Kecintaan itu adalah apa yang engkau rasakan dalam hatimu, apa yang engkau buktikan dalam langkahmu, apa yang engkau buktikan dalam karyamu, dan apa yang engkau buktikan dalam kehidupanmu. Cinta itu menghujam, menikam, mencurahkan, terpancar, berhembus dan menebar, lalu bersujud.

Menyingkap Rahasia Cinta Sejati
Foto oleh Jamez Picard di Unsplash

Cinta itu laksana rembulan dan matahari yang menyinari alam semesta, dia tidak pernah berpikir dan tidak permah mengharap apa yang bisa didapatkannya, tetapi yang dia pikirkan dan yang dia inginkan bagaimana karena cintanya dia bisa memberi dan bermanfaat menyinari alam semesta. Sehingga makhluk-makhluk, para penghuni, para pemuja, para pencinta, dan para hamba mendapatkan anugerah, mendapatkan manfaaat, dan mendapatkan hikmah dari keberadaannya.

Kecintaan engkau kepada Sang Pencipta harus ditunjukkan dengan apa yang engkau bisa lakukan untuk menghamba kepada-Nya. Kecintaan engkau kepada Sang Pencipta harus dibuktikan dengan apa yang bisa engkau lakukan untuk memenuhi kecintaanmu kepada-Nya. Kecintaanmu kepada Sang Pencipta harus melahirkan pribadi-pribadi yang bersahaja yang memilki kemampuan menebar Islam, menebar kemuliaan, menebar dakwah dan menebar kesejatian.

“Orang yang belas kasihan akan dikasihi Arrahman (Yang Maha Pengasih), karena itu kasih sayangilah yang di muka bumi, niscaya kamu dikasih-sayangi mereka yang di langit.” — HR. Bukhari

Kecintaan itu ada dalam hati, kecintaan itu dalam jiwa dan kecintaan itu dalam raga. Antara hati, jiwa dan raga harus bersatu padu menunjukkan bahwa mereka adalah makhluk, bahwa mereka adalah yang dicipta dan bahwa mereka adalah sujud wujud penciptaan-Nya.

Cinta tidak hanya dimata dan tidak hanya dihati, tetapi cinta adalah wujud apa yang diiyakan, apa yang didengungkan, apa yang dipikirkan, apa yang disejatikan lalu cinta bersatu, berpadu, mengatakan, melakukan dan menyebarkan. Cinta itu adalah wujud dari apa yang diciptakan-Nya, penciptaan seluruh makhluk, penciptaan alam semesta dan penciptaan-penciptaan-Nya dimulai dari kecintaaan Allah kepada apa yang dikehendaki-Nya. Ada makhluk yang diciptakan untuk membantu mahluk lain, ada makhluk yang diciptakan untuk bersujud, ada makhluk yang diciptakan karena penghambaan dan ada mahluk yang diciptakan untuk memberikan manfaat kepada mahluk lain tetapi tidak dimintai pertanggungjawaban.

Seorang yang mengingkari Sang Pencipta sebenarnya dia bukan tidak memiliki cinta, tetapi cintanya adalah cinta-cinta buta, cintanya tidak diberikan kepada yang memiliki cinta, cintanya disalahgunakan, cintanya diabaikan, cintanya hanya kepada makhluk-makhluk dan cintanya berhenti daripada apa yang sejati. Mereka memiliki cinta, tetapi cintanya tidak padu antara hati, jiwa dan raga.

Kecintaan kepada makhluk adalah kecintaan syahwatnya dan kecintaan hatinya yang cenderung kepada keburukan. Cintanya tidak jelas karena diombang-ambing dan diselimuti oleh awan keduniaan. Yang mengingkari itu adalah jiwa yang terpendam, jiwa yang gelap, jiwa yang tidak menyinari, jiwa yang rapuh dan jiwa yang tunduk bukan kepada Yang Maha Pemberi Cinta.

Cinta itu ada dalam seluruh yang diciptakan Allah. Bangsa-bangsa jin memiliki cinta, manusia-manusia memiliki cinta, binatang-binatang memiliki cinta, alam-alam memiliki cinta dan yang tidak memiliki cinta ialah apa yang dikehedaki-Nya. Tidak ada mahluk satu pun, tidak ada apapun makhluk di langit dan di bumi yang bukan diciptakan oleh Yang Maha Pencipta.

