Banyak kalangan yang akhir-akhir ini suka menyalahkan hujan. Bencana banjir dan longsor yang susul menyusul dianggap sebagai kesalahan hujan. Padahal ajaran Islam menyebutkan bahwa hujan adalah rahmat Allah. Benarkah hujan tak lagi jadi rahmat?

Foto oleh Andrew Spencer di Unsplash

Kita sudah terbiasa dengan rintik hujan sepanjang bulan Januari dan Februari. Hampir saban tahun siklus ini terus terulang. Negara tropis umumnya memang memiliki curah hujan yang tinggi dan musim kemarau yang mestinya lebih singkat. Indonesia termasuk salah satu negara dengan iklim hutan hujan tropis.

Menurut para ahli, curah hujan yang tinggi membuat negara tropis pada umumnya memiliki aneka jenis tanaman dan hewan yang sangat beragam. Indonesia begitu kaya dengan aneka tumbuhan yang menjadi khazanah kekayaan alam hutan. Dari sejumlah jenis tanaman yang hidup di Indonesia, baru diperkirakan 20 persen yang sudah dikenali. Artinya masih begitu banyak tanaman yang belum dikenali jenis dan manfaatnya.

Faktor hujanlah yang membuat aneka ragam kehidupan flora dan fauna bisa tumbuh dan berkembang biak menjadi kekayaan hayati yang luar biasa bagi negara kita. Hujan yang kemudian tersimpan menjadi air tanah membuat ladang-ladang pertanian dan persawahan kita menjadi subur makmur. Ini yang membuat tanah Indonesia diibaratkan oleh grup musik legendari Koesplus sebagai tanah syurga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Karena curah hujan yang tinggi pula, membuat negara kita kaya dengan sungai. Air di dalam sungai telah begitu lama menjadi bagian penting dari sejarah peradaban bangsa kita. Kerajaan dan kota-kota besar tumbuh sepanjang aliran sungai, tanahnya subur dan transportasi air yang membuat sejarah kita berkembang di sepanjang aliran sungai.

Tahukah anda berapa anak sungai yang melintasi Kota Jakarta, Ibu Kota negara kita? Ada 13 sungai yang membelah kota Jakarta. Pada zamannya dulu, sungai-sungai yang bermuara langsung ke laut adalah sumber penting kehidupan dan pembangunan. Alasan ini pula yang membuat Jayakarta tumbuh menjadi kota besar dan menjadi pusat kekuasaan kompeni pada masa kolonialisme.

Tak pelak, hujan dan sungai telah menjadi begitu vital perannya dalam tumbuh dan berkembangnya banyak peradaban besar di dunia. Peradaban sungai besar itu, beberapa diantaranya masih eksis hingga hari ini dan tetap menjadi pusat peradaban.

Bukankah ini semua Rahmat Allah? Maha Benar Allah dengan firman-Nya: “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” — Q.S. Qaaf: 9

Air hujan sumber bencana?

Siklus curah hujan masih kurang lebih sama semenjak dahulu. Bahwa frekwensi dan intensitasnya berbeda terjadi karena banyak hal. Hujan yang sama, yang di rindu dengan penuh harap serta diiringi doa-doa agar datang mengguyur manakala telah satu bulan lebih ia tak datang.

Memasuki pertengahan bulan januari 2021 atau tepatnya dalam rentang waktu 1-18 Januari 2021 sebagaimana diwartakan oleh Pikiran-Rakyat.com, di Indonesia telah terjadi 154 kali bencana alam dengan aneka ragam bentuknya. Dari Banjir, gunung meletus, badai, tanah longsor, dan lain-lain.

Baca juga:  Kini Vaksin Covid 19 Menjadi Harapan Seluruh Negeri

Dari sejumlah bencana tersebut, bencana banjir adalah yang paling sering terjadi. Kota-kota besar di Indonesia umumnya mengalami banjir. Bahkan kampung-kampung dan komplek perumahan pinggiran kota juga banyak terpapar banjir.

Orang banyak menggerutu tentang curah hujan yang terlalu tinggi sehingga mengakibatkan banjir. Bahkan pejabat negara pun mengatakan hal serupa, hujan yang terlalu besar membuat banjir meluap kemana-mana.

Maka di musim hujan bulan Januari ini dan tahun-tahun sebelumnya, orang melihat mendung sebagai tanda awal bencana! Tidak dipunggiri bahwa masyarakat yang mengalami bencana banjir mengalami penderitaan yang luar biasa. Bayangkan berhari-hari harus mengungsi jika terkena dampak banjir yang besar. Rumah terendam atau bahkan ada yang rusak diterjang banjir. Mungkin harta benda, surat dan dokumen berharga juga ikut lenyap. Kendaraan rusak terendam banjir, dan lain-lainnya.

