Konferensi tingkat tinggi Gulf Cooperation Council (GCC) di AlUla minggu ini pasti akan dikenang sebagai puncak penyatuan kembali negara-negara arab, hal ini akan diakui sebagai momen ketika negara-negara GCC akhirnya menyudahi krisis di kawasan yang telah berlangsung selama tiga tahun. Kepentingan tertinggi masyarakat dari enam negara anggota dewan telah sepakat dan proses kerjasama telah disatukan kembali, membuka jalan bagi masa depan yang baru.

Konferensi Tingkat Tinggi AlUla
Yang Mulia Sheikh Mohammed Bin Rashid Al Maktoum, Vice President dan Prime Minister dari the UAE, Kuwaiti Emir Sheikh Nawaf al-Ahmad Al-Sabah, Emir dari Qatar Tamim bin Hamad Al-Thani, Omani Deputy Prime Minister Fahd Bin Mahmud, Pangeran Saudi Mohammed bin Salman, Pangeran Bahrain Salman bin Hamad Al-Khalifa dan Nayef al-Hajraf, Sekretaris Umum dari Gulf Cooperation Council (GCC) berpose untuk berfoto bersama sebelum sesi pembukaan KTT Gulf Cooperation Council (GCC) ke-41 di kota AlUla di barat laut Saudi – Foto oleh Dubai Media Office

Uniknya dalam hal ini – konferensi yang dibentuk 41 tahun lalu untuk melawan tantangan dan ancaman terhadap keamanan dan stabilitas negara-negara teluk – adalah upayanya untuk mengembangkan ekonomi dan mendorong kerjasama di berbagai bidang lainnya. Ada ikatan yang mengikat negara-negara GCC dan menghubungkan mereka bersama yang tidak ditemukan di hal serupa lainnya, atau bahkan di antara negara-negara Arab lainnya.

Bekerja sebagai satu sistem, oleh karena itu, negara-negara GCC dapat menghadapi urgensi krisis di sekitarnya dan mengambil tindakan dan langkah yang diperlukan, terlepas dari perbedaan mereka, untuk mengejar kepentingan yang lebih besar dari semua. Jika menimbang perihal tantangan yang dihadapi GCC dengan skala perbedaan di antara anggotanya, maka akan ditemukan tantangan yang lebih besar. Pada saat yang sama, kesadaran dari semua pemimpin GCC telah membawa mereka untuk bangkit dari masalah masa lalu dan mengesampingkan hal tersebut dalam bekerja untuk mewujudkan harapan atas aspirasi rakyatnya. Ini terutama didasarkan pada kemajuan laju pembangunan, yang secara alami terkait dengan kemajuan ekonomi.

Keadaan negara-negara GCC saat ini tak lepas dari pengaruh ancaman Iran, termasuk terorisme yang dilakukan oleh milisi sektarian Teheran. Hal ini membuat arsip politik dan keamanan menjadi yang paling mendesak dan paling penting karena konsekuensinya. Masalah ini awalnya merupakan titik ketidaksepakatan dan kemudian menjadi lingkaran penuh untuk membentuk titik kesepakatan setelah anggota GCC dengan suara bulat setuju untuk melawan tantangan dan ancaman secara bersama-sama.

Baca juga:  Titip Ukhuwah Untuk Nahkoda Baru Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Perihal ini dengan jelas dinyatakan oleh Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, yang membuka KTT atas nama ayahnya Raja Salman. Pernyataan yang dibacakannya menekankan pentingnya “solidaritas dan stabilitas Teluk, Arab dan Islam, dan memperkuat ikatan persahabatan dan persaudaraan antara negara dan rakyat kita untuk mewujudkan harapan dan aspirasi mereka. Ada kebutuhan untuk menyatukan upaya kita untuk memajukan kawasan kita dan menghadapi tantangan yang mengelilingi kita, terutama ancaman yang ditimbulkan oleh program nuklir rezim Iran, program rudal balistiknya, dan proyek sabotase destruktif yang diadopsi olehnya dan agen mereka melalui teroris dan kegiatan sektarian yang bertujuan untuk mengacaukan keamanan dan stabilitas di kawasan.”

GCC selalu memainkan banyak peran; pembebasan Kuwait pada 1990-an setelah invasi Saddam Hussein adalah salah satu contoh yang dengan jelas menggambarkan kerjasama untuk mencapai tujuan bersama.

Dengan cara yang sama, ancaman terhadap Bahrain yang ditimbulkan oleh milisi yang didukung oleh Teheran dihadapkan dan dihentikan. Jika tidak ada tindakan yang diambil, Manama akan terlempar ke dalam spiral kekacauan dan kehancuran. Namun berkat Peninsula Shield, yang mendukung Bahrain, upaya sabotase dan milisi Teheran digagalkan.

Hari ini, juga, Koalisi Arab – kekuatan yang berasal dari Teluk, terutama Arab Saudi – sedang bekerja untuk memulihkan legitimasi Yaman dan mengembalikan negara itu kepada warganya setelah milisi Houthi yang didukung Iran membajak dan menerornya.

Baca juga:  Di Jerman Semakin Banyak Perusahaan Berinvestasi Pada Produk Halal

Wilayah tersebut tetap berkonflik. Teheran berada di satu sisi dengan ideologi terornya yang mengekspor revolusi sektarian yang berbahaya, menggunakan terorisme dan milisi teroris, serta apa pun yang dapat dilakukannya, untuk menghancurkan keamanan dan stabilitas kawasan.

Sisi lain diwakili oleh negara-negara GCC yang mengekspor kekayaan dan bertujuan membangun ekonomi yang mengarah pada kemakmuran. Mereka mendukung peningkatan ekonomi dan memanfaatkan setiap sarana pembangunan yang tersedia untuk mencari proyek, penghasilan dan pemasukan yang tidak hanya bergantung pada minyak bumi, dalam upaya mencapai kemakmuran bagi seluruh rakyat di kawasan.

Kedua belah pihak – Iran dan GCC – sangat berbeda. Yang satu terkait dengan kematian, kehancuran, dan terorisme, sementara yang lain terkait dengan pertumbuhan, kemakmuran, dan kehidupan. Fakta sederhana inilah yang membuat para pemimpin kawasan menyadari bahwa rencana Iran yang merusak akan menghancurkan semua orang dan segalanya jika GCC tidak bersatu dalam upayanya.

Para pemimpin harus bekerja sama untuk menutup berkas tentang sengketa lain yang dipupuk dan diuntungkan oleh Teheran. Tidak ada keraguan bahwa setelah Perjanjian AlUla, Teheran akan menemukan dirinya terisolasi dan sendirian.

GCC telah bersatu melawan Iran dan bertindak untuk menetralisir bahaya dan teror yang dilakukannya selama ini. Tindakan baru ini akan membuat kawasan dan rakyatnya diberkahi, dan negara-negara anggota akan menikmati keamanan, stabilitas, dan kemakmuran ekonomi.