Mereka yang mencari dan mereka yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, maka merekalah para pencinta sejati. Namun mereka yang saat ini mengakui ada makhluk-makhluk yang dianggap Tuhan-nya, itu adalah keyakinan yang semu, dia mencari Tuhan tetapi yang didapatkanya makhluk, dia mencari Tuhan tetapi yg didapatkannya kecintaan semu, dan dia mencari Tuhannya tetapi tidak menemukan Tuhan Sejati.

“Barangsiapa tidak mengasihi dan menyayangi manusia maka dia tidak dikasihi dan tidak disayangi Allah.” — HR. Bukhari

Bila tidak ada yang memberikan pencerahan, tidak ada yang memberikan pengetahuan, tidak ada yang mengajarkan bagaimana mencintai Sang Pencipta, maka apa yang dilakukanya tidak dipertanggungjawabkannya kepada yang memberi cinta. Dia terlena dalam kebingungan, dia terlena dalam kesesatan, dia terlena dalam keangkuhan, dan dia terlena dalam keburukan. Selama dia mengakui bahwa ada Yang Maha Pencipta dan memiliki cinta, maka yang diakuinya bisa jadi adalah karena dia mencari tetapi dia belum menemukan Tuhan. Lalu pertanggungjawaban dihadapan Tuhannya tergantung daripada apa yang dilakukan, apakah melalaikan, mengingkari atau kelalaian dan kealfaannya. Tetapi kalau yang dilakukan karena mengingkari kebenaran yang telah dterimanya, maka dia tersesat, dan dia termasuk orang-orang yang tidak dicintai oleh Yang Maha Pencipta dan tidak dicintai oleh Yang Maha Mencintai.

Baca juga:  Tersesat Di Jalan Cinta

Manusia diberikan akal, diberikan pikiran untuk terus mencari siapa Tuhannya, siapa Tuhan yang sejati. Ketika cahaya itu datang mencoba mengingatkannya lalu dia kembali kepada Tuhannya, sejatinya dia adalah yang dimiliki oleh Yang Maha Pencipta yang kemudian mengingkrarkan bahwa dia adalah serorang hamba. Tetapi kalau kemudian ketika datang penyampai-penyampai kebenaran yang menyinari cahaya lalu dia menolak dan mengatakan aku tidak memiliki Tuhan selain yang aku sembah saat ini, karena aku dengannya mendapat banyak kebaikan maka itulah berhala-berhala yang dituhankan, dia menolak kebenaran dan menolak cahaya.

Cinta yang sejati ditakdirkan hanya kepada hamba-hamba yang memilki keinginan untuk menjadi manusia-manusia sejati. Cinta sejati ditakdirkan kepada hamba-hamba yang mencari kesejatian. Kesejatian itu berawal dari jalan-jalan yang melelahkan, lalu dia terus mencari jalan-jalan yang luas dan jalan-jalan yang lebar. Cinta sejati berada dalam hati, dalam jiwa, dalam raga hamba-hamba yang mencari kesejatian. Cinta sejati dianugerahkan bukan kepada semua mahluk, cinta sejati akan kembali dalam wujud sejati sang penciptaan. Cinta sejati berada dalam keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad rasul yang menyempurnakan risalah penciptaan, risalah pengabdian, dan risalah kedamaian.

Cinta sejati dimulai dari hati-hati, dari jiwa-jiwa, dari raga-raga yang menyucikan diri. Cinta sejati dimiliki oleh orang-orang yang menafakuri diri, mengenal diri lalu dia akan mengenal cinta-cinta yang sejati. Cinta sejati hanya diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki. Cinta sejati ada dalam hati-hati orang yang menafakuri diri, dan mengatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada kekuatan selain Allah, tidak ada kesempurnaaa selain Allah, tidak ada daya upaya selain dari Allah, tidak ada nafas selain Allah, tidak ada ilmu selain Alah, tidak ada wujud selain Allah, tidak ada kebaikan selain Allah, dan tidak ada kesempurnaan selain Allah. Itulah cinta sejati, dia tidak begerak selain karena gerak yang dikehendaki-Nya.

Apabila Allah hanya memilih kepada hamba-hambanya tertentu untuk mendapatkan cinta sejati, lalu dimanakah keadilan Allah ?. Yang tidak diketahui manusia tentang apa yang diciptakan Allah adalah tentang keadilan dan kehendak-Nya. Kehendak-Nya tidak bisa diintervensi dan tidak bisa dingkari oleh manusia. Kehendak-Nya adalah sesuatu yang ghaib bagi manusia dan bagi makhluk-Nya. Ketidakadilan itu bukan karena pandangan makhluk, makhluk tidak memiliki kemampuan, tidak memilki kekuatan, dan tidak memiliki kekuasaan untuk menilai keadilan Yang Maha Pencipta. Makhluk tidak memiliki apapun untuk menilai apa yang diciptakan oleh Yang Maha Pencipta.

