Pada tahun 2020 semakin banyak perusahaan Jerman di industri makanan, farmasi, dan kosmetik yang berinvestasi pada produk halal, hal ini dilakukan agar tetap dapat bersaing di pasar ekspor dan untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Jerman Semakin Banyak Perusahaan Berinvestasi Pada Produk Halal
Foto oleh Mohammad Saifullah di Unsplash

“Bisnis kami hampir tidak terpengaruh oleh pandemi Covid-19,” kata Günther Ahmed Rusznak. “Kami sibuk dengan permintaan yang datang kepada kami.” imbuhnya.

Günther Ahmed Rusznak adalah pendiri sekaligus CEO dari Islamic Information Documentation and Certification GmbH (IIDC), yaitu sebuah perusahaan pusat inspeksi dan sertifikasi independen dan terakreditasi internasional untuk makanan dan layanan halal. Rusznak adalah orang Austria dan timnya yang terdiri dari dua belas orang mencakup pasar Eropa melalui kantor di beberapa negara seperti Jerman, Prancis, Austria, dan Hongaria.

“Saya kagum. Saya kira kita akan mengalami kemunduran bisnis, tapi ternyata ekspor produk halal tidak terpengaruh,” kata Rusznak.

Pengalamannya membuktikan temuan Laporan State of the Global Islamic Economy terbaru 2019/2020: Dengan perkiraan penurunan beberapa sebesar 0,2% untuk industri makanan dan minuman, 2,5% untuk industri kosmetik, dan 2,9% untuk industri busana muslim.

Perkiraan ini merupakan keuntungan bagi eksportir Jerman ke pasar mayoritas Muslim, hal ini juga akan berpengaruh pada pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan untuk sertifikasi halal semakin bertambah.

Integritas IIDC telah diakui oleh otoritas halal Emirates Authority for Standardization and Metrology (ESMA) Uni Emirat Arab dan JAKIM Malaysia, yang menjadikan layanan mereka berharga bagi perusahaan Jerman yang ingin mengekspor ke pasar Muslim yang cukup besar. Tiga pemberi sertifikasi halal lainnya yang bekerja di Jerman juga diakui oleh ESMA adalah RACS LLC USA, Halal Control GmbH, dan Halal Quality Control.

Pengakuan oleh ESMA sangat penting untuk ekspor bahan habis pakai Jerman ke kawasan Teluk. Pada 2019, ekonomi terbesar Uni Eropa meningkatkan ekspor produk makanan ke Uni Emirat Arab sebesar 7,8% menjadi 268 juta euro (Rp. 4,6 triliun), menjadikannya target pasar terbesar kedua di negara-negara Teluk, setelah Saudi Arabia. Produk susu (Rp. 932 miliar), manisan dan gula (Rp. 636 miliar), dan makanan yang dipanggang (Rp. 466 ​​miliar) yang terbesar dalam peringkat grup produk. Dan Jerman mencoba untuk mendorong lebih banyak perdagangan dengan Uni Emirat Arab.

Baca juga:  Titip Ukhuwah Untuk Nahkoda Baru Majelis Ulama Indonesia (MUI)

“IIDC awalnya dimulai dengan sertifikasi ekspor daging dari Jerman dan Austria ke kawasan Teluk, dan ternyata bisnis dengan bersertifikasi halal mulai menunjukan lonjakan yang fantastis,” menurut Rusznak saat mengingat tahun-tahun pertama perusahaan tersebut dibangun.

“Pemasok industri daging, seperti perdagangan rempah-rempah dan minuman, mengiringi langkah demi langkah,” tambah CEO IIDC.

GELITA AG

Salah satu contohnya adalah Gelita AG GmbH, pemasok terkemuka protein kolagen untuk makanan, nutrisi kesehatan, dan industri farmasi, mengakuisisi 65% saham di produsen gelatin Turki SelJel pada awal Desember.

