Telah satu tahun kita hidup dalam wabah pandemi Covid-19. Telah satu tahun pula pendidikan dianggap berjalan tidak sebagaimana mestinya. Ada banyak ketidak-puasan atas praktik penyelenggaraan pendidikan di masa pandemi.

Pandemi Dan Pendidikan Mengingat Kembali Gagasan Roem Topatimasang
Foto oleh Compare Fibre di Unsplash

Kegaduhan tentang cara bersekolah di masa pandemi adalah salah satu persoalan yang muncul dalam perbincangan tentang pandemi dan pendidikan. Sesungguhnya ada banyak hal lain yang bisa ditelaah dalam perbincangan terkait pandemi dan pendidikan, namun cara bersekolah di masa pandemi menjadi persolan yang paling luas menyedot perhatian publik.

Kilas balik perbincangan tentang pandemi dan pendidikan mengemuka dari ketidak puasan para wali murid atas praktik Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), hingga keluhan boros kuota dan gawai yang tak bisa dijangkau oleh semua kalangan. Kegaduhan ini bersambung pada langkah penyesuaian SKB 4 menteri tentang pembelajaran di masa pandemi yang diambil oleh pemerintah. Jika awalnya hanya zona hijau yang diperkenankan untuk belajar tatap muka, dalam penyesuaian SKB ini, sekolah di zona kuning pun diperkenankan melakukan proses belajar secara tatap muka di sekolah dengan berbagai persyaratan.

Tak pelak, pro dan kontra pun kembali menyeruak ketika itu. Ada wali murid yang setuju dengan kebijakan ini, ada pula yang menolak karena melihat pandemi memang belum sepenuhnya terkendali. Ikatan Dokter Indonesia, aktivis pendidikan, hingga Komisi Perlindungan Anak ramai-ramai menyuarakan agar kebijakan ini ditinjau kembali. Pada akhirnya, terutama dengan melihat angka penularan yang masih terus naik tinggi, belajar tatap muka tidak jadi dilaksanakan, hingga satu tahun pandemi ini berlangsung.

Munculnya pandemi Covid-19 dan aneka dampaknya memang diluar prediksi siapapun. Tidak ada negara yang benar-benar siap menghadapainya. Wajar jika kemudian banyak yang tergopoh, limbung, dan bingung. Semuanya pantas-pantas saja selagi tak berlama-lama berkubang dalam limbung dan bingung, terutama bagi dunia dunia pendidikan yang menjadi produsen pengetahuan, rasionalitas, dan sikap ilmiah.

Pendidikan sebagai arus mestinya seperti air, disumbat mencari celah, dibendung makin meninggi untuk terus mengalirkan pesan ilmu dan kearifan. Jika pandemi adalah bendungan atau sumbatan, maka pengambil kebijakan pendidikan harus pintar menemukan celah atau menderaskan segenap arusnya untuk mampu meluberi bendungan itu bahkan mungkin membobolnya.

Sayangnya, pendidikan telah kita format untuk sekedar menjadi selokan. Wadah bagi limbah menuju pembuangan. Selokan memang rentan mampet, penampangnya tak luas, tidak ada arus besar untuk menggenangi atau meluberinya, pada akhirnya menggenang stagnan sekedar terganjal pembalut yang salah buang.

Imajinasi Tentang Sekolah.

Baca juga:  Membangun Masyarakat Sejahtera Serta Pendidikan Yang Berkualitas

Kerunyaman tentang cara bersekolah di masa pandemi ini mengingatkan kita pada gagasan-gagasan Roem Topatimasang, pendekar besar dalam wacana dan praktik pendidikan di atanah air, khususnya bagi kalangan aktivis pendidikan dan pegiat lembaga swadaya masyarakat. Buku Sekolah Itu Candu adalah jejak petualangan pemikirannya yang menjadi salah satu buku legendaris. Hingga hari ini Buku tersebut masih banyak dibaca kalangan aktivis pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Ratapan Roem tentang salah kaprah sekolah yang hidup dalam imajinasi masyarakat Indonesia dan menganggap bahwa sekolah adalah representasi tunggal tentang hakekat pendidikan menjadi pokok pikiran utama buku itu. Roem, mengajak pembacanya menyelam jauh melacak sejarah asal kata sekolah yang makna utamanya adalah kegiatan untuk mengisi waktu luang, tetapi hari ini sekolah menjelma sebagai pohon pendidikan itu sendiri. Sekolah adalah pendidikan, menjadi terdidik dan cerdas dengan demikian pintunya hanya satu yakni pintu sekolah.

