Antara kehendak dan keridaan ada yang harus engkau pahami, bahwa keridaan Allah terletak pada dirimu, keridaan Allah terletak pada kehendak-Nya untuk mencintaimu dan untuk membencimu.

Bahwa Antara Kehendak Dan Keridaan Allah Terletak Pada Dirimu
Foto oleh Michal Lomza di Unsplash

Tidaklah mungkin engkau bisa melakukan sesuatu, sekecil apapun itu kalau Allah tidak berkehendak. Untuk mendapatkan kehendak yang diridai Allah maka engkau harus mendekati Allah dan mencintai Allah dengan sepenuh jiwa.

Apa yang terjadi kepadamu, dan apa yang terjadi kepada manusia adalah wujud kehendak-Nya. Namun kehendak Allah dapat dibagi dan dibedakan menjadi beberapa kategori. Kehendak Allah kepada orang-orang yang dicintai-Nya adalah kehendak-Nya yang kemudian menjadikan dirinya adalah orang-orang yang dicintai. Kehendak Allah kepada orang yang disayangi-Nya menjadikan dirinya adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah.

Kehendak Allah kepada orang-orang yang disayangi-Nya menjadikan kehidupan ini adalah ladang untuk menjadikan bekal dalam kehidupannya. Kehendak Allah kepada orang-orang yang dibiarkan-Nya adalah ketika Allah membiarkan kepada orang tersebut untuk melakukan apapun yang diinginkannya, apakah itu keburukan atau itu kebaikan. Maka Allah berkehendak untuk meninggalkan-Nya untuk membiarkan-Nya, dan dia melakukan jalan-jalan yang buruk, jalan-jalan yang sesat.

Kehendak Allah kepada orang yang tidak diinginkan-Nya mereka menjadi orang-orang yang kemudian lelah dalam kegelapan, lunglai dalam kebisingan, dan mencari tidak dapat sesuatu yang dicarinya. Dia berjalan kesana kesini tetapi tidak mendapatkan tujuan, karena tujuannya tidak dikehendaki, dan karena tujuannya tidak diridai Allah yang memberi kehendak dan memberi keridaan.

Kepada orang tertentu Allah memberikan kehendak dan meridainya, namun kepada orang yang lainnya Allah berkehendak tapi kemudian Allah tidak menunjukkan pada keridaan-Nya. Antara kehendak dan keridaan ada yang harus engkau pahami, bahwa keridaan Allah terletak pada dirimu, keridaan Allah terletak pada kehendak-Nya untuk mencintaimu dan untuk membencimu.

Apabila engkau berjalan pada jalan-jalan kebaikan maka kehendak-Nya adalah yang diridai-Nya. Namun Apabila engkau berjalan pada jalan-jalan keburukan maka kehendak-Nya adalah yang tidak diridai dan Allah murka terhadap jalan-jalan keburukan yang dilakukan oleh makhluk-Nya.

Dikisahkan tentang seorang yang terus mengembara, ia mengembara dalam padang pasir yang luas, dan mengembara dalam jalan jalan yang mendaki dan menggunung. Lalu di tengah jalan dia kemudian meminta kepada seorang pengemis yang datang menghampirinya untuk memberikan air yang dibawa oleh pengemis itu. Pengemis itu bertanya “Mengapa engkau meminta kepadaku, padahal engkau tahu bahwa aku adalah bukan orang yang bisa memberi?”, Orang tadi menjawab “Aku tidak memiliki seperti apa yang kau bawa wahai saudaraku”, kemudian pengemis tadi menjelaskan “Aku mendapat air itu karena aku berjalan di tengah gurun yang ada sumber airnya”.

Kemudian orang tadi kembali lagi meminta “Berilah aku sedikit air itu agar dahagaku bebas sehingga aku bisa melanjutkan perjalanan ini”, lalu pengemis tadi menjawab kembali “Tidak, tidak akan aku berikan air ini, karena untuk mendapatkan air ini aku perlu perjuangan untuk mendapatkannya, dan silakan engkau mengambil air itu di gurun yang ada mata airnya sehingga engkau akan terbebas dari dahaga itu”, dengan pensaram lalu orang tadi bertanya lagi “Kenapa engkau tidak mau memberikan air itu ?”.

