Setiap jumat, banyak pria dan wanita Muslim di Jepang berduyun-duyun masuk ke masjid di gedung empat lantai sederhana di Beppu, tempat mata air panas di Kyushu, pulau besar paling selatan di Jepang.

Jumlah Muslim di Jepang Berkembang Pesat
Foto oleh Andre Benz di Unsplash

Tetapi penduduk setempat berhati-hati dalam membangun fasilitas untuk mereka

Banyak dari mereka adalah mahasiswa yang belajar di dekat Ritsumeikan Asia-Pacific University (APU) dan bekerja paruh waktu di hotel sekitar kota tersebut. Sementara yang lain datang untuk mengelola kapal penangkap ikan dan galangan kapal, sehingga populasi lokal yang menua dan menyusut tidak dapat lagi sepenuhnya menjadi pekerja di sana.

Jumlah jama’ah telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir, karena pemerintah berupaya untuk menarik lebih banyak pekerja dan pelajar asing. “Jumlah Muslim yang tinggal di Jepang, meskipun kecil, telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam dekade terakhir, dari 110.000 pada 2010 menjadi 230.000 pada akhir 2019 (termasuk sebanyak 50.000 mualaf Jepang)”, menurut Tanada Hirofumi dari Universitas Waseda. “Negara ini memiliki lebih dari 110 masjid, dan itu adalah perubahan yang disambut baik”, catat Muhammad Tahir Abbas Khan, seorang profesor di APU dan ketua Beppu Muslim Association (BMA). Pada 2001, ketika ia pertama kali tiba dari Pakistan sebagai mahasiswa pascasarjana, hanya ada 24 masjid di negara itu dan tidak ada satu pun di Kyushu.

Namun sementara umat Islam sekarang memiliki lebih banyak kesempatan untuk beribadah, mereka masih berjuang untuk menemukan tempat peristirahatan terakhir (pemakaman). Sekitar 99% orang Jepang dikremasi, sebuah praktik yang dilarang Islam. Pemerintah pusat tidak memiliki sistem untuk melayani kebutuhan orang asing dengan adat istiadat yang berbeda, sebagian karena pekerja asing dipandang sebagai pengunjung dari pada migran tetap. Kebanyakan prefektur, termasuk Oita, tempat Beppu berada, tidak memiliki kuburan Muslim. BMA telah bertahun-tahun mencoba untuk membangun satu di Hiji, konstelasi dusun di perbukitan Beppu, tetapi perlawanan masyarakat lokal telah menghambat proyek tersebut. “Jika saya mati hari ini, saya tidak tahu di mana saya akan dikuburkan”, keluh Khan.

Perselisihan pemakaman telah menjadi masalah untuk perdebatan yang lebih luas tentang tempat orang asing dalam masyarakat Jepang. Beberapa orang Jepang telah merangkul tetangga baru mereka, adat istiadat asing, dan sebagainya. “Karena sekarang mereka orang Jepang, kita harus mulai memahami siapa mereka dan apa budaya mereka”, kata Kawabe Yumiko

Baca juga:  Tantangan Dakwah Di Era Digital

Seorang anggota dewan kota yang mendukung pemakaman tersebut. “Kota kecil bisa menjadi internasional dan beragam.” Lainnya tidak setuju. “Jika mereka berkewarganegaraan Jepang, mereka harus mengikuti adat istiadat Jepang dan mengkremasi jenazahnya”, kata Eto Kiyotaka, anggota dewan lainnya, yang memprakarsai petisi menentang pemakaman.

BMA mulai mencari tanah pemakaman hampir satu dekade lalu. Gereja Katolik setempat setuju untuk berbagi pemakamannya sementara BMA mencari salah satu kuburannya sendiri. Pembicaraan dengan pemerintah kota tidak menghasilkan apa-apa, tetapi seorang biksu Buddha yang ramah membantu BMA menemukan sebidang tanah di lereng bukit tak berpenghuni di Hiji, tidak jauh dari biara Trappist dengan kuburan yang tidak digunakan. Mr Khan mengatakan kelompok itu telah menghabisakan sekitar ¥60 juta – ¥70 juta ($582.000 – $679.000) dan hampir tiga tahun dalam proyek tersebut. Waktu sekarang telah habis: kuburan Katolik sudah penuh. Namun, menjelang awal konstruksi, warga dusun terdekat menyampaikan kekhawatiran baru. Akankah tubuh mencemari pasokan air lokal? Mungkinkah mayat jatuh dari lereng bukit saat gempa bumi?