Roem tak sekedar menggugat. Ia ingin masyarakat dan sistem pendidikan di Indonesia bebas dari apa yang ia sebut sebagai candu. Sekolah dengan segala atribut, prosedur, hingga sertifikatnya telah menjadi candu, yang semua orang terbelenggu oleh candu itu. Tidak sekolah sama halnya dengan tidak terdidik. Tidak memiliki ijazah sama halnya tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan.

Padahal sekolah di Indonesia baru dimulai pada masa kolonialisme. Sebelum era sekolah, bangsa kita telah maju cara berpikir dan teknologinya. Peninggalan sejarah semacam Candi Borobodur adalah jelmaan ilmu arsitektur, kimia, seni, filsafat, bahkan ilmu sosial, yang tak lahir dari pabrik yang bernama sekolahan!

Supremasi Majapahit, kedigdayaan armada laut Sri Wijaya adalah bukti lain, betapa bangsa kita adalah bangsa besar yang cerdas meski tak memperoleh pendidikan dari institusi bernama sekolah. Lalu mengapa hari ini kita menjadi kerdil dihadapan sistem bernama sekolah?

Gugatan Roem tentang sekolah terasa aktual kembali akhir-akhir ini. Tradisi sekolah telah menjadi keharusan yang bersifat mengikat semenjak mulai diperkenalkan hingga hari ini. Dari keharusan bagi adanya kurikulum, mata pelajaran, predikat guru – murid, seragam sekolah, belajar secara tatap muka di kelas, ranking prestasi, evaluasi belajar, kelulusan, dan seterusnya. Semuanya menjadi keharusan-keharusan yang bersifat utuh. Semua hal tentang sekolah telah menjadi simbol dan pakem pendidikan yang hidup dalam pikiran masyarakat.

Baca juga:  Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), Gadget Dan Bahaya Yang Mengintai Anak

Oleh karenanya, ketika pandemi tiba dan sekolah tak bisa dijalankan, orang menjadi gaduh. Sistem Pembelajaran Jarak Jauh yang diambil oleh pemerintah sebagai alternatif cara bersekolah, sudah barang tentu tak mudah diterima oleh masyarakat yang menurut Roem sudah kadung kecanduan sekolah.

PJJ dirasa tak memenuhi pakem sekolah. Diragukan kemampuannya untuk mencerdaskan manusia indonesia bukan saja oleh masyarakat atau wali murid tapi juga oleh para pengambil kebijakan. Mereka justru lebih berani menghadapkan siswa di zona kuning untuk berhadapan dengan ancaman Covid-19, ketimbang mematangkan konsep PJJ agar lebih efefktif, terjangkau dan tetap memenuhi kebutuhan pendidikan para siswa secara selayaknya.

Mengingat kembali gagasan Roem Tomatipasang dalam konteks ini adalah mengembalikan tentang beberapa hal mendasar:

Pertama, memosisikan pendidikan sebagai arus besar dan menempatkan sekolah sebagai salah satu kanal diantara kanal lain yang juga mampu mencerdaskan dan menerampilkan. Bukan justru kita sibuk mengurus satu kanal, mengabaikan kanal yang lain dan tak hirau dengan arus besar

Kedua, sekolah dengan segala prosedurnya harus dipahami kembali sebagai salah satu cara untuk mengembangkan pendidikan tetapi sekolah tak boleh dipahami sebagai pendidikan itu sendiri. Sebagai suatu cara, tentu saja sekolah tak boleh dianggap sakral dan prosedurnya dijadikan sebagai sebuah rukun yang tak boleh ditinggalkan

Ketiga, dengan semangat dan cara pandang Roem, pandemi sendiri adalah suatu “sekolah” yang darinya semua manusia bisa menjadi siswa, mengalami proses learning, melihat apa yang dilakukan oleh para ahli, memahami teori yang disampaikan oleh para ahli, mengembangkan sikap dan perilaku hidup baru, belajar patuh pada aturan negara, juga bisa melakukan evaluasi apakah revolusi mental kita sudah sampai pada sasaran, atau baru jadi jargon, karena ternyata kita belum bisa disiplin bahkan untuk sekedar mengenakan masker sekalipun.

Keempat, pandemi adalah momentum yang tepat untuk melakukan demitologisasi sekolah. Keberadaan sekolah dalam belantara pendidikan yang nyaris menjadi seperti tirani, yang kukuh mencengkeram nalar. Bahwa sekolah dengan segala prosedurnya adalah satu-satunya jalan menuju tatanan masyarakat terdidik, cerdas, terampil, dan bahkan mungkin bertaqwa. Maqom sekolah yang seperti inilah yang nampaknya perlu dicermati dan diluruskan kembali.

Masalahnya beranikah kita?