Ada kalanya orang lain banyak berbeda dengan kita, tapi boleh jadi kita sendiri yang banyak berbeda dengan orang lain.

Saatnya Kita Belajar Adab Tahu Diri
Foto oleh Scarbor Siu di Unsplash

Masih tentang perilaku kita yang terbentuk dari informasi yang kita terima. Yang kadang mendewasakan, tetapi kadang juga menjadi sangat menyebalkan dan menyusahkan. Ternyata sumber referensi dan pengalaman sangatlah penting kita perhatikan.

Saat kita mulai berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain maka sudah lumrah kita akan jumpai banyak ragam perilaku orang yang tak sama dengan kita. Ada kalanya orang lain banyak berbeda dengan kita, tapi boleh jadi kita sendiri yang banyak berbeda dengan orang lain. Maka saat itulah riak-riak pertentangan mulai tampak.

Kita mampu mengendalikan atau tidak tergantung dari bagaimana perilaku kita dalam bersikap. Dan itu sudah pasti dipengaruhi oleh referensi dan pengalaman yang kita punya. Makin banyak dan berbobot referensi dan pengalaman kita maka makin memudahkan kita untuk bijak dalam sikap. Sebaliknya jika referensi dan pengalaman kita sangat minim dan itu itu saja maka kita akan kesulitan bersikap bijak dan dewasa. Akhirnya ada diantara kita yang tahu siapa dirinya dan ada juga diantara kita yang tak tahu siapa dirinya. Maka sungguh bijak perkataan seorang alim nan bijak saat berkata.

Orang itu ada empat model:

  • Ada orang yang tahu dan ia sadar dirinya tahu.
  • Ada yang tahu dan ia tidak sadar jika dirinya tahu.
  • Ada yang tidak tahu dan ia tahu jika dirinya tidak tahu, dan.
  • Ada yang tidak tahu dan ia tidak tahu jika dirinya tidak tahu.
Baca juga:  Dunia Kerelawanan: Idealisme, Berlian Tenggelam di Dasar Lumpur

Maka orang model terakhir itulah yang menyusahkan. Hampir semua orang akan terdampak susah jika sudah berinteraksi dengannya. Lekat padanya sikap-sikap merasa tahu ilmunya, merasa banyak pengalamannya, merasa benar sendiri dan baik sendiri. Bahkan tak pernah bisa mengalah padahal demi kemaslahatan bersama.

Ibarat satu batu bata yang berbeda bentuk dengan semua batu bata yang sudah tertata rapi, ia tak bisa menempatkan dirinya pada ruang kosong agar bisa bersama-sama memperkuat bangunan tersebab ia tak mau mengalah untuk sedikit saja mengubah bentuk. Pada akhirnya bangunan tersebut tak sedap dipandang mata hanya gara-gara satu batu bata yang tak tahu diri.