Yang kaya berlapang dada dan tak jumawa, sedang yang tak berpunya juga berlapang dada tak mau mengemis dan meminta-minta.

Andai Semua Berlapang Dada
Foto oleh Artem Beliaikin di Unsplash

Suatu saat kita akan protes dan merasa tak terima dengan sebuah kenyataan yang tak sesuai dengan harapan kita. Kadang atas sebuah keputusan yang diambil orang lain, atau aturan yang dibuat oleh orang lain, atau juga kebijakan yang dibikin oleh orang lain. Semuanya bila sudah tak lagi sesuai dengan ilmu, referensi, dan pengalaman kita maka biasanya kita akan protes dan tak terima.

Lalu muncullah percik-percik api pertentangan yang bila tak terkendali lagi bisa berubah menjadi kobaran api yang sangat menakutkan. Api yang sudah terlanjur kita biarkan membesar akan menghanguskan apa saja. Bahkan sebuah bangunan besar yang telah dengan susah-payah kita bangun bertahun-tahun pun akan musnah dalam sekejap.

Sebuah percik protes yang tak segera dikendalikan bisa berakibat buruk dan sangat fatal.

Kita semua harus mengerti bahwa tak mungkin pernah terjadi satu kumpulan manusia seperti kita lalu semua sama persis. Ilmu sama, perilaku sama, karakter sama, tabiat dan watak sama, dan apapun serba sama. Mustahil itu ada. Dan bila ada orang percaya itu bisa diadakan maka bisa dipastikan ia tak memang tak pernah berkumpul dengan siapapun, tak pernah bergaul dengan siapapun, tak pernah berkomunikasi dengan siapapun, tak pernah berinteraksi dengan siapapun, atau bahkan yang paling sederhana ia tak pernah berbicara dan bercakap dengan siapapun.

Baca juga:  Dewan Dakwah DKI Jakarta: Lorong Cinta Dan Kemanusiaan Antara Gaza Dan Jakarta

Oleh karenanya ia menyangka bahwa siapapun akan bisa seperti dirinya. Dan ini akan menjadi semakin buruk saat setiap orang juga berkeyakinan yang sama. Bayangkan bila ada seribu orang dengan masing-masing punya keyakinan yang sama, apa yang akan terjadi bila mereka berkumpul hendak merumuskan pekerjaan untuk mencapai tujuan yang sama?

Dulu atas bimbingan dan petunjuk dari Allah maka Rasulullah ﷺ mampu merumuskan satu proyek demi menyelamatkan manusia satu kota, dan terutama menyelamatkan misi dakwah robbaniyah, yaitu risalah agama Islam. Rumusan proyek yang bisa menerima orang yang tak sama, dan juga diterima oleh orang yang juga tak sama. Bahkan orang yang tak sama tersebut adalah orang kafir sekalipun.

Bukankah Piagam Madinah mengikat semua orang yang berada di Kota Madinah?

Bahkan yang jauh lebih dahsyat dari proyek tersebut adalah pembuatan resep persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajirin sampai-sampai keindahan persaudaraan mereka Allah abadikan dalam ayat-ayat alquran. Tak ada persaudaraan seindah mereka. Yang kaya berlapang dada dan tak jumawa, sedang yang tak berpunya juga berlapang dada tak mau mengemis dan meminta-minta.

Persaudaraan internal antara kaum Anshar dan Muhajirin inilah contoh dan teladan umat sepanjang masa. Tak ada level teladan akan pengorbanan setinggi level pengorbanan orang-orang Anshar. Meski begitu, tak ada terdengar kabar mereka merasa berhak atas ini itu daripada orang-orang Muhajirin dengan dalih dan alasan mereka yang telah banyak berkorban menjadi penyelamat orang-orang Muhajirin.

Baca juga:  Dewan Dakwah Mengirim 123 Dai Dan Daiyah Ke Berbagai Pelosok Tanah Air

Kontribusi mereka yang sangat banyak dalam perjuangan menyelamatkan misi kenabian di awal-awal hijrah tak lantas mendorong mereka hingga bernafsu untuk menjadi lebih mendapatkan prioritas apapun di sisi Rasulullah ﷺ. Bahkan tak pernah ada cerita mereka protes kepada Rasulullah ﷺ saat beliau bersabda, “al aimmatu min quraisy.”

“Para pemimpin umat itu dari kaum Qurasy.”

Tak pernah terdengar kabar mereka mempertanyakan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ semisal,
“Kenapa bukan kami yang dipilih dan disebut? Kenapa justru Quraisy? Bukankah kami yang banyak berkontribusi buat Islam dengan menolong orang-orang Muhajirin yang datang berhijrah tak membawa apa-apa? Kenapa tetap orang Qurasy yang berhak?”

Kaum muslimin Qurasy pun tak ada yang menjadikan sabda Rasulullah ﷺ tersebut sebagai bahan menyombongkan diri dan mengatakan bahwa mereka berhak karena lebih baik.

Semua mampu mengendalikan diri dengan cara berlapang dada.

Ibarat tatanan batu bata, saat masing-masing mau menempati dan ditempatkan dimanapun agar terbentuk satu bangunan yang baik dan kokoh maka bangunan tersebut akan sedap dipandang mata, sekaligus berfungsi sebagaimana mestinya.

Tapi, tetap saja saling berlapang dada termasuk pekerjaan paling sulit.