Secara tradisi dan bagi dinamika ekonomi, sosial dan budaya, mudik itu penting. Namun secara syariat puasa yang lebih penting dan utama. Demikian juga secara kesehatan, sehat dan selamat tentu lebih penting daripada kegembiraan bertemu saudara dan handai tolan namun berisiko bagi kesehatan dan kehidupan.

Covid-19 Di Antara Puasa Dan Mudik
Foto oleh mostafa meraji on Unsplash

Saat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy menyampaikan sikap pemerintah yang melarang mudik pada 6 – 17 Mei 2021, publik kaget dan seperti biasa segera terbelah dalam sikap pro dan kontra. Kekagetan beberapa pihak sebenarnya bisa dimengerti, mengingat sebelumnya pemerintah terkesan akan mengizinkan pemanfaatan cuti lebaran oleh masyarakat, termasuk untuk melakukan mudik.

Tak pelak, di media sosial ramai muncul tudingan netizen bahwa pemerintah plin-plan dalam hal ini. Banyak di antara mereka yang pro-mudik, bersungut-sungut menyesalkan kebijakan pelarangan mudik yang mereka anggap sebagai bentuk kekhawatiran yang berlibahan terhadap virus Corona.

Jika menyimak pemikiran para ahli pandemi, langkah melarang mudik yang dilakukan pemerintah adalah hal tepat. Argumennya cukup jelas, angka penularan virus Covid-19 di Indonesia masih tinggi. Data lain juga menunjukkan adanya korelasi positif antara liburan panjang dengan peningkatan kasus Covid-19. Tentu yang dimaksud adalah pemanfaatan waktu libur oleh masyarakat dengan melakukan pergerakan di luar rumah dan berkunjung ke tempat wisata atau mall, sehingga terjadi kontak rapat secara massif.

Fenomena mudik sebagaimana sering kita lihat dan alami, memang potensial menciptakan titi-titik kerumunan yang luas. Kerumunan bisa terjadi di terminal bus, stasiun, bandara, pelabuhan, rest area, bahkan di dalam kendaraan. Pergerakan masyarakat dalam momen yang bersamaan dalam jumlah besar cenderung akan sulit di kontrol. Situasi ini rentan memunculkan pelanggaran terhadap protokol kesehatan.

Inilah yang membuat para pakar pandemi dan kalangan kesehatan mendukung penuh langkah pemerintah untuk melarang mudik. Sikap sebaliknya ditunjukkan oleh para pelaku industri transportasi, perhotelan dan bisnis lain yang terkait, serta masyarakat yang biasa menjalankan tradisi mudik. Kelompok kedua ini cenderung merasa dirugikan dengan adanya larangan mudik lebaran.

Baca juga:  OTG di Sekitar Kita: Dari Orang Tanpa Guna Hingga Orang Tetap Gembira

Belum Puasa Sudah Heboh Mudik

Ada sebab yang jelas dari para pelaku bisnis transportasi dan pariwisata terkait keberatan mereka tentang pelarangan mudik oleh pemerintah, yakni masalah ekonomi. Tentu keberatan ini sah dan bisa dibenarkan karena pertimbangan hajat hidup mereka.

Yang rada aneh justru sikap masyarakat (muslim) yang telah hidup mapan di perantauan. Mengapa heboh dengan larangan mudik? Tentu ada banyak alasan dibalik penolakan ini. Namun jika ribut soal pelarangan mudik hanya karena alasan kebiasan mudik dan silaturrahmi dengan handai tolan di kampung halaman, mungkin ini agak berlebihan.

Bersilaturrahmi dengan sanak saudara, bukankah itu bisa dilaksanakan kapanpun? Tak harus dalam momen lebaran. Sehingga tak perlu ada pergerakan massal, kerumunan dan antrian panjang yang berisiko tinggi bagi penularan virus Covid-19.

Menjelang puasa ini, bagusnya kita heningkan hati dan pikiran untuk mulai menata diri dalam rangka menyongsong puasa. Jangan malah kusut pikiran hanya karena larangan mudik. Fokuslah pada kedatangan bulan ramadhan yang penuh berkah dan mendekatkan setiap muslim kepada kebahagiaan yang hakiki dan imbalan syurga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.” — HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth

Sabda Rasulullah ini adalah kabar gembira bagi umat muslim, karenanya bulan Ramadhan patut disongsong dengan kegembiraan dan optimisme untuk menjauh dari neraka dan mendekat kepada syurga. Agar fasilitas ditutupnya pintu neraka dan dibukanya pintu syurga dapat kita optimalkan dalam rangka ibadah kepada Allah, sudah selayaknya jika jauh-jauh hari kita menyiapkan diri dalam menyambut bulan suci ini.

Baca juga:  Apa Manfaat Yang Terkandung Dalam Qusthul Hindi? Obat Herbal Pencegahan Dan Penyembuhan Covid-19

Meluruskan niat dan cara pandang terkait puasa menjadi sangat penting. Ibadah bulan ramadhan begitu berharga di sisi Allah azza wa jalla. Karenanya jangan dikacaukan dengan urusan remeh-temeh tradisi lebaran. Kita sering salah kaprah dalam memaknai puasa dan lebaran. Umumnya puasa dilihat sekedar sebagai sebuah urutan penanggalan, habis ramadhan maka jatuh syawal, di dalam sawal itu ada lebaran dan kegembiraan. Inilah yang membuat orang heboh dengan larangan tak boleh mudik, karena fokusnya bukan ibadah tapi kegembiraan hari raya lebaran!

Secara tradisi dan dinamika ekonomi, sosial dan budaya, mudik itu penting. Namun secara syariat puasa yang lebih penting dan utama. Demikian juga secara kesehatan, sehat dan selamat tentu lebih penting daripada kegembiraan bertemu saudara dan handai tolan namun berisiko bagi kesehatan dan kehidupan. Toh, jika tahun ini kita masih sehat dan selamat, tahun depan insya Allah kita semua masih bisa berkunjung ke sanak famili di kampung halaman.

Situasi pandemi Covid-19 ini mari kita jadikan momentum untuk meluruskan niat dalam ibadah dan kemampuan untuk mengambil skala prioritas. Dimana yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah apalagi yang tidak ada pedomannya. Mengutamakan kesehatan lebih diprioritaskan daripada memenuhi kepuasan sesaat atas nama kebiasaan.

Jadi, mau fokus urusan mudik apa mau khusuk menyongsong puasa ramadhan?