Sang pengemis kembali menjawab “Karena aku diminta oleh Allah untuk memberikan sesuatu yang bisa memberikan manfaat kepada orang-orang yang dapat menerimanya, sementara aku lihat engkau berjalan tanpa tujuan yang jelas karena itu aku menganggap engkau tidak melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat buat dirimu. Air yang kuberikan ini hanya akan menjadikan engkau dahaga. Karena kedahagaan yang sejati adalah ketika engkau tidak menuju jalan jalan Allah. Aku hanya memberikan air-air ini kepada orang-orang yang berjalan menuju jalan-jalan Allah”.

Lalu orang tadi tersentak dengan jawaban sang pengemis dan berpikir panjang seraya bertanya dalam hatinya apakah betul dia sedang tidak berjalan menuju jalan Allah, padahal dia menginginkan sesuatu kebaikan. Lalu pengemis tadi mengatakan kembali “Bahwa jalan-jalan Allah itu bukan berada pada tujuanmu tetapi jalan Allah itu berada pada kehendak-Nya.

Jalan-jalan Allah itu berada pada apa yang diridai-Nya. Engkau harus memohon kepada Allah agar atas kehendak-Nya Allah meridai jalan jalan yang kau lalui”. Mendengar penjelasan pengemis itu, orang tadi tertegun dan kemudian melanjutkan perjalanannya, dan mengucapkan salam kepada pengemis yang ditemuinya itu.

Baca juga:  Tantangan Dakwah Di Era Digital

Orang tadi kemudian melanjutkan perjalanannya, di tengah perjalanan itu dia menemui lagi seorang laki-laki yang membawa air, kemudian orang tadi mengucapkan salam dan berkata “Wahai saudaraku, apakah engkau mau memberi kepadaku seteguk air ?”, lalu laki-laki yang ditemuinya menjawab “Aku akan memberimu air ini dan memberimu seluruh air yang kupegang ini, karena engkau telah memperbaiki tujuanmu karena engkau telah memperbaiki niatmu, bahwa perjalananmu adalah kehendak-Nya dan perjalanan yang dimohonkan untuk mendapat rida-Nya.

Seorang yang berjalan tadi lupa bahwa perjalanannya semata-mata harus hanya karena kehendak dan keridaan-Nya. Itulah sebuah ilustrasi kepada orang-orang yang menuju Tuhan tetapi dia tidak memahami tujuannya adalah tujuan-tujuan yang diridai Allah yang menciptakan kerajaan langit dan bumi. Kalau Hari ini engkau terus berjalan maka mohonlah kepada Allah “Ya Allah semoga saja jalanku adalah jalan-jalan yang engkau kehendaki dan jalan-jalan yang Engkau ridai.

Keridaan dan kehendak harus Allah harus menjadi satu, engkau tidak akan mungkin menjalankan sesuatu yang baik kalau kemudian Allah tidak meridainya. Maka satu hal yang harus engkau lakukan adalah bahwa sepanjang perjalananmu harus karena kehendak Allah dan Allah meridai perjalananmu itu. Itulah yang menunjukkan apakah jalan-jalanmu ada jalan-jalan yang dikehendaki karena keridaan-Nya, atau jalan-jalanmu adalah jalan-jalan yang dihendaki tapi tidak diridai- Nya.

Keridaan Allah itu beraada pada hakekat tujuanmu, rida Allah itu ada pada hakekatnya. Ketika engkau melakukan sesuatu kebaikan, maka apakah yang engkau dapatkan dalam suatu kebaikan itu. Kalau engkau ingin melakukan sesuatu karena engkau hanya semata-mata untuk mendapatkan materi dan karena engkau ingin mendapatkan suatu pujian, maka itu adalah sesuatu yang tidak diridai Allah, karena hakikat dari pada apa yang engkau lakukan bukan sesuatu yang mulia, hanya sesuatu yang bersifat materi yang dengan itu engkau menuju makhluk bukan menuju kepada Tuhan.

