Mereka yang memiliki cinta dan dicintai Allah selalu terus mengupayakan agar hidupnya adalah hidup yang diberkahi Allah.

Mereka Yang Memiliki Cinta Dan Dicintai Allah
Foto oleh Edi Libedinsky di Unsplash

Tanda-tanda orang yang dicintai dan mencintai Allah dapat dilihat dari kehidupannya yang menebar kebaikan. Hidupanya tidak lepas dari cara-caranya untuk mendekatkan diri kepada Allah yang menciptakan kerajaan langit dan bumi. Hidupnya dipenuhi cinta, cinta yang bersumber dari hatinya, dan cinta yang bersumber dari Allah yang memberikan cinta.

Sesungguhnya jika Allah Ta’ala menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka dia dikaryakannya. Para sahabat lalu bertanya tentang sabda Nabi Saw tersebut, “Bagaimana dikaryakannya itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Diberinya taufiq untuk beramal sholeh sebelum wafatnya.” (Mashabih Assunnah)

Barangsiapa melapangkan kesusahan (kesempitan) untuk seorang mukmin di dunia maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat dan barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah selalu menolong hamba yang suka menolong kawannya. Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu maka Allah akan mempermudah baginya jalan ke surga. Suatu kaum yang berkumpul dalam sebuah rumah dari rumah-rumah Allah, bertilawat Al Qur’an dan mempelajarinya bersama maka Allah akan menurunkan ketentraman dan menaungi mereka dengan rahmat. Para malaikat mengitari mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan para malaikat yang ada di sisiNya. Barangsiapa lambat dengan amalan-amalannya maka tidak dapat dipercepat dengan mengandalkan keturunannya. — HR. Muslim

Dia datang di pagi hari menemui orang-orang di sekitarnya untuk menyampaikan salam, menghembuskan nafas-nafas kesejatian kehidupan dan menyampaikan cinta seraya mengatakan kepada makhluk-makhluk yang ada di langit dan di bumi semoga Allah menyertai dan mencintai kalian, semoga Allah menjadikan kehidupan ini adalah sebaik-baik kehidupan, dan mengemban kehidupan dalam rangka menjadikan hidup ini adalah pengabdian kepada-Nya. Setiap pagi dia mendatangi orang-orang yang ada disekitarnya menyampaikan cinta dan menyampaikan kebaikan-kebaikan seraya mengatakan dalam dirinya bahwa aku hidup untuk menghidupi mereka yang dihidupkan Allah untuk mencintai mereka yang dihidupkan Allah dan untuk mengasihi mereka yang dihidupkan Allah . Itulah tanda-tanda orang yang dicintai dan mencintai Allah, kehidupannya adalah kehidupan seorang hamba yang mengabdi dan mencintai kehidupannya, yaitu kehidupan yang terus menebar kebaikan dan terus menebar kemaslahatan.

Jangan meremehkan sedikitpun tentang makruf (kebaikan) meskipun hanya menjumpai kawan dengan berwajah ceria (senyum). — HR. Muslim

Tiap menjelang pagi hari dua malaikat turun. Yang satu berdoa: “Ya Allah, karuniakanlah bagi orang yang menginfakkan hartanya tambahan peninggalan.” Malaikat yang satu lagi berdoa: “Ya Allah, timpakan kerusakan (kemusnahan) bagi harta yang ditahannya (dibakhilkannya).” — Mutafaq’alaih

Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah yang paling banyak berkeliling di muka bumi dengan bernasihat kepada manusia (makhluk Allah). — HR. Ath Thahawi

Tanda kebaikan itu bisa dilihat dari dua perkara. Pertama keinginannya untuk menjadi orang-orang yang baik dan untuk menjadi orang-orang yang saleh dan yang kedua adalah ikhtiarnya untuk menjadikan dia sebagai orang-orang yang baik dan menjadi orang-orang yang saleh. Bisa jadi kebaikan itu datang kepadamu bukan karena engkau memberi sesuatu materi kepada orang-orang yang membutuhkannya, tetapi karena engkau mencintainya dengan cara bagaimana engkau bisa memberi apapun yang engkau miliki, apakah dengan doamu, apakah dengan cintamu, atau dengan apapun yang engkau miliki.

