Sebab bersinergi merupakan aplikasi sikap yang maha berat yang dipraktekkan oleh para aktivis dan penggiat komunitas kemanusiaan.

Dunia Kerelawanan Merawat Etika Bersinergi
Foto oleh Hannah Busing di Unsplash

Kerapkali telinga kita mendengar kata sinergi dalam dunia komunitas kemanusiaan. Kata yang telah menjadi secercah harapan, atau sebentuk himbauan, atau sebuah arahan, atau sekeping mimpi, meski kadang berakhir menjadi onggokan janji dan angan-angan.

Sebab bersinergi merupakan aplikasi sikap yang maha berat yang dipraktekkan oleh para aktivis dan penggiat komunitas kemanusiaan. Kita semua harus paham bagaimana beratnya bersinergi melalui satu ungkapan perintah dalam Al Qur’an,

“Dan saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan.”

Ada ulama mengatakan bahwa semua yang ada dalam al-quran tak ada yang datang tiba-tiba. Artinya mustahil Allah asal berbicara. Mustahil asal berbicara berarti setiap yang Allah ungkapkan sudah pasti mengandung ilmu, kita ketahui ataupun tidak ilmu tersebut.

Maka dalam ayat perintah bersinergi diatas Allah sebutkan dalam kebaikan dan ketaqwaan. Itulah isyarat yang sangat halus bahwa ketika kita bersinergi dalam kebaikan dan ketakwaan maka cara dan prilaku kita saat bersinergi pun harus mencerminkan sinergi yang baik dan berlandaskan prinsip takwa. Itulah yang bisa kita sebut dengan akhlak bersinergi.

Dan problem bersinergi yang paling susah dan berat adalah bersinergi yang tergambar dalam arahan Rasulullah ﷺ,

“Seorang muslim dengan muslim lainnya laksana sebuah bangunan yang setiap bagiannya saling menguatkan.”

Setiap komunitas pasti memiliki core value masing-masing. Saling berbeda program, berbeda karya, berbeda cara kerja dan strategi, berbeda keahlian, pendeknya masing-masing berbeda dalam banyak hal. Dan mengelola semua perbedaan tersebut pasti mengharuskan kedewasaan sikap dan pikiran, membutuhkan kelapangan dada dan kebesaran hati. Pasti suatu saat ada yang harus rela mengalah, rela mendahulukan, bahkan hingga rela berkorban. Tapi itulah ujian besarnya dan ujian sulitnya. Sebab adakalanya penyakit-penyakit hati sekonyong-konyong muncul menyeruak.

Baca juga:  Pelajar Islam Indonesia Rejang Lebong Selenggarakan Leadership Basic Training

Semua ingin dan berharap tampil. Semua berebut pengakuan.
Semua merasa layak maju ke panggung.
Semua merasa mampu mengerjakan.
Semua merasa mampu menyelesaikan persoalan.

Ibarat bangunan yang disinggung oleh Rasulullah ﷺ, apa jadinya bila semua ingin menjadi atap agar bisa selalu terlihat eksis bahkan dari kejauhan. Apa jadinya bila semua ingin menjadi pilar agar selalu terlihat sebagai bagian yang menjaga tegaknya bangunan. Apa jadinya bila semua ingin menjadi dinding agar selalu terlihat sebagai bagian yang melindungi penghuni bangunan. Apa jadinya bila semua ingin menjadi jendela agar selalu terlihat sebagai bagian yang memberikan wawasan luar. Dan apa jadinya bila semua ingin menjadi pondasi agar selalu terlihat sebagai bagian yang menopang kokohnya bangunan.

Belum lagi problem tambahan saat satu bagian merasa dan mengharuskan agar bagian-bagian lainnya bisa seperti dirinya. Bagian atap merasa semua bagian harus menjadi atap seperti dirinya, atau bagian pondasi merasa semua bagian harus menjadi pondasi seperti dirinya. Seperti ini tak akan ada namanya bersinergi. Sebab bukan begitu etikanya.

Bila ada satu komunitas yang bergeraknya di bidang dokumentasi maka komunitas lain tak layak mengharuskan mereka bergerak di bidang logistik.

Bila ada satu komunitas yang bergerak di bidang lobi-lobi maka komunitas lain tak layak mengharuskan mereka bergerak di lapangan.

Bila ada satu komunitas yang bergerak di bidang medis maka komunitas lain tak layak mengharuskan mereka bergerak di bidang lain.

Ada juga yang secara sempit memahami sinergi dengan menuntut komunitas lain tunduk patuh secara sepihak pada aturan dan keinginannya saja. Pendeknya, Anda harus tunduk dengan aturan kami maka itulah yang disebut sinergi.

Baca juga:  Tim BIK Peduli Dalam Upaya Perbaikan Kondisi Dusun Palada Kabupaten Mamuju Pasca Gempa

Bahwa bersinergi sekali lagi bukan sekadar menuntut pihak lain untuk bekerjasama, akan tetapi secara sukarela dengan memegang kewajiban masing-masing dalam bekerjasama demi mengambil maslahat atau menghindari bahaya.

Bersinergi juga mengharuskan saling menjaga marwah. Sangat tidak beretika jika marwah komunitas lain kita rusak dengan cara “ngomong di belakang”. Saat bertemu penuh dengan puja-puji sedang di belakang mengobral kekurangan kawan sendiri. Justru yang kita khawatirkan adalah hilangnya keberkahan amal meskipun tujuan menjalankan program dan karya kita dapatkan.

Dan termasuk penyakit bersinergi adalah virus “saya juga bisa”.

Ketika kita berbeda core value dengan komunitas lain terkadang penyakit ini muncul secara tiba-tiba. Dan ia muncul di saat situasi yang tepat, yaitu saat kita merasa mampu melakukan segalanya karena satu hal, donasi melimpah. Bersinergi dengan komunitas lain akhirnya menjadi hal yang sangat berat bagi kita, karena buat apa lagi bersinergi jika kita mampu mengerjakan sendiri?

Maka betapa banyak perpecahan dalam sebuah komunitas atau kumpulan komunitas karena gagal mengendalikan virus “saya juga bisa”. Bila merasa sudah bisa mencari donasi sendiri atau menjalankan program sendiri lalu buat apa tetap bersinergi? Itu yang menjadi salah satu alasan dan motivasi. Dan bila dipaksakan untuk tetap bersinergi, maka hasilnya adalah sinergi formalitas belaka, kering karena tanpa etika.

Tentunya masih banyak penyakit-penyakit dalam dunia kemanusiaan dan kerelawanan yang harus kita hindari. Dalam hal ini kita sangat-sangat membutuhkan arahan dan nasihat dari Allah dan Rasul-Nya agar kita senantiasa bisa menjaga akhlak dan etika bersinergi.