Awal-awal pada tahun 80-an jama'ah tabligh ketika khuruj acapkali selain membawa bekal baju dan peralatan mandi juga peralatan masak seperti kompor, panci dll hingga bahan makanan seperti beras, sehingga pernah dikenal sebagai jama'ah kompor.

Mengenal Serta Mengambil Beberapa Pelajaran Dari Jama'ah Tabligh
Foto oleh Hamid Roshaan 🇵🇰 di Unsplash

Sebagian besar ummat Islam di Indonesia bahkan mungkin di dunia mengenal jama’ah yang memiliki kebiasaan khuruj atau dalam bahasa kita artinya keluar. Kebiasaan atau aturan main bisa juga disebut program dalam jama’ah tersebut diantaranya 3 hari, 40 hari dan 4 bulan. Jama’ah yang keluar dari rumahnya meninggalkan anggota keluarganya (istri dan anak) menuju ke suatu daerah tertentu, bisa dekat bisa juga jauh lintas provinsi bahkan lintas negara dan atau benua.

Kegiatan yang dilakukan antara lain malam bina iman (mabit) di masjid atau musholla, tadarrus Al-Qur’an, mudzakarah, Sholat wajib dan Sunnah termasuk qiyamullail. Selain itu sebelum ada pandemi Covid 19, ba’da Ashar mereka bersilaturahmi ke rumah-rumah menemui Bapak-bapak untuk mengajak Sholat wajib berjama’ah di masjid atau musholla sekaligus memakmurkan masjid, itulah maka dikenal sebagai jama’ah tabligh.

Awal-awal pada tahun 80-an jama’ah tabligh ketika khuruj acapkali selain membawa bekal baju dan peralatan mandi juga peralatan masak seperti kompor, panci, dan lainnya hingga bahan makanan seperti beras, sehingga pernah dikenal sebagai jama’ah kompor. Sungguh pun demikian, mereka tetap tak pernah tersinggung atau marah dengan gelar atau penamaan dari masyarakat terhadap jama’ah tersebut.

Pastinya bahwa penamaan “jama’ah tabligh, jama’ah kompor, jama’ah jenggot, jama’ah celana cingkrang, dan lain sebagainnya, itu penamaan yang datang dari masyarakat bukan dari kelompok internal jama’ah, mereka tidak pernah mempersoalkan semua itu, mereka menamakan kelompoknya adalah sebagai “Jama’ah Islam.”

Tak jarang mereka mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan, seperti masih adanya pandangan miring dan cemo’ohan tentang penampilan berjenggot juga celana cingkrang, padahal semua itu tidak ada sedikitpun bertentangan dengan ajaran Islam. Selain dari itu sampai hari ini masih sering pula mendapat penolakan dari Pengurus Masjid jika meminta izin mabit dengan berbagai alasan, mereka tetap tak pernah marah atau memaksa untuk bisa diterima, tetapi mereka mencari alternatif ke masjid atau musholla lain yang mau menerimanya.

Baca juga:  Tim BIK Peduli Dalam Upaya Perbaikan Kondisi Dusun Palada Kabupaten Mamuju Pasca Gempa

Melalui atau sababiyah jama’ah ini, beberapa orang yang tadinya berprilaku menyimpang apapun profesinya, mereka hijrah ke jalan yang sesuai tuntunan Allah, mereka tinggalkan kebiasaan lama dan lebih memilih kebiasaan baru yang lebih baik, salah satu diantaranya sebagai orang yang terkenal, yaitu Roker (alm.) Gito Rollies hijrah masuk ke Jama’ah Islam ini dan Insyaallah Husnul khatimah.

Kode etik bagi jama’ah dan karakteristik khas pada jama’ah.

  1. Tidak diperkenankan berpolitik praktis.
  2. Tidak diperkenankan menyinggung soal khilafiyah.
  3. Tidak diperkenankan menyinggung soal status sosial.
  4. Tidak diperkenankan untuk memaksakan keinginan.
  5. Mengajak orang lain yang seagama (sesama muslim) untuk meningkatkan iman dan implementasinya (taqwa).
  6. Berbuat dengan orientasi mencari ridho Allah (Mardhotillah)
  7. Mengajak dirinya, keluarganya dan saudara sesama muslim untuk menghidupkan Sunnah Rasulullah Muhammad ﷺ.

Ada beberapa ciri-ciri yang menonjol bagi jama’ah, diantaranya.

  1. Mereka terbiasa berpakaian budaya orang India atau Pakistan serta Bangladesh karena jama’ah ini lebih berkembang pesat di negara tersebut, sebagian juga senang berpakaian budaya Arab Saudi yakni baju gamis atau jubah. Semua itu jama’ah lakukan dengan alasan kuat dengan berpakaian tersebut dapat menjaga diri dari kemaksiatan, sebab dengan pakaian seperti itu banyak kesan masyarakat sebagai pakaian ahli masjid. Itulah maka harapan mereka tetap terjaga dari perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama Islam.
  2. Hidup sopan dan santun serta mengalah juga lebih menghindari debat kusir, berpolemik apalagi konflik, mereka lebih memilih sikap harmonis.
  3. Senang menghidupkan perilaku kebersamaan, seperti makan bersama satu nampan dengan menggunakan tangan, gemar hidup saling menolong (tolong menolong dalam kebaikan).
  4. Gemar bersilaturahmi, dengan menjenguk saudaranya yang sakit serta mereka memiliki agenda pertemuan untuk muhasabah, yakni mereview diri masing-masing tentang “apa saja kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan untuk dirinya, keluarganya dan masyarakat untuk kebaikan sesuai ajaran Islam”.
  5. Tetap berusaha untuk kehidupan dunia, dengan ikhtiar atau usaha yang halal kendati sederhana, umumnya “dagang” walaupun ada pula yang menjadi pegawai negeri atau swasta.
Baca juga:  Arif Jamali Muis: Warga Persyarikatan Muhammadiyah Jangan Takut Divaksin

Points pembelajaran penting apa yang dapat kita ambil?

Menurut pandangan subyektif penulis, points pembelajaran penting yang dapat kita ambil antara lain:

  1. Mereka hidup menghindari sifat “Hubbud Dunya”
  2. Prioritas mengumpulkan bekal hidup setelah mati (kehidupan akhirat) dengan tidak meninggalkan bekal hidup di dunia.
  3. Seluruh aktivitas bertujuan mencari Ridho Allah (Mardhotillah).
  4. Kehidupan dalam kesederhanaan dan ketenangan bersama Allah ﷻ, dalam kehidupan mereka (jama’ah islam) itu mengedepankan kebahagiaan akherat yang berimbas kepada kebahagiaan kehidupan dunia.