Kalau hari ini engkau dibisikkan untuk melakukan sesuatu kebaikan, maka tanyakanlah untuk apa kebaikan itu engkau lakukan, kalau tujuannya hanya semata-mata engkau ingin mendapatkan materi dan berhenti di sana maka itu adalah tujuan tujuan yang tidak diridai Allah. Tetapi Ketika engkau melakukan sesuatu dengan tujuan agar Allah meridai apa yang engkau lakukan, maka tujuan-tujuanmu itu adalah tujuan yang dikehendaki-Nya. Itulah yang membedakan mana tujuan-tujuan yang diridai Allah dan mana tujuan-tujuan yang tidak diridai Allah.

Menjadikan tujuan untuk hakikat sebuah kemuliaan harus diimbangi dengan cara bagaimana engkau akan melakukan sebuah proses untuk mendapatkannya. Bila engkau berjalan kemudian jalanmu adalah jalan-jalan yang tidak lurus maka bisa dipastikan engkau akan sulit mendapatkan tujuan mulia seperti yang engkau niatkan. Tetapi apabila jalan-mu jalan yang lurus, walaupun terkadang engkau harus berhenti karena sesaat harus beristirahat menengadahkan tangan, lalu kemudian kembali berdoa kepada Tuhan untuk melanjutkan perjalananmu itu, Insyaallah jalan-jalan itu adalah jalan jalan yang diridai Allah yang menguasai kerajaan langit dan bumi.

Tanda-tandanya bahwa engkau mendapatkan jalan yang diridai Allah adalah ketika engkau selalu sadar bahwa perjalananmu itu adalah perjalanan menuju Tuhan, tanpa engkau disibukkan hanya untuk menghitung dan untuk mengalkulasi kebutuhan dunia, tetapi engkau terus dan terus menuju jalan jalan menuju jalan jalan kemuliaan.

Jalan-jalan kemuliaan itu adalah jalan-jalan yang di papah Tuhan karena engkau mendekati-Nya, dan karena engkau selalu mengingat-Nya untuk ditujukan pada jalan-jalan yang lurus, dan bukan karena engkau kemudian berjalan dan berjalan tanpa mengingat-Nya. Jalan jalan yang lurus, jalan jalan yang dikehendaki, dan jalan-jalan yang diridai-Nya hanya bisa dilakukan ketika engkau selalu mengingat-Nya dalam perjalanan itu, ketika engkau selalu memohon kepada Allah “Ya Allah tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan jalan yang Engkau ridai”

Baca juga:  Doa Ibu Memiliki Daya Ampuh Laksana Bisikan Keramat

Bagaimana mungkin engkau mendapatkan jalan yang lurus kalau engkau tidak dekat dengan Tuhamu? Cara engkau mendekat dengan Tuhanmu ialah dengan cara mengingat-Nya dalam setiap waktu, ingatlah Tuhanmu dalam setiap nafasmu, karena nafasmu nanti akan mengilhamkan jalan-jalan kebaikan.

Engkau tengadahkan tangan kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya, namun engkau pun harus memperbaharui jalan jalan menuju hubungan dengan manusia. Karena Allah akan memberikan jalan dan karena Allah kemudian akan menggerakkan hati manusia untuk menolongmu. Apa yang diberikan manusia kepadamu hakikatnya adalah pertolongan dari Allah sehingga manusia dapat bergerak untuk memberikan kepadamu pertolongan. Allah tidak mungkin langsung tanpa perantara memberikan pertolongan kepadamu.

