Dalam kaitan ini, peran guru tentu saja sangat menentukan. Mengapa, pertama-tama para guru lah yang memiliki kesiapan untuk melakukan pendidikan secara intens.

Menitipkan Karakter Bangsa Kepada Para Guru
Foto oleh NeONBRAND di Unsplash

Di dalam sistem pendidikan Nasional, memang tidak ada mata pelajaran karakter. Meski demikian, pendidikan nasional memiliki visi yang tegas tentang pembentukan karakter peserta didik bahkan karakter Bangsa. Oleh karenanya, untuk sampai pada tujuan pendidikan yang diantaranya membangun karakter bangsa tersebut, pendidikan karakter tersisipkan dalam berbagai mata pelajaran, semacam pelajaran agama, budaya, sejarah, pelajaran moral dan ilmu humaniora pada umumnya. Bahkan dalam konteks idealisme pendidikan secara makro, semua bidang studi yang diajarkan kepada siswa, mestinya mengandung konten pendidikan karakter. Tetapi melalui pendidikan humaniora, pendidikan karakter lebih banyak diamanahkan.

Melalui penajaman pada disiplin ilmu humaniora ini, diharapkan karakter anak didik akan terbentuk. Pada gilirannya kemudian secara kolektif, akan bermuara pada terjadinya endapan berupa karakter bangsa yang kental. Sehingga lembaga pendidikan nasional diharap tidak hanya melahirkan orang pandai dan terampil belaka, tetapi sekaligus juga melahirkan manusia yang baik karakternya dan khas Indonesia.

Jika kemudian pada hari-hari ini kita menyaksikan wajah Bangsa yang bopeng karena kegagalan mempertegas profil karakter bangsa, maka pendidikan yang memiliki tanggungjawab dalam pembentukan wajah-karakter bangsa memang layak untuk mawas diri. Apa yang telah dilakukan oleh dunia pendidikan, sehingga profil karakter bangsa seakan tiada pernah usai di format?

Peran Guru.

Dalam kaitan ini, peran guru tentu saja sangat menentukan. Mengapa, pertama-tama para guru lah yang memiliki kesiapan untuk melakukan pendidikan secara intens. Kedua, diluar lingkaran pertama pendidikan anak, yakni keluarga, maka sekolah adalah lingkaran kedua yang memiliki kesempatan besar untuk melakukan pendidikan dan itu adalah ruang gerak bagi para guru. Paling tidak ada waktu 5 (lima) jam setiap hari, dimana anak-anak atau generasi Indonesia kedepan berinteraksi dengan guru-guru mereka.

Baca juga:  Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Di sinilah, para guru mestinya memiliki visi yang baik tentang pentingnya karakter. Mereka lah yang akan memfasilitasi tumbuh-kembangnya karakter peserta didik sesuai dengan bakat dan nilai yang diyakini oleh para peserta didik tersebut. Sehingga tujuan pendidikan nasional untuk menciptakan manusia Indonesia yang utuh dapat terwujud.

Tetapi persoalannya, akhir-akhir ini visi dan pemahaman para guru tentang pentingnya karakter justru dipertanyakan banyak pihak. Apakah persoalan karakter siswa masih menjadi agenda para guru? Disinilah muncul banyak keraguan dan kekhawatiran itu.

Paling tidak hal ini terlihat dari menggejalanya sikap pragmatisme dalam memerankan profesi ke-guruan. Guru yang nota benenya adalah pendidik, saat ini justru banyak yang terjebak dalam pragmatisme pengajaran. Tanggungjawab moral sebagai pendidik mengalami reduksi sekedar sebagai pengajar, guru tidak mau ambil pusing, tentang moral, karakter, atau pun akhlak siswa, “ tugas saya adalah mengajar ! “

Situasi ini tentu saja preseden buruk bagi pendidikan karakter, karena mustahil karakter anak dan karakter bangsa dapat dikembangkan oleh para guru yang tidak memiliki karakter sebagai pendidik! Oleh karenanya, membangun karakter siswa dan karakter bangsa harus diawali dengan pemuliaan atas para guru, sementara itu pemuliaan atas guru hanya akan terjadi jika para guru tersebut memang memiliki kelayakan untuk dimuliakan dan itu berbasis pada kualitas karakter mereka sebagai pendidik.

Karakter Harus Berujung Pada Prilaku.

Ilmu-ilmu Humaniora, terutama pelajaran Agama dan Moral sebagai mata pelajaran yang paling sarat dengan muatan pendidikan karakter seringkali membuat para guru dalam dilema. Sebut saja, Arifin, Guru Agama yang telah lebih dari 8 tahun mengajar, ia sering mengalami dilema tersebut. Dalam beberapa kelas yang diasuh, sering ia jumpai kejadian dimana anak-anak tidak lulus dalam tes pelajaran agama, namun dari segi prilaku anak-anak tersebut sesungguhnya telah melampaui target pendidikan agama.

Baca juga:  Apa Sesunggunya Masa Atau Waktu?

Mereka telah sholat, mereka puasa, sikap terhadap guru dan teman-teman juga baik, tetapi angka tes-nya tidak bisa melampaui angka 5. Sebaliknya ada beberapa anak cerdas yang nilai tesnya bagus hingga 8 bahkan 9, tetapi ada di antara mereka yang sikapnya kepada teman dan guru justru tidak baik. Arifin sering mengalami dilema dalam hal ini, siapa yang sesungguhnya yang harus ia beri nilai bagus di antara dua kutub ini?

Pada umumnya para Guru kita lebih menggunakan patokan nilai tes dalam menentukan skor atau nilai rapor siswa, daripada mengacu kepada prilaku siswa. Siswa dengan nilai tes tinggi (cerdas) memang cenderung lebih menonjol dan teramati daripada siswa yang baik prilakunya tetapi kecerdasannya biasa-biasa saja.

Ini lah bias lain yang juga muncul terkait peran Guru dalam pendidikan karakter. Menjadi tidak relevan jika pendidikan karakter sekedar diajarkan agar siswa tahu dan hapal. Pendidikan karakter adalah upaya yang mesti berujung pada perubahan prilaku, dari prilaku tidak baik menjadi prilaku yang lebih baik.

Pendidikan karakter dengan demikian tidak cukup sekedar diajarkan dan diketahui. Ia harus dilakukan dan menjadi prilaku. Mengajarkan karakter dengan demikian tidak cukup juga hanya dengan mengatakannya, mencatat, dan membacanya secara bersama. Pendidikan karakter membutuhkan keteladanan dan kesiapan para guru untuk menjadi role of models di depan para siswanya.