Akhir-akhir ini kerap kita dengan berita tentang tindakan sadis yang susah diterima akal sehat. Ada anak yang tega membunuh orang tua kandungnya, ada ayah yang tega menghamili anak sendiri. Membunuh orang lain sekedar untuk menguasai HP-nya. Begitu tipis, jarak perilaku manusia dan binatang. Kita semua bisa terjebak dalam situasi itu.

Agar Kualitas Kemanusiaan Tak Runtuh
Foto oleh Matt Collamer di Unsplash

Sebenarnya tipis saja beda manusia dengan bintang. Manusia punya tubuh, binatang juga memilikinya. Sapi memiliki telinga, manusia juga punya telinga. Bintang lain punya otak, manusia juga dilengkapi dengan otak. Manusia memiliki jantung, demikian pula dengan binatang. Bentuknya beda, namun kita tetap bisa mengenali organ-organ itu pada bintang lain yang berbeda.

Fungsinya juga relatif sama. Telinga sudah barang tentu untuk mendengar. Mata, fungsi dasarnya sama antara mata manusia dan mata binatang, yakni untuk melihat. Hidung, sama-sama untuk mengindera bau dan menarik nafas pada beberapa jenis binatang.

Bedanya pada kesadaran yang timbul atas objek yang diindera. Telinga kita bisa dengan mudah membedakan antara musik dangdut dan keroncong. Telinga sapi mungkin tak mampu membedakannya. Mata manusia bisa mengenali mana istrinya dan mana istri orang lain. Sementara kambing, meski sama-sama melihat, tapi ia tak bisa membedakan mana istrinya dan mana istri kambing lain.

Kesadaran inilah yang mampu membedakan hasil penginderaan manusia dan binatang atas suatu objek. Sama-sama melihat uang, kesadaran antara tikus dan manusia berbeda terkait objek itu. Tikus tak pernah mata duitan, tapi celakanya tikus kerap dibawa-bawa dan menjadi julukan bagi manusia penggerogot anggaran negara atau perusahaan. Tikus tak tahu sama sekali urusan-urusan itu, karena tidak memiliki kesadaran komponen otak.

Kesadaran ini muncul dari ruhani manusia yang bersifat khas dan berbeda dengan makhluk Allah yang lain.

“Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.” — QS. Sad:72

Menurut ahli tafsir, ruh yang ditiupkan oleh Allah inilah yang membuat manusia memiliki pemahaman dan kesadaran. Membuat otak manusia bisa berpikir, membuat hati manusia bisa merasakan dan membuat semua penginderaan manusia tertaut dengan suatu kesadaran tertentu.

Jika manusia lalai menggunakan pikiran, hati dan penginderaan yang berkesadaran ini, maka status kemanusiaannya bakal runtuh terjerembab dalam kondisi yang sama dengan binatang. Hati yang gagal merasa, otak yang tak mampu memproduksi pemikiran, dan penginderaan yang terputus dari dimensi kesadaran.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” — Q.S. Al A’raf:179

Mengapa sama-sama memiliki ruhani atau akal budi tetapi ada orang yang bisa menapaki ketinggian ruhani dan menjadi manusia yang baik di sisi Allah dan manusia, dengan kemampuannya menggunakan hati, pendengaran dan penglihatan sebaik mungkin. Sementara di sisi yang lain ada orang-orang yang bergelimang dosa dan berkubang dalam kejahilan dan jatuh kualitas kemanusiaannya?

Baca juga:  Di Jerman Semakin Banyak Perusahaan Berinvestasi Pada Produk Halal

Ada beberapa faktor yang memunculkan situasi tersebut:

Pertama, karena hidayah Allah. Ini faktor yang sangat penting dan menentukan. Karenanya manusia dianjurkan untuk selalu berdoa agar Allah memberikan taufik dan hidayah kepadanya. Sesungguhnya petunjuk telah Allah berikan kepada semua manusia, sebagai bentuk dari sifat adil dan rahman-rahim Allah ﷻ. Namun karena ego, kesombongan dan keengganan untuk menerima kebenaran petunjuk Allah, maka bagi beberapa manusia tertutuplah pintu hidayah itu.