Barangsiapa dibukakan baginya pintu kebaikan (rezeki) hendaklah memanfaatkan kesempatan itu (untuk berbuat baik) sebab dia tidak mengetahui kapan pintu itu akan ditutup baginya. — HR. Asysyihaab

Mereka yang memiliki cinta dan dicintai Allah selalu terus mengupayakan agar hidupnya adalah hidup yang diberkahi Allah. Dia tidak pernah menganggap bahwa hidupnya adalah hidup dirinya, dia tidak pernah menganggap kehidupannya terpisah dari kehidupan makhluk yang lain. Ia merasa bahwa yang menjadikan kehidupannya adalah Allah, lalu kemudian Allah menganugerahkan kepada makhluk-makhluk-Nya untuk saling mencintai dan dicintai. Itulah tanda-tanda orang yang mendapatkan cinta dan memberi cinta kepada Allah.

Baca juga:  Daulat Ekonomi Di Tengah Pusaran Kuat Kapitalisme Global

Dunia dihuni empat ragam manusia. Pertama, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan dan ilmu pengetahuan lalu bertakwa kepada Robbnya, menyantuni sanak-keluarganya dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atasnya maka dia berkedudukan paling mulia. Kedua, seorang yang diberi Allah ilmu pengetahuan saja, tidak diberi harta, tetapi dia tetap berniat untuk bersungguh-sungguh. Sebenarnya jika memperoleh harta dia juga akan berbuat seperti yang dilakukan rekannya (kelompok yang pertama). Maka pahala mereka berdua ini adalah (kelompok pertama dan kedua) sama. Ketiga, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan tetapi tidak diberi ilmu pengetahuan. Dia membelanjakan hartanya dengan berhamburan (foya-foya) tanpa ilmu (kebijaksanaan). Ia juga tidak bertakwa kepada Allah, tidak menyantuni keluarga dekatnya, dan tidak memperdulikan hak Allah. Maka dia berkedudukan paling jahat dan keji. Keempat, seorang hamba yang tidak memperoleh rezeki harta maupun ilmu pengetahuan dari Allah lalu dia berkata seandainya aku memiliki harta kekayaan maka aku akan melakukan seperti layaknya

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” — QS. Al A’raf:199

Janganlah engkau menghindari apa yang telah Allah berikan kepadamu, dan jangan pula engkau merasa bahwa apa yang engkau miliki adalah sesuatu yang tidak baik, padahal itu diizinkan dan diberikan oleh Allah kepadamu. Jangan engkau merasa bahwa memberi itu lebih baik daripada mendoakan, dan jangan pula engkau merasa bahwa memberi itu lebih baik daripada mencintai. Hari ini banyak orang yang diberikan materi, tetapi dia tidak mampu mencintai, dan banyak orang yang diberikan gelimang kemegahan kehidupan, kemegahan dunia dan kemegahan kekayaan materi tetapi dia tidak mampu mencintai dan tidak mampu dicintai.

Hakikat pemberian itu adalah tentang bagaimana engkau bisa menjadikan hatimu adalah hati yang memberi, hati yang mencintai dan hati yang mendoakan. Bila engkau diberikan materi yang berlebihan belum tentu engkau bisa mengaturnya untuk memberikan kepada yang membutuhkannya, tetapi kalau hari ini engkau diberikan cinta, maka pasti engkau akan mampu memberi apapun yang engkau miliki dengan cinta yang engkau miliki itu.

“Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati).” — HR. Abu Ya’la

Hari ini banyak orang-orang yang bergelimang materi, lalu dia disibukkan untuk mengatur memberi kesana kemari, mengkhawatirkan dunianya hilang, mengkhawatirkan materinya hilang, dan mengalkulasi materinya, padahal yang dimilikinya dan Allah anugerahkan kepadanya begitu banyak. Itu menunjukkan kepada engkau jangan berkecil hati dengan materi, karena sesungguhnya engkau memiliki kekayaan yang besar, yaitu di mana niat dan ikhtiarmu untuk selalu memberi manfaat kepada sesama, itu adalah kemuliaan dan keagungan serta itulah kekayaan kehidupan.

“Apabila Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui upayamu, itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam.” — HR. Bukhari dan Muslim

Kalau hari ini engkau diberi sesuatu, maka ketika engkau tidak mampu memberikan itu kepada orang-orang yang membutuhkannya, maka engkau tidak termasuk orang yang memberi dan diberi cinta. Namun ketika engkau tidak diberikan apapun, tetapi engkau mencintai dengan hatimu, engkau menangis dengan hatimu ketika merasakan derita yang diterima oleh orang lain saat mendapatkan kesulitan, itu adalah tanda cinta anugerah cinta dari Allah yang merasuk dalam hatimu.

