Ngga masalah bagi saya. Dan saya tidak merasa kesal, ataupun marah, kecewa, ngambek, pundung, purik, protes, apalagi sampai mencak-mencak.

Mengalah Demi Kebaikan
Foto oleh Priscilla Du Preez di Unsplash

Coba kita bayangkan sejenak, atau kita renungkan sebentar saja, apa dan bagaimana perasaan kita saat kerja-kerja dakwah dan program-program sosial yang kita inisiasi, yang kita buat, yang kita kerjakan, dan yang selama ini sudah kita tekuni lantas di saat pelaksanaannya sama sekali tak boleh ada nama kita? Atau tak boleh ada nama lembaga kita? Atau tak boleh memancang spanduk dan memasang bendera kita? Dan terlebih lagi justru yang tampil adalah nama dan atribut milik orang lain?

Coba bagaimana?

Jujur saja cek perasaan kita?

Kesal? Marah? Kecewa? Ngambek? Pundung? Purik? Protes? Mencak-mencak?

Atau semua itu tumplek blek jadi satu menyesaki ruang rasa dan bilik hati kita?

Ya, coba jujur saja. Jangan ada dusta diantara kita….

Tapi mungkin ada di antara kita yang mencoba ‘jaim’ dan bersikap elegan dan dewasa seakan tak terjadi pertempuran apapun dalam jiwa dan pikirannya lalu dengan mantap dia berkata,

“Ngga masalah bagi saya. Dan saya tidak merasa kesal, ataupun marah, kecewa, ngambek, pundung, purik, protes, apalagi sampai mencak-mencak. Ngga…..biasa saja.”

Tapi nyatanya dada meletup-letup seakan menanti saat yang pas buat memicu ledakan dahsyat untuk memuntahkan bom kekecewaan dan kemarahan.

Ya, memang hanya orang gila yang tak pernah merasakan campur aduknya perasaan dan getaran dalam hati berupa rasa marah, kecewa, kesal, dan lain sebagainya.

Perasaan cinta dan benci itu memang menjadi ciri khas makhluk hidup bernama manusia yang masih waras. Kapan mencinta dan kapan membenci itu selalu ada waktunya. Dan akan selalu hadir sebelum datangnya kematian. Maka sangat wajar bila suatu saat ada kembang cinta tumbuh dalam hati kita, dan di saat yang lain ada semburan api benci dari dalam dada kita.

Tapi sekali lagi, persoalan awal diatas pastilah sangat mengganggu. Karena apa dan dimana salahnya ketika kita merasa kesal saat kebolehan menampakkan nama dan atribut dalam kerja-kerja kita lantas tiba-tiba dilarang? Apalagi saat menampakkan nama dan atribut tersebut diperlukan. Ya, sekali lagi tak ada salahnya. Hanya saja ketika hal tersebut tiba-tiba dilarang maka saat itulah hati kita juga tiba-tiba merasa kesal. Boleh tapi kenapa dilarang.

Namun sebenarnya kita harus faham dan mengerti bahwa telah ada sedikit ruang yang mulai terbuka dalam hati kita untuk memberikan kesempatan setan masuk. Kadang kita tak sengaja membukanya saking halusnya setan merayu. Sejatinya kita sedang memberi jalan setan masuk ke benteng pertahanan kita. Karena disitulah tempat bersemayamnya rasa, rasa cinta dan rasa benci. Yang mana saja setan bisa mencari manfaat maka ia akan datangi. Maka dari itulah ada rasa cinta yang dilarang sebagaimana ada rasa benci yang dilarang. Sebab setan telah menunggang pada keduanya.

Baca juga:  Dunia Kelembagaan: Mengingat Kesalahan di Masa Lalu

Maka baiknya kita senantiasa bertanya pada hati kita saat tiba-tiba ia mencinta atau tiba-tiba ia membenci. Misalnya dalam persoalan tidak bolehnya kita menampakkan nama dan atribut kita, atau bukan karena dilarang tapi ada pilihan lebih baik menyimpan rapat nama dan atribut kita.

Coba kita tanya hati kita. Saat kita kesal dan kecewa. Kenapa dan buat apa? Apa alasan mendasar kekesalan dan kekecewaan kita?
Mungkin kita akan cari-cari jawaban. Segala rupa alasan kita akan sampaikan. Segala macam argumentasi kita akan buatkan. Hanya saja semua itu kadang tak berarti apa-apa saat dihadapkan pada satu pertanyaan buat apa?