Baca juga:  Universitas Islam Indonesia (UII) Telah Memenangkan Ajang International Cloud Based Business Competition

Makhluk tidak pernah memiliki kemampuan, tidak memiliki ilmu untuk mengetahui hakikat daripada apa yang diciptakan-Nya. Makhluk harus sujud dan taat terhadap ketentuan-Nya. Sesuatu yang engkau lihat tidak baik, sesuatu yang engkau lihat tidak adil, sesuatu yang engkau lihat jelek, sesuatu yang engkau lihat menakutkan pada hakikatnya engkau terjebak pada apa yang engkau lihat. Tidak pernah engkau mampu menembus apa yang sejaitnya diinginkan Allah dengan penciptaan yang engkau anggap buruk. Buruk itu menurut pandanganmu, tetapi belum tentu menurut pandangan Tuhanmu. Tidak ada yang mampu mengadili apa yang diciptakan Tuhanmu, tidak ada yang bisa menerjemaahkan maksud dan tujuan daripada penciptaan-Nya. Engkau melihat hanya dari apa yang engkau lihat dari ragamu, engkau dibatasi untuk melihat makna dan hakikat daripada apa yang dciptakan oleh Allah SWT.

Engkau tidak bisa kemudian memprotes dan mempertanyakan terhadap hakikat dari keburukan, karena bisa jadi keburukan itu datang kepadamu namun belum tentu memiliki hakikat buruk, dan begitu pun belum tentu kebaikan yang datang kepadamu memiliki hakikat kebaikan. Bisa jadi seorang hamba diuji dengan keburukan padahal dia mendapatkan hakikat kebaikan dan begitupun sebaliknya bisa jadi seorang diuji dengan kebaikan tetapi sejatinya ia mendapatkan hakikat keburukan.

Seorang yang datang di tengah malam menanyakan kepada Tuhannya tentang nasib buruk yang dirasakannya, lalu kemudian digantikanlah keburukan itu dengan kebaikan, namun kebaikan yang menggantikan keburukannya itu ternyata menjadikan dia semakin jauh dengan Allah, maka keburukan yang awal dirasakannya itu ternyata tidak lebih buruk dari kebaikan yang diharapkan. Sehingga tentang kebaikan dan keburukan itu hanya Allah yang tahu tentang hakikatnya.

Untuk mendapatkan cinta sejati, maka berdoalah engkau kepada Allah dengan doa “Ya Allah, berikanlah rahmat kepada kami, keluarga kami, anak-istri kami, orang tua kami, para leluhur kami, guru-guru kami, orang-orang yang mencintai kami. Hanya engkau yang memberi rahmat. Ya Allah lapangkanlah hati kami, lapangkanlah rezki kami, lapangkanlah kebaikan dan persempit serta jagalah jangan sampai keburukan menimpa kami. Ya Allah Engkau Yang Maha Tahu apa yang tidak kami tahu, berilah kami pengetahuan yang mulia, pengetahun yang memancarkan cahaya, pengetahuan yang ada di langit dan di bumi semata untuk kemaslahatan kehidupan hamba-hambamu dan semata-mata untuk kemaslahatan kehidupan alam semesta. Ya Allah Jadikanlah hati kami yang bersujud, jadikanlah jiwa kami yang kembali tenang datang kepada-Mu, jadikanlah raga kami adalah raga sebaik yang dapat mengemban amanah. Ya Allah, anak-anak kami, jagalah mereka, hingga mereka menjadi orang yang saleh dan salehah serta orang-orang yang menyebarkan kebaikan. Lindungilah mereka dari godaan-godaan setan, dari godaan-godaan keburukan, dari godaan-godaan kejahilan, dari godaan-godaan kemusyrikan, dari godaan-godaan kemunafikan, dari godaan-godaan kekafiran, dan semoga mereka menjadi hamba-hamba-Mu yang saleh dan salehah. Ya Allah, jadikanlah apa yang engkau ciptakan menjadi suatu yang memberikan manfaat kepada kami dan tunduk dengan izin-Mu kepada kami. Janganlah kami dilalaikan dengan kehidupan dunia, janganlah kami dilalaikan dengan kepentingan-kepentingan dunia, janganlah kami dilalaikan selain karena kami ingin bersujud kepada-Mu ya Allah”.