Joint Venture ini merupakan bagian dari strategi pertumbuhan Gelita untuk memenuhi permintaan gelatin yang terus meningkat, khususnya gelatin yang bersumber dari sapi halal.

“Semua produk mereka memiliki status halal, yang membantu kami memenuhi permintaan yang terus meningkat untuk produk-produk ini,” kata CEO Gelita Dr. Franz Josef Konert.

Pada 2019, perusahaan menghasilkan pendapatan 749 juta euro (Rp. 12,7 triliun). Didirikan pada tahun 1875 di negara bagian federal barat daya Baden-Württemberg, berbatasan dengan Prancis dan Swiss.

Di lebih dari 21 pabrik, sekitar 2.600 karyawan memproduksi lebih dari 90.000 ton gelatin, kolagen, dan peptida kolagen per tahun. SelJel sepakat menambah kapasitas 6.500 ton gelatin yang dapat dikonsumsi, farmasi, dan gelatin teknikal.

SYMRISE AG

Symrise AG yang terdaftar secara publik, pemasok wewangian, bumbu, makanan, nutrisi, dan bahan kosmetik, merupakan perusahaan perbankan Jerman yang cukup besar dalam memperluas portofolio halal-nya.

Pada bulan November, Symrise menandatangani kesepakatan dengan Sensient Technologies untuk mengambil alih unit bisnis wewangian dari perusahaan AS tersebut, yang terdiri dari berbagai molekul aroma dan wewangian dari sumber alami dan terbarukan seperti minyak pinus dan jeruk.

Di bawah Sensient, unit tersebut menghasilkan 77 juta euro (Rp. 1,3 triliun) pada 2019 dari pabrik yang berada di Meksiko dan Spanyol. Investasi tersebut datang setelah kinerja bisnis 2019 yang baik, dibuktikan oleh peningkatan hasil pendapatan sebesar 12,2% menjadi lebih dari 707 juta euro (Rp. 12 Triliun).

Baca juga:  Arah Pertanian di Era Free Trade Agreement (ACFTA)

TRUU

Truu, perusahaan lain yang berbasis di Baden-Württemberg, menerima sertifikat halal pertamanya pada 22 Juli. Perusahaan tersebut mengkhususkan diri dalam produksi sistem penyulingan air minum.

Sertifikasi yang dilakukan oleh Halal Certification Services GmbH (HCS) berbasis di Swiss, berlaku untuk air yang diuji itu sendiri, proses produksi sistem, serta rantai pasokan dan bahan yang digunakan.

“Dengan sertifikat halal, kami menjamin mitra dan konsumen Muslim, bahwa kami secara ketat mematuhi aturan halal yang berkaitan dengan produksi sistem pengolahan air, termasuk air asli buatan truu,” kata CEO Timo Krause.

Menurut perusahaan, lapisan penyulingan airnya menyaring polutan dalam delapan tahap di mana air mineral dan air minum belum dapat diuji secara handal, seperti mikroplastik.

PHW GROUP

PHW Group adalah perusahaan yang fokus memproduksi dan memasarkan daging unggas, seperti ayam, kalkun dan bebek, dengan merek Wiesenhof. Sektor bisnis lainnya termasuk pakan ternak dan kesehatan hewan, nutrisi dan kesehatan dalam sebuah grup yang terdiri dari lebih dari 35 perusahaan independen.

Sebagai peternak dan pengolah terbesar di Jerman ada sembilan pabrik pengolahan daging unggas telah bersertifikat halal dari Halal Certification Services GmbH (HCS).

Dengan lebih dari 7.000 karyawan dan 1.000 petani, bisnis keluarga generasi ketiga menghasilkan pendapatan 2,68 miliar euro (Rp. 45,7 triliun) pada tahun fiskal 2018/19.

Ini adalah kesuksesan finansial yang mungkin dapat diulang PHW tahun ini, karena produksi daging unggas Jerman terus tumbuh dan meningkat 1,9% menjadi 801.800 ton pada pertengahan tahun 2020.