Gagasan menguburkan mayat bagi banyak orang di Hiji dianggap tabu. “Ini bukan sesuatu yang konkret, hanya perasaan”, kata Eto. “Kami tidak akan bisa minum air dengan nyaman.” Pak Eto telah menjalani seluruh hidupnya di dusun kecil dengan rumah tradisional dan sawah bertingkat. Begitu pula para leluhurnya sejauh yang dapat dia hitung, setidaknya empat generasi. Sampai sidang pemakaman dimulai, dia belum pernah bertemu dengan seorang Muslim. Dia mengatakan dia tidak menentang agama, tetapi khawatir bahwa bakteri akan masuk ke waduk di dekat lokasi yang direncanakan. Dia bertanya-tanya mengapa kota tidak mengizinkan pemakaman di pemakaman umum: “Jika pemerintah tidak melakukannya, pasti ada masalah.”

Ms. Kawabe, sebaliknya, bertanya-tanya apakah benar-benar air yang menjadi perhatian rekan senegaranya. Bukti ilmiah tentang keamanan penguburan diabaikan. Dukungannya untuk pemakaman memicu banyak panggilan dan surat yang marah. “Mereka berkata kepada saya, ‘Kamu orang Jepang, mengapa kamu berpihak pada Muslim?’” Penduduk setempat resah tentang masuknya pengunjung dan prospek pembukaan sekolah Islam berikutnya. “Banyak orang takut”, imbuhnya.

Baca juga:  Ramadhan Momentum Untuk Memperbaiki Dan Meningkatkan Ketakwaan

Itu memalukan, kata Khan, karena Jepang adalah “Tempat yang bagus untuk hidup”. Migran Muslim menghargai keamanan, kebersihan, dan fungsionalitas Jepang. “Anzen, Anzen,” COO sekelompok nelayan asal Indonesia di Tokyo, mengulangi kata Jepang untuk “keselamatan” ketika ditanya tentang kehidupan di Jepang. Orang-orangnya “Sangat baik”, kata Ben Madaliev, yang datang dari Uzbekistan dengan beasiswa untuk belajar bisnis di APU. Rekan-rekan kerja paruh waktunya menerima kebutuhannya untuk shalat lima waktu, dan bahkan rekan kerjannya mengingatkan ketika dia terlambat untuk sholatnya. Meskipun stereotip negatif tentang Islam berlimpah, kebanyakan orang Jepang hanya memiliki sedikit pengalaman langsung tentang Islam dan tetap berpikiran terbuka. “Jauh lebih baik daripada pergi ke Barat”, kata Ali, seorang mahasiswa Uzbek yang tinggal di Tokyo.

Dalam beberapa hal, fasilitas untuk umat Muslim di Jepang telah mengalami kemajuan. Bandara di Fukuoka menambahkan ruang sholat, catat Khan. Toko dan restoran halal tetap sedikit dan jarang, tetapi lebih banyak yang buka, terutama karena lebih banyak turis Muslim dari Asia Selatan dan Tenggara mengunjungi Jepang. Pejabat prefektur di Oita meminta bantuan BMA untuk menyiapkan sistem sertifikasi untuk restoran lokal. Beberapa sumber air panas bahkan menjual celana renang untuk umat Islam. Komunitas di Beppu memenangkan hati penduduk setempat dengan memasak dan membagikan makanan kepada mereka yang terlantar akibat gempa bumi besar pada tahun 2016. Mereka mengadakan festival tahunan dan makan malam gratis mingguan di masjid, yang bertujuan untuk menjalin hubungan baik dengan tetangga Jepang mereka. “Kami mencoba untuk saling memahami”, kata Khan. “Kami mengadopsi Jepang sebagai negara asal kami.”