Sebab selama tembok penghalang ini masih berdiri kokoh dan belum runtuh maka selamanya bersinergi hanyalah sebuah mimpi di atas pelangi.

Dunia Kerelawanan Mimpi Sinergi di Atas Pelangi
Foto oleh Larm Rmah di Unsplash

Diantara masalah yang kerap menggelayuti komunitas-komunitas kemanusiaan adalah susah dan beratnya bekerjasama, dan bersinergi dalam kerja dan karya yang lebih baik. Meski hampir semua komunitas punya agenda dan program sinergi akan tetapi tetap saja seakan ada tembok kokoh yang menghalangi mereka dan sulit untuk dijebol.

Maka di sinilah para penggiat komunitas kemanusiaan harus tahu dan paham akan tembok penghalang tersebut, harus menguasai ilmu dan strategi meruntuhkan tembok, dan juga harus mau setiap saat berjuang untuk meruntuhkannya. Sebab selama tembok penghalang ini masih berdiri kokoh dan belum runtuh maka selamanya bersinergi hanyalah sebuah mimpi di atas pelangi.

Kita harus mengerti bahwa secara individu kita semua memiliki banyak kekurangan, maka saat kita membentuk satu komunitas pun maka bawaan kekurangan itu tetaplah ada. Kekurangan tersebut tak lantas otomatis hilang saat kita sudah berbentuk komunitas. Sama sekali tak hilang. Sebab sudah sunnatullah yang berlaku pada diri kita bahwa kekurangan itu akan senantiasa tersemat dalam diri kita.

Dan awal mula masalah tak kuasa bersinergi justru dari sini, saat kita merasa sudah tak ada lagi kekurangan, atau tetap mengakui adanya kekurangan tapi tak peduli dan bahkan memunculkan rasa baru lagi, yaitu merasa tak ada manfaatnya kita membahas kekurangan sebab masalah umat sudah ada di depan hidung dan mata!

Padahal, bagaimana cara kita menyelesaikan masalah umat yang di depan mata, sedang masalah diri kita sendiri saja tak bisa kita selesaikan?

Kita sudah merasa wow dan keren bila sudah bicara masalah umat, meski masalah diri kita yang sejatinya jauh lebih layak untuk dibicarakan.

Bahkan kadang kita sudah merasa segalanya bila yang kita bicarakan, yang kita agendakan, dan yang kita urus adalah permasalahan umat. Tapi kita justru lupa dan lalai mengagendakan, mengurus, dan membina diri kita sendiri.
Tentunya kita tak ingin seperti lilin, mampu menyinari sekitar tapi sendirinya berakhir pudar.

Maka diantara kekurangan yang tersemat dalam diri kita adalah sikap fanatik. Setiap manusia dicipta oleh Allah dengan memiliki bawaan sikap fanatik. Yang membedakan hanya satu, kadar fanatisme masing-masing.

Dari mana kita tahu bahwa kita memiliki sikap fanatik? Ya coba saja lihat apa yang menurut kita berharga dan kita hargai tiba-tiba dianggap tak berharga dan tak dihargai oleh orang lain? Apa yang sekonyong-konyong muncul dari dalam hati kita?

Baca juga:  Dunia Kerelawanan: Pesona Bendera Yang Tak Boleh Pudar

Maka jawaban kita itulah bukti bahwa kita semua menyimpan fanatisme. Bahkan sekadar tulisan nama kita saja yang dihinakan maka muncul pembelaan dari kita si pemilik nama.

Tapi apakah lantas kita harus lenyapkan semua sikap fanatik kita, dan apakah kita bisa?

Tentunya bukan lantas seperti ini pertanyaan yang kita lontarkan. Sebab pertanyaan seperti itu tak muncul kecuali dari sikap kekanak-kanakan kita.

Sebelum kita menemukan jawabannya, maka sangatlah baik dan bijak untuk mempelajari hikmah yang tersimpan indah dibalik larangan syariat atas sikap fanatik. Pendeknya, kenapa kita dilarang bersikap fanatik?

Kita tahu bahwa sikap fanatik adalah kecenderungan kuat dan berlebihan dalam meyakini sesuatu hingga pada tahap dukungan dan pembelaan, bahkan pada akhirnya muncul sikap tak bisa meyakini pendapat lain.

