Indonesia mengakhiri tahun 2020 dengan rekor tertinggi dalam perkembangan keuangan Islam, dengan State of the Global Islamic Economy Report (SGIER) 2020-2021 menaikkan peringkat industri keuangan Islam Indonesia menjadi peringkat ke-4 dari ke-5, setelah Malaysia, Arab Saudi dan UEA.

Indonesia Bisa Menjadi Pusat Industri Keuangan Islam Di Asia
Foto oleh Adeolu Eletu di Unsplash

Islamic Finance Development Indicator (IFDI) untuk tahun 2020 mengungkapkan bahwa peringkat Indonesia juga naik dari peringkat ke-4 menjadi ke-2 dalam pengembangan keuangan syariah dan dari peringkat ke-8 menjadi ke-7 dalam aset keuangan syariah, dengan peningkatan sebesar 15% menjadi $99 miliar.

Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Islam (KNEKS), yang bertindak sebagai ujung tombak dalam mempercepat, memperluas dan memajukan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, telah mengembangkan peta terintegrasi ekosistem ekonomi dan keuangan Islam negara yang memberikan pandangan secara menyeluruh tentang peran serta posisi pemangku kepentingan, pelaku, regulator, infrastruktur, TI, sumber daya manusia, dan publik. Ini merupakan pekerjaan yang luar biasa dalam mendorong setiap aspek ekosistem dalam melakukan perbaikan yang cukup besar, meskipun kekuatan politiknya sederhana.

Di bidang keuangan komersial syariah, Indonesia memasuki tahun 2021 dengan rencana transformasi besar: megamerger dari tiga bank syariah terbesar di Indonesia, Bank Syariah Mandiri (BSM), BNI Syariah dan BRI Syariah, untuk mendirikan bank syariah milik negara yaitu Bank Syariah Indonesia (BRIS) pada Februari 2021.

Menciptakan bank dengan ekuitas Rp 21,5 triliun ($1,5 miliar) (per November 2020), BUKU kategori III BRIS akan memiliki modal yang kuat untuk bersaing di sektor perbankan syariah Indonesia. Penggabungan ini akan meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya untuk bersaing di tingkat nasional dan internasional, dengan demikian Indonesia mampu untuk meningkatkan permainan sektor tersebut, dimana sebelumnya telah lama dianggap memiliki kecepatan pertumbuhan yang lamban.

Baca juga:  Mereka Yang Memiliki Cinta Dan Dicintai Allah

Meski menjadi satu-satunya bank syariah Indonesia di kategori BUKU III (selebihnya masih BUKU II atau BUKU I), BRIS berencana untuk naik ke peringkat tertinggi BUKU IV pada kuartal kedua tahun 2022 dengan estimasi ekuitas sebesar Rp232,5 triliun. Aset, yang berjumlah hampir setengah dari total aset perbankan syariah Indonesia, BRIS akan dibandingkan di antara 10 bank teratas di Indonesia serta 10 bank syariah teratas di dunia.

Selain modal yang kuat BRIS juga perlu melakukan transformasi dalam peningkatan infrastruktur IT, digitalisasi produk dan layanannya, serta peningkatan keterampilan karyawan yang signifikan, menjadi poin penting yang harus diperhatikan BRIS untuk memenangkan persaingan industri finansial.

Dalam keuangan sosial Islam, Indonesia memiliki banyak potensi dana sosial berbasis agama, seperti halnya dana zakat, wakaf, infaq , dan sedekah.

Saat pengumpulan dana zakat, realisasi dana yang dikumpulkan hanya hanya sekitar 4,4 persen dari potensi zakat pada 2019, penduduk Indonesia cenderung lebih memperhatikan amalan yang sifatnya lebih berjangka panjang dan kontinyu seperti dana wakaf. Indonesia diperkirakan memiliki potensi dana wakaf senilai Rp. 180 triliun dan wakaf tanah seluas 11.000 hektar. Baru-baru ini, pemerintah juga memperkenalkan sukuk wakaf, Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) adalah investasi wakaf uang pada sukuk negara yang imbalannya disalurkan oleh Nazhir (pengelola dana dan kegiatan wakaf) untuk membiayai program sosial dan pemberdayaan ekonomi umat.

Dalam keuangan mikro syariah ada istilah Bank Wakaf Mikro (BWM) yang sedang tren saat ini, dengan adanya Wakil Presiden Ma’ruf Amin juga baru-baru ini meminta industri tersebut untuk meningkatkan perkembangannya. BWM bukanlah bank, melainkan keuangan mikro berbasis wakaf. Berkaca dari pelopor keuangan mikro Bangladesh, Grameen Bank, BWM mengikuti model keuangan mikro dasar dari pembiayaan usaha mikro yang dikeluarkan dari lembaga keuangan formal karena mereka kekurangan agunan fisik.

Baca juga:  Polisi Leicestershire, Inggris Melakukan Uji Coba Penggunaan Hijab Untuk Pertama Kalinya

Model pinjaman berkelompok berdasarkan Peer Presure (jika salah satu anggota gagal bayar, anggota kelompok lainnya tidak akan mendapatkan pinjaman) hal ini dijadikan jaminan yang mempunyai efek sosial sebagai pengganti jaminan fisik. Sayangnya, Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) Indonesia memiliki reputasi yang kurang baik karena salah urus akibat kurangnya regulasi dan pengawasan.

Sebagai payung undang-undang, RUU ini sangat dibutuhkan, karena mengatur semua kegiatan di bidang ekonomi Islam, memasukkan insentif fiskal dan non-fiskal yang signifikan untuk memberikan lapangan bermain yang setara dan mendorong para pemangku kepentingan untuk secara aktif mengambil bagian dalam ekosistem ekonomi dan keuangan Islam.

Indonesia hanya memiliki beberapa peraturan yang ada di sektor keuangan Islam: Perbankan Islam, Sekuritas Syariah, dan Jaminan Produk Halal. Kita membutuhkan lebih banyak regulasi untuk mengatur sektor lain, seperti pasar modal syariah, asuransi syariah, dana pensiun syariah, pembiayaan ekspor syariah, asuransi simpanan syariah, pegadaian syariah, modal ventura syariah, keuangan mikro syariah, fintech syariah, pariwisata halal, fesyen Islami, halal media dan rekreasi.