Dulu ada seorang tabiin terkenal di Iraq bernama Imam Hasan Basri. Suatu hari ia melihat ada seseorang duduk tertunduk sedih. Saat ditanya keadaannya orang tersebut menjawab,

“Aku risau memikirkan nasib dan rezekiku. Apakah Anda tidak merisaukannya?”

Imam Hasan Basri menjawab bahwa dirinya tak pernah merasa risau dengan urusan tersebut.

“Bagaimana mungkin Anda tak merisaukannya?” Orang tersebut masih bertanya lagi kepada Imam Hasan Basri. Maka dijawablah,

“Aku tahu bahwa rezekiku tak akan diambil oleh orang lain maka hatiku tenang. Dan aku tahu bahwa amalku tak akan dikerjakan oleh orang lain maka aku sibukkan diriku sendiri dengannya. Aku tahu bahwa kematian akan menjemputku maka aku persiapkan diri buat bertemu dengan Robbku.”

Jawaban Imam Hasan Basri tersebut membuktikan kecerdasan sikap beliau. Bahwa manusia pastilah suatu saat dirundung masalah. Ntah sering ntah sesekali. Maka mampu mengatasi masalah adalah bukti kecerdasan sikap seseorang. Sebab tak mampu atasi masalah adalah pertanda kebodohan.

Dan dulu cerita yang jauh lebih luar biasa adalah kisah Rasulullah SAW dalam Perjanjian Hudaibiyah. Sungguh kita akan melihat kecerdasan sikap beliau yang sangat tinggi. Kita semua tahu bahwa dalam perjalanan beliau dan para sahabatnya untuk menunaikan ibadah haji tiba-tiba dihadang oleh orang-orang kafir Quraisy. Semua tak boleh masuk Kota Mekkah. Sampai akhirnya tercapai kesepakatan dalam sebuah perjanjian gencatan senjata di Hudaibiyah. Tapi apa masalahnya?

Baca juga:  Pelajar Islam Indonesia Rejang Lebong Selenggarakan Leadership Basic Training

Ya, masalahnya adalah bahwa dalam perjanjian tersebut ada beberapa hal sakral umat Islam yang harus dihapus dan dihilangkan. Pertama terkait penghapusan Ar Rahman dan Ar Rahim dalam penulisan bismillah, dan yang kedua penghapusan kata Rasulullah dan cukup dengan ditulis Muhammad. Banyak sahabat yang marah terlebih Umar bin Khattab. Tapi Rasulullah SAW mampu mengatasi kekesalan dan kekecewaan sahabat-sahabatnya. Meski sekali lagi kekesalan masih tampak hingga keengganan mereka menyembelih hewan qurban. Maka Rasulullah SAW berinisiatif untuk memulai menyembelih lalu para sahabatnya pun mengikuti.

Pertanyaannya adalah, mengapa beliau bisa setenang itu dan tak terlalu merisaukan penghinaan orang kafir Quraisy?

Jawabannya adalah janji kemenangan yang telah Allah catat dalam takdir-Nya dan Allah kasih kabar tersebut kepada beliau sebagaimana kalau kita baca dalam surah Al Fath.

Maka, buat apa kita risau, kesal, dan kecewa, bahkan mencak-mencak bila pada dasarnya semua kebaikan sudah tercatat pahalanya dan tak akan tertukar dengan orang lain?

Bukankah pahala atas kebaikan kita tak ditentukan oleh siapa nama kita? Apa nama lembaga kita? Apa bendera kita? Terpancang atau tidak spanduk kita?

Selama kerja-kerja kita telah mendatangkan manfaat dan kebaikan buat umat dan agama, maka sebenarnya tak perlu lagi kita merisaukan siapa nama kita, apa bendera dan lembaga kita, terpampang atau tidak spanduk kita.

Kita harus yakin bahwa Allah tak akan pernah menyia-nyiakan apalagi menghilangkan pahala atas setiap kebaikan yang telah kita kerjakan. Kita tak usah risau dan kecewa bila semua kerja-kerja kebaikan kita tercatat atas nama lembaga lain selama sama-sama berjuang di jalan Allah. Tak akan pernah Allah salah mencatat, dan Mahasuci Allah dari segala kesalahan.

Allah hanya melihat kita turut berjuang di jalan-Nya apa tidak. Urusan perjuangan itu bukan tergantung pada siapa nama kita, atau apa lembaga kita, juga bukan apa bendera kita.

Tapi…..

Tetap masalah berat kita adalah khawatir dan takut tak dikenal orang sebab tak ada nama dan bendera lembaga pada kebaikan yang kita persembahkan.

Semoga Allah lindungi hati kita dari tipu daya setan.