Tetapi ironis, benteng itu justru ramai-ramai ditinggalkan pada saat momen-momen yang paling menentukan tengah berlangsung. Seperti pasukan Uhud yang tergoda ghonimah, kita para shoimin juga tergiur baju baru, kerudung baru, sandal baru. Sehingga ramai-ramai meninggalkan pos-pos penjagaan puasa kita untuk menjaga hati, mata, lisan, dan tentu saja nafsu.

Benteng Kokoh Yang Ditinggalkan Pada Saat Yang Paling Menentukan
Foto oleh Paul Melki di Unsplash

Benteng dalam pemahaman tradisi budaya apapun selalu dimaknai sebagai tempat berlindung yang aman untuk mempertahankan diri. Benteng bisa berupa bangunan kokoh yang memang dirancang untuk pertahanan. Namun dalam strategi militer, kondisi alam yang strategis dapat dimanfaatkan sebagai benteng pertahanan yang efektif.

Bukit uhud adalah tempat strategis yang dipilih oleh Rasulullah ﷺ untuk menempatkan pasukan. Kondisi bukit uhud yang lebih tinggi bisa dimanfaatkan dalam dua hal sekaligus. Pertama menjadi benteng yang secara alami mampu memberikan perlindungan berupa tingkat kesulitan yang tinggi bagi pasukan musuh yang ingin menyerang pasukan Rasulullah ﷺ. Kedua, dengan posisinya yang tinggi itu, pasukan panah Rasulullah justru lebih leluasa untuk melihat pergerakan musuh dan melakukan serangan dari tempat yang relatif terlindung dari pandangan dan jangkaun lawan.

Bukit Uhud menjadi benteng alami yang akan menentukan kemenangan pasukan Islam dibawah komando langsung Rasulullah ﷺ. Sejarah memberikan kesaksian, strategi Rasulullah ﷺ yang memosisikan pasukannya di Bukit Uhud sesunguhnya berjalan efektif. Pasukan Islam berhasil memukul mundur kaum kafir Quraish di awal-awal pertempuran.

Malapetaka kemudian terjadi. Saat pasukan panah yang telah diposisikan sedemikian rupa di lereng lereng bukit yang strategis itu mulai beranjak meninggalkan pos masing-masing. Mereka tergiur harta ghonimah yang tercecer dibawah bukit ditinggalkan oleh pasukan kafir Quraish yang lari kocar-kacir akibat efektifnya sistem bertahan dan serangan kaum muslimin di lereng-lereng Bukit Uhud.

Mungkin takut tidak kebagian harta ghonimah, pasukan yang ditempatkan secara strategis ini kehilangan kendali diri dan bertindak tidak disiplin. Mereka ikut turun memperebutkan harta yang ditinggalkan oleh musuh. Pesan Rasulullah mereka abaikan, agar jangan pernah beranjak dari benteng strategis itu apapun yang terjadi.

Namun godaan harta dan kemenangan yang di depan mata membuat pasukan itu terlena. Benteng strategis itu mereka tinggalkan. Khalid Bin Walid yang jadi komandan pasukan musuh melihat situasi itu. Ia memberikan komando kepada pasukannya untuk berbalik arah dan menyerang pasukan Islam yang sudah keluar dari benteng alam yang strategis itu.

Baca juga:  Tim BIK Peduli Dalam Upaya Perbaikan Kondisi Dusun Palada Kabupaten Mamuju Pasca Gempa

Walhasil, pasukan Islam dibuat porak-poranda. Bahkan Rasulullah sempat terluka dalam perang tersebut. Umat Islam harus menelan pil pahit berupa kekalahan tragis yang menewaskan beberapa ksatria dan pendekar besar seperti Hamzah paman Rasulullah ﷺ.

Meninggal kan benteng pertahanan adalah salah satu faktor penyebab yang membuat kaum muslimin harus menderita kekalahan dalam perang Uhud. Meski pada awalnya kemenangan itu telah terlihat di depan mata.

Puasa Ramadhan Sebagai Benteng

Perang Uhud adalah ibrah penting bagi kaum muslimin untuk memenangi pertempuran dan menghindari kekalahan, termasuk dalam bertempur melawan hawa nafsu. Puasa di bulan Ramadan adalah salah satu perang besar kaum muslimin dalam memerangi hawa nafsu. Mampukah kita memenanginya? Sejarah perang Uhud mungkin bisa memberikan inspirasi kepada kaum muslimin untuk memenangkan jihad besar melawan hawa nafsu di bulan suci Ramadan ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Shaum itu benteng, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah: ‘aku sedang shaum’ beliau mengulang ucapannya dua kali. Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. Shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa.” — HR. Bukhari

Memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan dan kemenangan yang telah di depan mata, godaannya juga semakin berat. Bahkan godaan itu kerap muncul dalam bentuk pseudo kemenangan. Merasa telah menang hanya dengan melihat kalender bahwa 1 syawal telah dekat. Maka muncul euforia, untuk merayakan dengan memakai, mengonsumsi, segala sesuatu yang nampak indah dan menyenangkan.

Baca juga:  Mereka Yang Memiliki Cinta Dan Dicintai Allah

Kasus membludaknya pengunjung Pasar Tanah Abang yang mengagetkan banyak pejabat pemerintah, mengingatkan kita semua para shoimin kepada tragedi Uhud. Puasa telah dinyatakan oleh Rasulullah sebagai Benteng yang akan melindungi kaum muslimin dari kekalahan atas hawa nafsu dan kenikmatan duniawi.

Tetapi ironis, benteng itu justru ramai-ramai ditinggalkan pada saat momen-momen yang paling menentukan tengah berlangsung. Seperti pasukan Uhud yang tergoda ghonimah, kita para shoimin juga tergiur baju baru, kerudung baru, sandal baru. Sehingga ramai-ramai meninggalkan pos-pos penjagaan puasa kita untuk menjaga hati, mata, lisan, dan tentu saja nafsu.

Benteng itu hadir, dipilih, dan di bangun untuk melindungi. Tetapi ia akan kehilangan fungsi utamanya sebagai pelindung atau perisasi jika yang dilindungi justru keluar dari area perlindungan itu. 10 Ramadan yang terakhir kerap menjadi saksi kegagalan para shoimin untuk meraih kemengan dengan sertifikat taqwa, karena terjebak oleh pseudo kemenangan. Itu artinya kita kembali kalah, dan nafsu yang kembali menang.

Saat kita kembali memalingkan wajah ke belakang, benteng itu tetap berdiri kokoh namun makin jauh kita tinggalkan. Sementara diantara sayup-sayup kesadaran yang masih tersisa, kita mulai menyadari bahwa pesta kemenangan yang kita rayakan adalah perangkap musuh yang sengaja menjauhkan dari benteng kokoh itu, agar tubuh limbung kita makin mudah terperosok dalam langkah-langkah syaiton berikutnya.

Wallahu’alam