Jalan-jalan yang akan Allah berikan kepadamu adalah jalan-jalan dimana engkau akan dimudahkan untuk mendapatkan suatu pertolongan baik dari manusia maupun dari makhluk-makhluk yang lain. Bisa jadi Pertolongan Allah itu datang ketika angin berhembus, bisa jadi pertolongan Allah itu datang ketika malaikat-malaikat datang menyerupai orang-orang tertentu dan mendatangimu, bisa jadi pertolongan Allah itu datang ketika binatang-binatang datang dan menyampaikan salam kepadamu untuk menolongmu dan bisa jadi pertolongan Allah itu datang dengan para jin datang kepadamu dan berbakti kepadamu dengan izin Allah. Bagi Allah tidak ada hal yang sulit untuk menyampaikan sesuatu kepadamu, tetapi bagi Allah ada cara untuk memberikan petunjuk untuk memberikan jalan keluar terhadap apa-apa yang dirasakan oleh makhluk-Nya.

Apabila suatu hari datang kepadamu seseorang lalu dia berkata “Wahai sahabatku karena izin Allah aku datang kepadamu dan memberikan pertolongan dengan izin Allah kepadamu”. Bayangkan bahwa itu terjadi kepadamu dan karena itu adalah seorang malaikat yang kemudian Allah perintahkan kepadamu untuk membantumu. Terkadang sesuatu yang diluar dugaanmu datang kepadamu untuk memberikan pertolongan, dan itu tandanya Allah telah menggerakkan alam semesta untuk membantumu untuk menolongmu.

Jangan pikir bahwa itu adalah pertolongan makhluk-Nya, itu adalah pertolongan Yang Maha Pencipta, namun Yang Maha Pencipta kemudian memberikan jalan kepada makhluk yang lain untuk membantumu dalam izin-Nya dalam rida-Nya. Jangan sampai engkau mengatakan bahwa apa yang engkau dapat semata-mata karena ikhtiarmu, itu pertolongan makhluk-Nya, semuanya adalah karena kehendak-Nya dan karena rida-Nya. Keridaan Allah itulah yang akan membuat hidupmu berkah, bahagia, sejahtera dunia hingga di akhirat nanti

Janganlah terlalu berlelah-lelah untuk mendapatkan sesuatu sehingga melupakan Allah. Ingatlah Allah, kemudian apa-apa yang engkau inginkan itu akan datang kepadamu tanpa engkau harus kemudian bersusah payah. Teruslan fokus bermohon kepada Allah, ikhtiarmu adalah bukan ikhtiar untuk mendapatkan rizki, tetapi ikhtiarmu adalah untuk mengabdi. dengan tujuan-tujuan kemuliaan.

Kalau hari ini engkau harus mendatangi sesuatu. melakukan sesuatu, dan harus melakukan ikhtiar, niatkan bahwa itu semata-mata untuk mengabdi kepada Allah. Wujud pengabdian kepada Allah bisa bermacam-macam, bisa karena menolong orang dengan ilmu, dengan perhatianmu, dengan sapaanmu, dengan kelembutanmu, dan dengan cara menasihati orang-orang karena engkau ingin mendapatkan rida Allah yang menguasai kerajaan langit dan bumi.

Tidak perlu engkau begitu tergopoh-gopoh untuk mendapatkan rezeki lalu kemudian engkau menyambutnya dengan ikhtiar begitu melelahkanmu. Cukuplah engkau mengatakan dan bermohon kepada Allah “Ya Allah hari ini aku ingin berikhtiar untuk mengabdi kepada Engkau, semoga ilmu yang Engkau berikan kepadaku adalah ilmu-ilmu yang bermanfaat, sehinga karena itu aku mendapat rida-Mu dan mendapat kehendak kemuliaan”.

Jangan jadikan dirimu adalah orang-orang yang diperbudak oleh dunia, tetapi jadikan dunia sehingga berbakti kepadamu dengan izin Allah dan dengan keridaan Allah. Kalau hari ini engkau harus bergerak melakukan ikhtiar, jangan lupa bukan itu yang akan menyebabkan keberhasilanmu, tetapi kehendak dan keridaan-Nya lah yang akan menjadikan engkau mendapatkan sesuatu yang mulia.

Semoga engkau menjadi orang-orang yang terus menafakuri diri, menjadi orang-orang yang bersabar, menjadi orang-orang yang terus bersyukur, sehingga Allah menghendaki dam meridai apa yang engkau lakukan.