Pengurus Pusat Wanita Islam, senin tanggal 15 Februari kemarin menyampaikan pernyataan sikap. Disampaikan langsung oleh Ketua umum dan Sekretaris umumnya, Dra. Hj. Marfuah Mustofa, M.Pd dan Dr. Hanip Pujiati.

Wanita Islam Menilai Pelaporan Din Syamsudian
Ketua Umum Wanita Islam – Dra. Hj. Marfuah Mustofa, M.Pd

Prof. Dr. Din Syamsudin adalah tokoh dan aset bangsa yang sangat penting. Kiprah dan keberpihakannya pada isu-isu kemanusiaan dan keumatan sangat luas dan diakui oleh banyak pihak. Tokoh-tokoh lintas agama juga paham rekam jejak Din Syamsudin yang memiliki komitmen tinggi pada penghormatan atas keragaman dan kerukunan antar umat beragama.

Dharma baktinya pada Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak berhenti hanya sekedar menjadi intelektual menara gading yang terperangkap dalam wacana dan idealisme akademis. Prof. Dr. Din Syamsudin melompat jauh dari itu semua dengan terjun memimpin Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar yang menjadi pilar penting bagi tegak dan majunya NKRI melalui ratusan ribu amal usahanya.

Kiprah dan ketokohan Pak Din tak sekedar diakui di Muhammadiyah, beliau bahkan pernah memimpin organisasi ke-islaman yang paling otoritatif di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia. Di sana para alim ulama, cerdik pandai dari berbagai Ormas ke-Islaman se-Indonesia berhimpun. Din Syamsudin bahkan termasuk tokoh sentral dalam barisan pemimpin umat lintas agama yang menggagas berbagai dialog strategis menuju kerukunan-membangun toleransi di Indonesia. Kiprahnya dalam isu membangun sikap saling memahami dan kerukunan antar iman bahkan ia perankan hingga tataran internasional.

Maka sungguh ngawur dan tidak senonoh, jika pemimpin umat sekaliber beliau dituding bahkan dilaporkan oleh Gerakan Anti Radikalisme ITB, sebagai sosok radikalis! Tudingan ini sungguh serius, bukan hanya bagi pribadi Din Syamsudin tapi juga bagi Muhammadiyah dan MUI, apakah mungkin dua Ormas Islam yang sangat berpengaruh ini pernah dipimpin oleh sosok yang radikal?

Baca juga:  Pernyataan Sikap Pengurus Pusat Wanita Islam Terhadap Agresi Zionis Israel - Palestina

Menyikapi masalah ini serta memandang bahwa kasus ini berpotensi memiliki implikasi luas. Pengurus Pusat Wanita Islam, senin tanggal 15 Februari kemarin menyampaikan pernyataan sikap. Disampaikan langsung oleh Ketua umum dan Sekretaris umumnya, Dra. Hj. Marfuah Mustofa, M.Pd dan Dr. Hanip Pujiati.

Ada lima aspek penting yang disampaikan oleh Pengurus Pusat Wanita Islam dalam pernyataan sikapnya itu:

Pertama, Wanita Islam memandang laporan yang dilakukan oleh Gerakan Anti Radikalisme Alumni Institut Teknologi Bandung (GAR ITB) terhadap Prof. Dr. Din Syamsudin, MA tentang pelanggaran yang substansial atas norma dasar kode etik dan kode pelanggaran ASN dan atau pelanggaran disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS) kepada BKN&KASN pada bulan Oktober 2020 telah menggiring opini publik bahwa Prof. Dr. Din Syamsudin, MA adalah tokoh radikal atau pengusung radikalisme. Hal ini merupakan pembunuhan karakter (character assassination) yang telah menyakiti hati umat muslim Indonesia.

Kedua, Apa yang dilakukan oleh Prof Dr. Din Syamsuddin, MA selama ini terkait keterlibatannya dalam berbagai aktifitas sosial politik yang kerap menyampaikan kritik kepada pemerintah, bukanlah sebuah bentuk sikap radikalisme ,tapi merupakan bagian dari dakwah amar makruf nahi mungkar, serta untuk memperkuat iklim demokrasi di Indonesia yang meniscayakan adanya koreksi, kritik dan masukan dari masyarakat sipil (civil society) terhadap pemerintah yang berkuasa, berdasarkan konstitusi UUD 1945 dan ideologi Pancasila.

Baca juga:  Dunia Kerelawanan: Mimpi Bersinergi di Atas Pelangi

Ketiga, Wanita Islam meminta kepada pemerintah untuk tidak memproses dan menindaklanjuti laporan dari GAR ITB karena apa yang disampaikan oleh Prof. Dr. Din Syamsudin merupakan kebebasan berekspresi, berkumpul, berserikat dan menyampaikan pendapat yang dijamin oleh UUD 1945.

Keempat, mendesak pemerintah untuk tidak menjadikan stigma radikalisme sebagai alat untuk membungkam daya kritis masyarakat, karena itu akan mematikan demokrasi dan mendorong iklim otoritarianisme dalam tata kelola pemerintah.

Terakhir atas nama Wanita Islam Marfuah Mustofa menyampaikan ajakan kepada semua Organisasi Masyarakat agar terus berperan aktif melalukan sosialiasi dan edukasi pada masyarakat agar tidak terjebak kepada pemahaman keagamaan yang mendorong sikap ekstrimisme dan tindakan intoleran.