Jangan engkau mengira diantara orang-orang yang bergelimang kekayaan hatinya bahagia ketika menghadapi hari-hari seperti sekarang ini. Bergelimang kekayaannya tetapi begitu sulit untuk membagi kepada sesamanya. Mengalkulasi bagaimana dia bisa memberi, padahal yang diberikan Allah kepadanya jauh lebih besar dengan apa yang akan diberikan kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Baca juga:  Visi Perahu Nuh Tentang Bencana Yang Akan Terjadi

Engkau melihat dan engkau dihadirkan bersama orang-orang yang memiliki kekayaan, dan engkau rasakan apa yang ada dalam hatimu. Bukankah engkau lebih kaya dibandingkan dengan mereka, karena engkau terus memiliki niat untuk memberi kepada sesama, padahal engkau tidak memiliki apapun, dan itulah yang disebut dengan cinta.

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” — QS. An Nur:22

Bila hari ini engkau merasa bahwa engkau tidak diberi kekayaan, bukan berarti engkau tidak memiliki kecintaan dan bukan berarti engkau tidak memiliki kekayaan kehidupan, tetapi sejatinya kekayaan adalah menghadirkan cinta lalu engkau memberi kepada siapapun dengan cinta itu, walaupun bukan hanya sebatas materi yang engkau berikan.

Seringkali engkau berpikir bahwa karena tidak memiliki kekayaan lalu engkau khawatir terhadap nasib orang tuamu, hal itu menunjukkan bahwa seolah engkau mampu mengatur kehidupan yang dimiliki oleh Allah yang maha pemberi cinta dan maha memiliki cinta. Engkau meremehkan kekuatan Allah, bukankah Allah bisa memberikan apapun kepada orang tuamu dengan jalan apapun yang dikehendaki-Nya. Bukan engkau yang mengatur pemberian kepada orang tuamu dan bukan pula engkau yang mengatur pemberian kepada siapapun, tetapi yang Allah aturkan kepadamu adalah kecintaan dan kepasrahan.

Kalau hari ini engkau diberikan kesulitan, maka pasrahkan kepada Allah apa yang menjadi bebanmu, karena Allah tidak akan membiarkan makhluk-makhluk-Nya kesulitan dengan cinta yang dimiliki-Nya. Yang ada dalam hatimu adalah kegundahan ketika engkau tidak memiliki apa-apa karena engkau merasa bahwa hidupmu engkau bisa atur sendiri, karena engkau merasa bahwa kehidupanmu milikmu. Sejatinya Allah mencintaimu, Allah memberikan engkau ilmu, dan dengan ilmu itu engkau menebar kebaikan, dengan ilmu itu engkau menebar kemaslahatan dan dengan ilmu itu engkau menebarkan cinta kepada orang-orang yang membutuhkan.

Bila hari ini ada orang-orang yang membutuhkan bantuanmu, maka bantulah dengan ilmu yang engkau miliki. Bisa jadi ilmu yang engkau berikan kepada mereka adalah ilmu-ilmu yang memberikan kebahagiaan kepadanya. Itulah tanda-tanda bagaimana engkau mengetahui cinta dan dicintai, dan jangan engkau merasa bahwa hidupmu engkau yang mengatur. Kalau hari ini Allah memberikan engkau sebuah peluang kehidupan, maka jalankanlah itu dengan kebaikan-kebaikan. Kalau hari ini Allah memberikan kesempatan kepada engkau untuk bermunajat maka lakukan munajat itu dengan kebaikan dan kecintaan. Kalau hari ini Allah memberikan engkau cinta dengan ilmu yang engkau dapatkan maka amalkan ilmu-ilmu itu dengan mengharap keridaan-Nya. Begitu pun kalau hari ini Allah memberikan engkau kesukaran maka bersabar dan bersabarlah dengan kesukaran itu. Sesungguhnya itulah cinta, itulah hakikat kekayaan, dan itu adalah hakikat kehidupan yang Allah berikan kepadamu.

Maka bermohonlah kepada Allah dengan doa “Ya Allah, semoga yang ditunjukkan Engkau kepadaku adalah sebuah kebaikan, dan bimbinglah aku untuk mendapatkan kebaikan itu. Lindungi aku dari mendapatkan kesulitan dan keburukan, karena sejatinya aku tidak memiliki apapun, karena yang maha memiliki adalah Engkau, yang maha mengatur adalah Engkau. Aku hidup di dunia ini ibarat sebuah buih yang berada dalam lautan yang besar, terombang-ambing karena ombak di lautan itu, yang akan menghadirkan aku menuju kesana-kemari adalah kehendak-Mu. Aku tidak mampu tanpa engkau beri kemampuan, aku tidak memiliki tanpa engkau berikan aku sesuatu, aku tidak berkuasa tanpa engkau berikan aku kekuatan, aku tidak mampu dan tidak mau ketika engkau tidak mau memberikan itu kepadaku”.