Disepakatinya Pancasila sebagai dasar negara oleh para pendiri bangsa berarti diakuinya kesamaan cara pandang, nilai, kepribadian, kepentingan, dan cita-cita yang dianut dan diyakini oleh warga bangsa.

Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Foto oleh Refhad di Unsplash

Pancasila sebagai dasar negara sebagaimana dirumuskan oleh para pendiri bangsa tidak tumbuh dari ruang kosong. Saat perumusan Pancasila, para pendiri bangsa menghadirkan memori dan imajinasi kebangsaan secara bersamaan. Jejak sejarah kebangsaan sejak masa kejayaan nusantara sampai masa penjajahan di mana mereka turut mengalaminya berpadu padan dengan harapan akan masa depan bangsa yang mereka cita-citakan. Bagi para pendiri bangsa, merumuskan dasar negara berarti melakukan pemahaman dan penyadaran terhadap jiwa, kepribadian, dan idealitas bangsanya sendiri.

Ir. Soekarno sebagai perumus Pancasila mengakui bahwa Pancasila digali dari bumi Indonesia dan dari jiwa masyarakat Indonesia sendiri. Meskipun perannya sangat besar dalam merumuskan Pancasila melalui gagasan yang disampaikannya dalam pidato 1 Juni 1945 di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), ia enggan disebut sebagai pencipta Pancasila. Ia hanya mengakui telah merumuskan dan mengutarakan Pancasila. Baginya, Pancasila adalah isi jiwa bangsa Indonesia yang sudah ada turun temurun selama berabad-abad namun terpendam oleh adanya penjajahan. Sehingga, karena Pancasila merupakan jiwa bangsa Indonesia, dapat dikatakan bahwa Pancasila adalah filsafat bangsa Indonesia.

Adanya kesamaan pengalaman dan penderitaan yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia sekian lamanya membuat mereka merasa adanya kesamaan sebagai suatu bangsa. Bangsa Indonesia pelan-pelan tumbuh karena adanya warga bangsa yang merasakan pengalaman dan penderitaan yang sama sehingga menumbuhkan kesamaan karakter, kehendak, dan cita-cita dalam suatu wilayah di mana mereka hidup dan bertumbuh. Sehingga, selain Pancasila sebagai filsafat bangsa Indonesia, Soekarno meyakini bahwa Pancasila juga sebagai alat pemersatu bangsa. Sebagai alat pemersatu, Pancasila di mata Soekarno bukan saja alat yang menyatukan bangsa ke dalam wadah Negara Republik Indonesia, tapi juga alat yang mempersatukan bangsa dalam perjuangan melawan penjajahan.

Disepakatinya Pancasila sebagai dasar negara oleh para pendiri bangsa berarti diakuinya kesamaan cara pandang, nilai, kepribadian, kepentingan, dan cita-cita yang dianut dan diyakini oleh warga bangsa. Penegasan Pancasila sebagai dasar negara berarti memberikan identitas yang sama kepada bangsa Indonesia, tidak hanya berkaitan dengan sejarah masa lalu, tetapi juga perjalanan bangsa di masa depan. Dengan demikian, Pancasila seyogyanya dapat menjadi alat pemersatu bagi sebuah bangsa yang baru saja berbentuk. Pancasila menjadi penting perannya dalam upaya menyepuh identitas kebangsaan bagi sebuah negara kesatuan bernama Indonesia.

Baca juga:  Manila Akan Mendeklarasikan 1 Februari Sebagai Hari Hijab Nasional

Sesungguhnya, menyatukan bangsa Indonesia dengan wilayah geografis yang luas dan beragam suku bangsa dan bahasa tidaklah mudah. Namun, para pendiri bangsa telah berhasil menyatukan dan mengantar bangsa Indonesia menuju pintu gerbang kemerdekaan. Kalau para pendiri bangsa merasa tidak terlalu kepayahan dalam menyatukannya, tentu hal ini lebih karena adanya ikatan kesejarahan yang dialami telah menciptakan embrio kebangsaan yang menjadikannya hampir matang untuk dilahirkan.

Namun, menjaga keutuhan suatu bangsa bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sama tidak mudahnya. Menjaga keutuhan NKRI berarti terus menerus mengokohkan bangunan kebangsaan yang semula hanya kepingan-kepingan kedaerahan. NKRI akan semakin kokoh jika generasi penerusnya terus menerus merawat dan menjaga keutuhannya.

Keutuhan NKRI akan terus terjaga jika tercipta keadaan-keadaan yang membuat mereka tetap nyaman berada dalam suatu bangsa. Antara lain, jika warga bangsa di dalamnya merasakan adanya kehidupan yang damai dalam rumah NKRI. Juga, jika harapan dan cita-cita yang digariskan oleh para pendiri bangsa dapat dirasakan dan dialami secara nyata proses pencapaiannya. Jika para warga bangsa merasakan bahwa kesamaan identitas sebagai suatu bangsa mampu merekatkan satu sama lain meskipun diliputi oleh beragam identitas yang lebih kecil, seperti suku, agama, adat, dan bahasa. Jika jiwa dan falsafah bangsa, yakni Pancasila, akan tetap koheren dengan jiwa dan falsafah pribadi-pribadi warganya di tengah perubahan zaman yang begitu cepat dan mengglobal.

Baca juga:  Arab Saudi Berencana Akan Membangun Kota Tanpa Emisi

Keutuhan NKRI perlu dikhawatirkan jika warga bangsa di dalamnya merasakan kehidupan yang penuh dengan konflik dan pertikaian. Jika warga bangsa merasakan bahwa cita-cita yang menjadikan NKRI ini hadir, di antaranya melindungi, mencerdaskan, dan mensejahterakan warga bangsa tak kunjung terasakan pencapaiannya. Jika adanya kesamaan tanah air, bangsa, dan bahasa tidak bisa merekatkan berbagai perbedaan identitas yang ada pada warganya. Jika para penyelenggara negara dan warganya menunjukkan laku bernegara dan bermasyarakat dengan cara yang tidak mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Jika realitas sosial yang ada di masyarakat bertolak belakang dengan idealitas Pancasila, misalnya, alih-alih keadilan sosial yang terjadi justru kesenjangan sosial.

Keadaan yang disebutkan terakhir perlu kiranya mendapat perhatian. Pancasila sebagai jiwa dan falsafah bangsa hendaknya dapat menjadi pemersatu bangsa. Dengan kata lain, Pancasila hendaknya dapat menjaga keutuhan NKRI. Hal ini mungkin jika Pancasila ditempatkan sebagai nilai-nilai yang dianut dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pancasila menjadi jati diri dan identitas warga bangsa seluruhnya, entah sebagai kepala negara, pemimpin dan anggota lembaga negara, pegawai negeri, aparat pertahanan dan kemanan, pegawai swasta, pengusaha, profesional, dan warga pada umumnya. Jika nilai-nilai Pancasila tidak tercermin pada perangai penyelenggara negara dan sekalian warganya, dapat terjadi krisis identitas yang memungkinkan nilai-nilai lain dari luar bisa masuk dan pada akhirnya menggerogoti NKRI. Jika realitas sosial bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila (korupsi merajalela, kekerasan dan kebiadaban makin terbuka, diskriminasi dan permusuhan dibiarkan saja, demokratisasi semakin langka, dan ketidakadilan sosial makin kasat mata) ketidakpercayaan masyarakat kepada negara akan muncul dan pada akhirnya turut serta mengancam keutuhan NKRI.