Tapi coba kita tengok alquran, bahkan Allah sudah sangat halusnya memberikan isyarat jauh lebih detil, bahwa sikap fanatik tak akan muncul kecuali bila sikap ujub dan bangga diri lebih dulu muncul. Inilah dia biang keroknya, ujub atau berbangga diri.

“Setiap kelompok berbangga diri atas apa yang mereka miliki.”

Sejatinya ada dua hal yang dibenci oleh Allah dari perilaku orang kafir dalam ayat tersebut. Pertama, mudah berpecah dalam kelompok-kelompok, dan kedua, sikap ujub yang melekat pada masing-masing kelompok.

Larangan pertama sudah pasti hal yang sangat buruk, namun kita paham bahwa ujian berpecah termasuk sunnatullah yang Allah berlakukan pada kita sebagaimana banyak isyarat dalam ayat maupun hadits. Kita sudah tak mungkin lagi menghindar dan menolaknya. Maka dari itulah Allah banyak memberikan nasihat agar kita tak bercerai-berai, tapi jikapun kita gagal bersatu dan akhirnya berpecah, maka nasihat berikutnya adalah kita jaga diri kita agar tak berisik, apalagi bertengkar tak berkesudahan.

Kita diwajibkan agar mampu mengendalikan diri di saat-saat berpecah. Dan bukan meratapinya meskipun perpecahan itu akibat ulah kita sendiri. Sebab ratapan kita hanya akan memperpanjang masalah kita sendiri. Lalu tiba-tiba kita bicara masalah umat?

Sedang larangan kedua biasanya muncul akibat kesalahan kita berpecah-belah. Sebab sudah sangat manusiawi bila setiap yang berpecah akan menyimpan sikap ujub dan berbangga diri pada kelompoknya masing-masing. Dan bahaya berikutnya sudah siap mengintai, yaitu munculnnya sikap fanatik.

Baca juga:  Dunia Kerelawanan: Idealisme, Berlian Tenggelam di Dasar Lumpur

Bahwa kita tak akan fanatik bila tak ada yang kita banggakan dari diri kita dan dari komunitas kita. Umumnya kita akan tergoda membanggakan bahkan sekadar nama dan bendera komunitas kita, apalagi jika terkait dengan program-program komunitas kita, kontribusi-kontribusi komunitas kita, karya-karya komunitas kita, sumbangan-sumbangan komunitas kita, perjuangan-perjuangan komunitas kita, bantuan-bantuan komunitas kita, dan lain sebagainya. Kita umumnya tergoda membanggakan itu semua. Kita umumnya jatuh dan terperangkap dalam jebakan ujub atas apa yang kita punya.

Dan tahukah apa yang berikutnya kita lakukan setelah jebakan ujub dan bangga diri?

Saat kita ujub dan berbangga diri atas apa yang kita punya, maka di saat yang sama kita tak akan bisa membanggakan apa yang orang lain punya.

Bila kita sudah membanggakan program dan karya komunitas kita maka akan sulit sekali bagi kita untuk membanggakan program dan karya komunitas lain. Yang kerap terjadi justru meremehkan dan merendahkan program dan karya komunitas lain, bahkan tak jarang hingga menihilkan program dan karyanya. Lalu mana mungkin di saat seperti itu kita bicara sinergi? Di saat kita tak lagi bisa menghargai program dan karya komunitas lain lalu mana mungkin kita pasang tagar sinergi sampai mati?

Dan saat kita tak menghargai program dan karya orang lain maka kecenderungan berikutnya semakin bertambah parah, bahwa segala kekurangan program dan karya kita tak lagi kita lihat sebagai kekurangan. Di mata dan pikiran kita akan selalu terlihat the best. Dan saat itu jugalah kita akan menolak semua masukan dan pandangan komunitas lain. Seakan tak ada program dan karya, bahkan seakan tak ada visi dan misi sebaik komunitas kita.

Tapi apa mungkin kita mampu bersinergi dengan melihat semua perbedaan yang ada?

Tentunya akan tetap sebagai mimpi di atas pelangi bila kita masih tetap merawat rasa ujub dan bangga diri.