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” — QS. Al Qashash: 56

Kedua, berpikir. Maksud berpikir dalam risalah ini adalah menggunakan kesadaran kritis kita sebagai mkhluk yang memiliki kemampuan berpikir ilmiah dan ruhaniah sekaligus. Kejadian manusia adalah makhluk yang berdimensi fisik, tetapi juga makhluk yang memiliki anasir ruhaniah sekaligus.

Berpikir yang dimaksudkan disini tak semata-mata dalam konteks menalar fakta dan relasi yang bersifat nyata dan fisik. Jika sekedar ini yang dilakukan, manusia hanya akan pintar secara logis dan saintifik. Banyak ilmuwan yang gagal mendapatkan hidayah karena mereka menepis semua hal yang tidak nyata. Mereka tidak percaya adanya keghaiban dan kuasa Allah dalam setiap fakta dan fenomena. Berpikir ala ilmuwan matrialis yang sekedar bersandar pada fakta-fakta empiris dan rasional sesungguhnya mematikan potensi ruhani yang akan membawa manusia pada hidayah dan kebenaran hakiki.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” — QS. Ali Imran:190-191

Jika kemudian pada ayat-ayat lain Allah menyindir manusia dengan pertanyaan “Tidakkah engkau berpikir? Agar kamu berpikir, mengapa tidak kau pikirkan?” Dan lain-lain redaksinya. Sesungguhnya dalam konteks keterpaduan analisis kritis, rasionalitas akal dan kecerdasan ruhaniah dalam menautkan semua fakta dalam kongklusi pengetahuan sekaligus keberimanan kepada kebenaran Allah ﷻ.

Baca juga:  Daulat Ekonomi Di Tengah Pusaran Kuat Kapitalisme Global

Jika manusia membatasi diri sekedar percaya dan memikirkan hal-hal yang empiris dan tampak, maka sesungguhnya kita telah menutup diri dari petunjuk. Faktanya, alam ini terbentang dari hal-hal yang tampak dan hal-hal yang tidak tampak, menyatu dalam wujud dan fenomena alam. Mengingkari hal-hal yang tidak tampak akan membuat kesimpulan pemikiran menjadi tak menyeluruh. Dari hasil pemikiran yang tak menyeluruh itu, akan lahir kebijakan yang memiliki cacat bawaan, maju berkembang secara fisik namun kering spiritualitas dan mengancam kelestarian hidup

Ketiga, Pemenuhan kebutuhan ruhani. Allah telah menciptakan kejadian manusia sebagai makhluk sempurna dengan potensi ruhaninya. Sayangnya banyak orang yang kemudian abai untuk menjaga dan memenuhi kebutuhan ruhani tersebut. Paradigma hidup kebendaan telah membutakan manusia bahwa ia memiliki potensi ruhani yang mesti dirawat dan dipenuhi kebutuhannya.

Ibadah adalah kebutuhan ruhani yang utama. Makin kuat ibadah kita dan ikhlas karena Allah, maka akan makin sehatlah kondisi ruhani kita. Jika ruhani manusia sehat, maka hidayah dan petunjuk Allah makin mudah kita terima. Nah, ruhani yang sehat dan kuat ini pula yang akan memberikan pertimbangan-pertimbangan spiritual dalam setiap keputusan dan proses berpikir manusia.

Dalam kata lain, batin dan ruhani akan cerdas dengan ibadah. Sementara ruhani dan batin manusia akan bebal manakala tak pernah diberi asupan dalam bentuk peribadatan. Karenanya, perbanyaklah ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah dengan zikir, tilawah dan puasa agar ruhani kita kuat dan memancarkan daya-daya spiritual yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan hidup.

Makin sering terdengar tindak kriminalitas yang sangat sadis dan tak manusiawi adalah konsekwensi langsung manakala manusia yang diberi kesadaran akal dan ruhani tidak digunakan secara optimal dan seimbang. Mereka itu akan seperti binatang ternak, bahkan lebih buruk lagi, begitulah penggambaran Allah mensinyalir fenomena ini.

Wallahu’alam