Tapi benarkah hujan penyebab bencana? Kaum muslimin mestinya tetap hati-hati dalam hal ini. Jangan sampai membangun prasangka bahwa mendung adalah alarm bencana dan hujan sama dengan bencana. Ini sama halnya dengan berprasangka buruk kepada Allah SWT sebagai pengatur hujan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu.” — HR. Bukhari dan Muslim

Hujan sebagai ketentuan Allah tetap merupakan rahmat-Nya bagi kehidupan di bumi ini. Yang memerlukan hujan adalah semua makhluk hidup hamba Allah. Maha Suci Allah dari niat mencelakakan manusia dengan hujan. Jika ada segolongan manusia yang mengalami dampak buruk dari hujan yang lebat, kemudian hujan menimbulkan bencana, bukan berarti hujan yang harus dilaknat.

Hujan yang turun masih seperti hujan yang dahulu, tapi hujan itu tak tagi bisa anteng bersemayam dibawah jaringan akar pepohonan seperti dahulu kala, saat pohon dan hutan masih begitu banyak. Karena tangan manusia yang menebang pohon dan tak menjaga kelestarian hutan, maka air hujan yang tercurah dari langit tak lagi memiliki penahan. Ia bergerak cepat ke arah pemukiman penduduk dan menjadi banjir bandang.

Hujan tak pernah mengerti tentang hutan yang tak lagi lebat. Ia hanya mengikuti sunatullah untuk turun lagi ke bumi setelah matahari menguapkan air di bumi ke langit, itulah takdir sekaligus tugas hujan sepanjang kehidupan alam ini.

Baca juga:  Ramadhan Momentum Untuk Memperbaiki Dan Meningkatkan Ketakwaan

Setelah turun dari lereng-lereng gunung, air hujan hanya akan mengalir mengikuti anak sungai, agar semua makhluk Allah dapat menikmati keberadaannya. Air hujan yang telah menganak sungai itu lagi-lagi tak tahu jika sungai-sungai di perkotaan telah makin sempit. Manusia yang serakah ingin tanahnya makin luas kemudian menguruk pinggiran kali untuk dijadikan hunian.

Walhasil, badan sungai makin sempit. Saat air dari gunung tiba di ruas sungai yang telah menyempit itu, maka air tak tertampung sempurna, akhirnya meluap ke sisi jalan dan pemukiman penduduk. Jadilah banjir!

Rupanya tak hanya bahu jalan yang mengalami penyempitan. Kedalam sungai pun mengalami pedangkalan yang serius. Kota dipinggiran sungai makin padat. Tak banyak tempat untuk sekedar membuang sampah. Akhirnya sampah dibuang ke sungai.

Sungai menjadi kotor, dangkal dan air tak bisa melaju dengan kencang di sepanjang badan sungai. Pada kontur tanah yang melandai, beban sampah dan pedangkalan makin membatasi gerak air. Sehingga air cenderung naik, meluap ke jalan dan pemukiman. Dan, sekali lagi, jadilah banjir.

Belum lagi daerah resapan yang telah beralih fungsi menjadi kawasan industri atau pemukiman. Air tak lagi masuk ke tanah karena permukaan tanah telah dibeton. Air hanya mengikuti titah dan kodratnya untuk terus bergerak mengalir mencari titik-titik terrendah yang bisa dilaluinya.

Air hujan ini masih sama dengan hujan di zaman purba. Ia adalah rahmat bagi kehidupan di alam ini. Semua makhluk hidup tercipta dari air dan selalu butuh air untuk kelanjutan kehidupannya. Begitulah Allah menurunkan hujan sebagai rahmat-Nya.

Jadi bencana banjir ini bukan karena hujan turun. Tapi manusia yang telah mengganggu keseimbangan alam, sehingga hujan yang mestinya jadi rahmat justru menimbulkan bencana. Mari kita syukuri nikmat hujan ini, agar Allah tambahkan rahmat dan keberkahan-Nya melalui hujan.

Bagi kaum muslimin, hujan sebenarnya momen yang baik untuk berdoa. Sebagaimana riwayat berikut:

“Muhammad bin Bisyr menuturkan kepadaku, Abdul Aziz bin Umar menuturkan kepadaku, Yazid bin Yazid bin Jabir menuturkan kepadaku, dari Makhul, dari sebagian sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa doa dianjurkan ketika turun hujan, dan ketika shalat ditegakkan, ketika bertemunya kedua pasukan dalam perang, dan ketika turunnya hujan”.

Hujan akan selalu menjadi rahmat Allah bagi semua makhluk hidup. Tak perlu menyalahkan hujan atas bencana yang terjadi, Justru ini saat yang baik bagi kita untuk berdoa. Maka bersama rinai gerimis sepanjang akhir bulan Januari ini mari kita berdoa kepada Allah agar Covid-19 segera dihilangkan dan bencana yang lain di akhiri.