Saat ada kala secara individu kita melakukan kesalahan maka pada skala jamaah dan kelembagaan juga sama.

Mengingat Kesalahan di Masa Lalu
Foto oleh Dylan Gillis di Unsplash

Siapapun kita pasti pernah mencetak kesalahan, sengaja maupun tidak. Bahkan sekuat apapun perjuangan kita dalam kehati-hatian tetap saja suatu saat ada takdir terjatuh dalam kesalahan. Meskipun kita tak suka, dan meskipun kita juga tak mau. Justru sebenarnya kejatuhan kita dalam kesalahan masih menyimpan satu hikmah, agar kita tak jumawa, tidak pongah, tidak ujub, ataupun tak berbangga diri. Sebab bila kita tak selamat dari perasaan ujub karena merasa tak pernah salah, justru saat itulah sejatinya kita sudah sangat jauh dan sangat dalam terjerembab ke jurang kesombongan.

Begitu pula saat kita berada dalam dunia komunitas dan kejamaahan. Saat ada kala secara individu kita melakukan kesalahan maka pada skala jamaah dan kelembagaan juga sama. Semua tak ada jaminan. Bahwa baik individu maupun lembaga sama-sama punya potensi dan peluang berbuat salah.

Lalu apa pentingnya kita selaku individu ataupun lembaga mengingat-ingat kesalahan kita?

“Sudahlah, yang sudah terjadi biarkan berlalu dan hilang dari kenangan.”

“Kapan kita bisa bergerak maju bila kita selalu terkekang dengan kesalahan di masa lalu?”

Seringnya justru kita malah terbius oleh kata-kata diatas. Seakan sudah benar padahal seringnya menyesatkan. Ya, menyesatkan. Sebab ada kala kita malah makin tersesat akibat kata-kata tersebut.

Pertama kita harus yakini bahwa apa yang terjadi pada diri kita tak akan lepas dari takdir yang telah Allah catat sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi sebagaimana dalam hadis sahih.

Baca juga:  Arab Saudi Berencana Akan Membangun Kota Tanpa Emisi

Selanjutnya kita memiliki kewajiban dan tanggungjawab terkait kesalahan yang telah kita perbuat, yaitu kewajiban mengambil ibroh dan pelajaran atas kejatuhan kita pada kesalahan tersebut lalu bertanggungjawab untuk memperbaikinya.

Dua hal penting diatas akan menempa dan mendidik jiwa kita agar tak lekat dengan sikap ghurur, yaitu terlena. Bisa saja kita terlena dengan keberadaan kita yang secara lahirnya terlihat baik-baik saja. Kita adalah orang baik-baik, dan lembaga kita adalah lembaga yang juga baik-baik.

Jadi tak mungkin kita yang orang baik-baik berbuat salah, sebagaimana lembaga baik-baik kita juga tak mungkin berbuat salah. Maka tak terasa sikap ghurur kita telah mengarahkan kita kepada ujub dan kesombongan. Sebab kita yang sudah merasa baik-baik tak akan mungkin berbuat salah. Dan bila sikap buruk ini sudah demikian melekat pada pikiran kita, selanjutnya kita tak akan bisa lagi menerima nasihat. Kenapa demikian?

Sederhana saja jawabannya. Kita tidak berbuat salah karena kita orang baik-baik, jadi tak ada lagi nasihat yang kita butuhkan, sebab nasihat itu jauh lebih layak dibutuhkan oleh orang yang berbuat salah.

Maka disinilah kesalahan fatal kita, yaitu saat ada takdir kita melakukan kesalahan tapi kita merasa tak berbuat salah, sebab kita sudah yakin sekali bahwa kita adalah orang baik-baik, dan lembaga kita adalah lembaga baik-baik. Benarlah kata Rasulullah ﷺ saat menjelaskan tentang kesombongan,

Baca juga:  Doa Ibu Memiliki Daya Ampuh Laksana Bisikan Keramat

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”

Padahal kita tak akan mampu menata masa depan dengan baik bila kita tak pernah mau belajar dari kesalahan yang telah kita lakukan. Disitulah pentingnya kita mengingat apa kesalahan kita. Bahkan hingga kesalahan kita di masa lalu sekalipun. Kemampuan kita mengambil hikmah dan pelajaran dari kesalahan kita akan senantiasa menjaga kita dari keterpelesatan langkah kita di masa mendatang. Itulah mengapa Allah banyak menampilkan kisah-kisah luar biasa dalam al-quran.

Mengapa Allah abadikan kisah Perang Uhud dan Perang Hunain, misalnya? Sebab di dua kisah perang tersebut ada pelajaran agung dan dahsyat yang hendak Allah tanamkan dalam jiwa kita. Bahwa orang-orang baik pun masih ada takdir berbuat salah, yaitu pasukan pemanah di Perang Uhud, dan sikap terlena akan jumlah pasukan yang besar di Perang Hunain. Kesalahan-kesalahan tersebut akhirnya menorehkan luka yang berat pada pasukan kaum muslimin. Selanjutnya kisah-kisah tersebut Allah perintahkan kita untuk membacanya berkali-kali, dan mengkajinya juga berkali-kali. Buat apa..?

Agar kita tak selalu merasa baik-baik saja.

Agar kita tak selalu merasa bahwa lembaga kita juga baik-baik saja.

Agar kita tak merasa mustahil kita dan lembaga kita berbuat salah.

Dengan begitu, selanjutnya kita akan selalu membutuhkan nasihat dan masukan orang lain agar kita bisa memperbaiki diri kita dan lembaga kita.