan dunia kerelawanan dan kebencanaan, sebab situasi-situasi darurat pasti seringnya menyapa mereka para relawan dan korban bencana.

Benar bahwa syariat Islam mengatur kedua situasi, normal dan darurat. Situasi normal terikat dengan nash-nash yang jelas dan spesifik, sedang situasi darurat biasanya diikat dengan kaidah-kaidah yang disusun para ulama berdasarkan nash-nash yang sifatnya general, atau yang sedikit menyinggung dan mengisyaratkan adanya hubungan.

Karena bentuknya adalah kaidah-kaidah maka sudah pasti akan sangat erat berhubungan dengan ijtihad para ulama yang prosesnya sangat berat dan panjang. Yang membahas dan membicarakan ijtihad hanyalah para ulama pakar dan tak sembarangan. Dari sini saja kita seharusnya sudah paham betapa untuk masuk dalam dunia fikih kedaruratan akan sangat membutuhkan kekuatan ilmu dan nalar yang jernih.

Tak serta-merta meskipun kaidah-kaidah yang disusun para ulama sudah jadi lantas langsung bisa dipakai begitu saja. Apalagi sekadar tahu satu kaidah saja langsung bisa melangkah tancap gas, yaitu kaidah “Situasi darurat akan membolehkan hal-hal yang terlarang” lalu urusan dianggap selesai. Dan disinilah hal-hal prinsip dari banyaknya komunitas itu terjatuh.

Baca juga:  Dunia Kerelawanan: Mimpi Bersinergi di Atas Pelangi

“Kalau ini ngga boleh itu ngga boleh wah repot sekali kita berislam.”

Ini salah satu komentar yang pernah terlontar saat diskusi fikih kedaruratan. Dengan dasar hadits Rasulullah SAW, “Sungguh agama ini mudah” lalu seakan semua hal bisa menjadi mudah dan dibuat mudah. Padahal diantara yang harus kita pahami adalah bahwa situasi darurat yang kadang memunculkan keringanan-keringanan dalam hukum itu sangat lekat dengan masalah kesamaran, atau perkara syubhat. Minimal keluar pertanyaan apakah benar masalah ini sudah masuk wilayah darurat? Ataukah masih dalam kategori normal, meski sudah mulai mengarah ke arah darurat?

Maka munculnya pertanyaan tersebut tak boleh serta-merta diputuskan secara tergesa-gesa, apalagi yang memutuskan tak memiliki kapasitas yang memadai dalam ilmu dan nalar, kecuali memang sudah tak lagi samar semisal nyawa sudah terancam di depan mata.

Dan tentunya bukan disini pembahasan mendalam tentang fikih kedaruratan, hanya saja memang hilangnya idealisme banyak komunitas kemanusiaan lebih dikarenakan adanya benturan dengan situasi darurat, apalagi jika benturan terjadi bertubi-tubi.

Dan sekali lagi, semua itu kembali bermuara pada tuhan bernama donasi.

Lantas apa hubungan antara idealisme, kedaruratan, dan donasi?

Tentu hubungannya sangat erat seerat hubungan air dan tanah.

Bahwa program dan karya sebuah komunitas sangat bergantung dengan donasi, sebab keumuman komunitas kemanusiaan bukanlah badan korporasi. Ia hidup karena adanya donasi karena tak memiliki dana sendiri. Tentunya kita sudah sangat paham dengan hal ini. Selanjutnya kehadiran komunitas-komunitas kemanusiaan ini adalah karena kurang responnya lembaga besar yang pada dasarnya paling bertanggungjawab menangani problem bencana kemanusiaan lalu disambut oleh para relawan yang memiliki niat suci dan jiwa kemanusiaan dengan mendirikan berbagai macam komunitas.

Baca juga:  Wanita Islam Menilai Pelaporan Din Syamsudian Sebagai Radikalis Adalah Bentuk Character Assassination

Saat terjun di medan kebencanaan dan kemanusiaan inilah mereka mendapatkan benturan-benturan dengan situasi darurat, dan di saat yang sama mereka sangat membutuhkan donasi untuk menyelesaikan problem di lapangan. Mau tak mau harus putar otak dan berpikir keras agar masalah selesai.

Di tahap ini tidak ada masalah sebenarnya. Tapi seringkali kita lupa dan lalai bahwa berangkat dari niat suci dan ditambah lagi dengan keakraban kita dengan dunia mengaji sekalipun tak lantas bisa luput setiap saat dari bergesernya niat awal dan tujuan.

Dalam situasi darurat kadang kita tak bisa berlama-lama memegang idealisme. Itulah masalahnya. Bahkan Rasulullah SAW telah peringatkan kita,

“Bahwa akan datang kepada manusia suatu masa, dimana orang yang bersabar dalam memegang syariat agamanya bagaikan memegang bara api.”

Dan memang siapa yang kuat memegang bara api? Pasti dengan cepat bara api itu akan ia lemparkan.

Begitulah akhirnya disebabkan urusan donasi yang harus banyak dicapai demi kebutuhan darurat di medan bencana, pada akhirnya mendaruratkan cara mendapatkan donasi. Idealisme hilang karena harus membangun korporasi atas nama lembaga kemanusiaan. Idealisme hilang karena harus membangun kapal kemanusiaan yang lebih mentereng.

Idealisme hilang karena harus mempromosikan profil korporasi. Idealisme hilang karena harus bersaing dengan kapal-kapal korporasi lain yang menjadi kompetitor. Idealisme hilang karena terpaksa harus membangun program dan proyek mercusuar.

Dan… Idealisme hilang karena harus selalu membangun opini sebagai komunitas yang terdepan, terbaik, terbanyak, dan tercepat dalam hal program, karya, kontribusi, dan kadang atas nama dakwah.

Semoga Allah senantiasa menjaga niat dan keikhlasan kita.