Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-Asr 1-3)

Apa Sesunggunya Masa Atau Waktu Itu
Photo by Alex Guillaume on Unsplash

Apa sesunggunya masa atau waktu? Tidak banyak diantara kita yang benar-benar secara arif dapat memahami makna waktu. Ia seakan berjalan lambat, tapi banyak zaman dan dinasti besar yang telah ditelannya. Sehingga yang tersisa tinggal puing sejarah dan batu nisan yang teronggok bisu dalam lipatan waktu.

Syahdan, raja dan para penguasa besar terobsesi untuk bisa mengalahkan waktu. Mereka selalu punya mimpi bahkan ambisi tentang keabadian dan kelanggengan kekuasaan. Tapi waktu tidak pernah mentoleransi ambisi itu. Semua penguasa hebat dan orang-orang terkaya di dunia tidak pernah mampu menundukkan waktu dengan semua kekuasaan dan kekayaan yang mereka miliki. Mereka tidak bisa mencegah berlalunya waktu dan datangnya generasi baru.

Terlepas dari kegagalan untuk menundukkan waktu, para penguasa tersebut paling tidak telah mampu memaksimalkan anugerah waktu yang melintas di dalam hidupnya secara baik. Sehingga mereka mampu menapaki jenjang sosial, ekonomi dan mungkin kekuasaan melampaui orang-orang kebanyakan. Dengan kata lain mereka sukses memanfaatkan waktu, setidaknya untuk urusan duniawi.

Yang paling celaka dalam catatan waktu adalah orang-orang yang sesungguhnya memiliki jatah waktu yang sama dengan orang lain, namun tiada sedikitpun kebaikan dan prestasi yang dapat mereka rengkuh. Kualitas hidupnya hari ini ternyata lebih buruk dari kemarin dan besok akan lebih buruk lagi daripada hari ini.

Inilah potret manusia yang naas dalam kerugian. Ia akan terpental dari putaran sosial dan dilupakan dalam setiap lipatan waktu. Dalam catatan dan perputaran waktu pula, manusia model ini akan selalu menjadi masalah bagi orang lain. Hidup dirasakannya sebagai beban. Di setiap pertambahan waktu beban itu terasa pula kian berat, padahal mestinya hidup adalah anugerah terindah.

Baca juga:  Arab Saudi Berencana Akan Membangun Kota Tanpa Emisi

Memasuki masa akhir tahun ini, nampaknya perlu kita perteguh kembali komitmen untuk memanfaatkan sumber daya waktu yang ada secara lebih optimal. Agar realitas keberadaan kita tidak hancur dalam cincangan waktu yang pada setiap saatnya bisa berubah menjadi mata pedang, sebagaimana ungkapan terkenal Imam Syafi’i: “Waktu bagaikan pedang, jika kamu tak menebasnya, maka dialah yang akan menebasmu”

Harus kita sadari, bahwa eksistensi manusia terbatasi oleh realitas ruang dan waktu. Tidak mungkin manusia bisa keluar dari perangkap ruang dan waktu. Dalam hal ini waktu memang bukan untuk dikalahkan, tapi waktu harus digunakan seefektif mungkin, karena meski nampak lambat, sesungguhnya waktu adalah anak panah yang melesat meninggalkan busurnya, ia melintas dan maju kedepan dan tidak akan pernah ada pengulangan waktu.

Waktu adalah modal, waktu adalah sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Ajaran Islam begitu kuat mengingatkan kaum muslimin tentang esensi waktu dan pemanfaatannya. Tapi ironisnya di negeri ini justru umat Islam yang abai terhadap nilai waktu. Sumber daya waktu kerap mubazir dan gagal disyukuri sebagai sebuah anegerah dan sumber daya.

Pada akhirnya, siapa diri kita, siapa perusahaan kita, dan siapa negara kita, jawabanya akan sangat terkait dengan cara kita dalam mempersepsi dan memanfaatkan waktu. Apakah kita termasuk mereka yang sekedar rugi, atau bahkan telah lumat dalam cincangan waktu?

Baca juga:  Pertanyaan Diujung Sakaratul Maut

Di akhir tahun ini tanyalah pada dirimu masing-masing tentang waktu yang telah diberikan, kau isi dengan apa pada setiap lembarannya yang telah berlalu.

Al-Quran memberikan indikator yang sederhana: Keberimanan, amal shalih, nasehat-menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran. Kamukah itu?