Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau ada juga yang menyebutnya sebagai Pembelajaran Dari Rumah telah menjadi pilihan satu-satunya, semenjak Pandemi Covid 19. Praktis sudah hampir 1 tahun PJJ berlangsung dan mungkin masih akan diperpanjang hingga pertengahan tahun 2021 ini.

Gadget Dan Bahaya Yang Mengintai Anak
Foto oleh Diego Passadori di Unsplash

Kita memiliki kewajiban untuk memberikan hak pendidikan bagi anak Indonesia, pada saat yang sama kita juga punya kewajiban untuk melindungi anak-anak dari ancaman apa pun. Jangan sampai dalam rangka memberikan satu hak justru kita melanggar hak yang lain.

Dalam Undang-undang perlindungan anak pasal 9 ayat 1 disebutkan: “Setiap Anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat”. Hak ini melekat pada anak dalam situasi apa pun dan negara wajib memenuhi hak tersebut secara baik, tentu dengan berbagai pengondisian jika ada bencana atau hal lain yang bersifat tidak normal.

Dalam situasi pandemi seperti sekarang ini, hak anak untuk memperoleh pendidikan tetap harus dipenuhi oleh negara, karena hak tersebut dijamin oleh undang-undang. Pembelajaran Dari Rumah atau Pembelajaran Jarak Jauh, sesungguhnya bukan pendekatan formal yang dikembangkan secara resmi dalam kurikulum sekolah formal.

Munculnya PJJ atau pembelajaran secara daring sesungguhnya respon yang bersifat spontan dalam memenuhi hak anak untuk tetap memperoleh pendidikan dalam situasi pandemi. Wajar, jika di sana-sini pendekatan ini masih bersifat trial and error. Kurikulum yang ada tidak dirancang untuk sistem belajar PJJ atau daring, demikian juga para gurunya, tidak disiapkan untuk mengajar secara online.

Walhasil, praktik PJJ atau Daring dalam waktu kurang dari 4 bulan sudah menuai protes dan di keluhkan di sana-sini. Dari masalah yang sifatnya teknis, semacam ketersediaan gawai dan pulsa, hingga masalah metode para guru yang cenderung hanya memberikan tugas kepada anak-anak.

Wali murid pun berkeluh kesah, saban hari harus ikut belajar mendampingi anak mengerjakan tugas sekolah dan merasa terganggu untuk menjalankan pekerjaan dan aktifitas rumah tangga yang lain. Di beberapa daerah seperti di Madura, para wali murid bahkan sempat berdemontrasi untuk menuntut pembukaan kembali sekolah dan anak-anak belajar tatap muka seperti biasa.

Situasi yang sungguh dilematis bagi siapapun. Pemerintah juga dalam dilema besar. Risiko membuka sekolah dalam situasi pandemi yang masih terus naik angkanya ini, tentu tak main-main. Selain membahayakan kesehatan anak, membuka kembali sekolah dalam situasi seperti ini juga akan menghambat penangan penularan Covid 19 secara makro.

Satu-satunya Pilihan.

Pilihan terbaiknya memang anak-anak tetap berada di rumah dan belajar dari rumah. Meski sempat mewacanakan untuk membuka proses pembelajaran secara tatap muka di bulan Januari 2021 ini, pada akhirnya Menteri Pendidikan menyerahkan pengambilan keputusan ini kepada kepala daerah masing-masing, mengingat tingkat sebaran dan zona inveksi covid 19 yang berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lainnya.

Baca juga:  Canadian Islamic Wealth Memberikan Kemudahan Muslim di Kanada Berinvestasi Halal

Masyarakat pun pada akhirnya memahami bahwa PJJ atau belajar secara daring adalah pilihan yang tersisa. Pada akhirnya kita semua pasrah dan harus berkompromi dengan keadaan. Ketidak nyamanan ini bukan hanya dirasakan oleh Siswa, Guru, Wali murid, tapi semua pihak merasakan ketidak nyamanan ini.

Masalah yang masih tersisa dan harus segera diselesaikan adalah; bagaimana praktik belajar secara daring ini bisa dikemas menjadi makin baik, aman, dan menyenangkan semua pihak? Harus diakui, ada sisi yang sesungguhnya mengundang keprihatinan banyak pihak atas praktik penyelenggaraan proses belajar PJJ atau daring ini.

Pertama, Kreatifitas para guru yang tidak merata dalam mengelola kelas daring. Ada yang sangat monoton dengan saban hari memberikan tugas kepada siswa tanpa ada gagasan lain untuk tetap melakukan pengajaran selain dengan memberi tugas.

Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan harus mampu mengembangkan kompetensi guru dalam pemberian pelajaran secara daring. Agar makin kreatif dan tidak membuat siswa hingga wali murid stres dengan banyaknya tugas dan PR.

Kedua, ketergantungan yang tinggi pada Handphone. Ini tak hanya terjadi pada siswa di level SMA. Anak-anak SD pun dikelola oleh gurunya dengan mengandalkan gawai. Ada yang tetap mengajar dengan bertumpu pada dukungan zoom meeting atau aplikasi lain yang harus menggunakan gawai.

Padahal kita semua tahu, bahkan saat pandemi belum terjadi orang tua umumnya banyak yang memberikan batasan cukup keras bagi anak-anak mereka yang seusia Sekolah Dasar dalam penggunaan dan persentuhan dengan telepon genggam.

Dengan cara belajar PJJ atau daring ini, orang tua mau tidak mau akan membiarkan anak-anak mereka untuk lebih lama dalam menggunakan telepon genggam, dibanding sebelum pandemi. Ini penting dicermati oleh semua pihak. Jika PJJ ini akan berlangsung lebih dari satu tahun, akan terjadi pola pembiasaan yang intens dalam penggunaan telepon genggam, sehingga tumbuh sebagai kebiasaan baru. Mungkinkah kita bisa mengendalikan kebiasaan ini saat nanti pandemi usai dan anak-anak belajar tatap muka kembali?

Jika PJJ menjadi satu-satunya alternatif maka haruskah telepon genggam juga menjadi satu-satunya alternatif alat pembelajaran dari rumah? Pada aspek ini nampaknya penting bagi para pihak terkait untuk mengembangkan desain pembelajharan jarak jauh yang juga ramah anak.

Bahaya yang Mengintai

Ada Televisi, saban rumah telah memiliki televisi. Mengapa tidak mengoptimalkan keberadaan TV? Daripada memberi bantuan dana untuk belanja kuota siswa, akan lebih murah dan aman jika TV dioptimalkan penggunaannya sebagai media belajar daring dari pada telepon genggam.

Baca juga:  Apakah Hujan Telah Menjadi Sumber Bencana?

TV bisa dinikmati secara bersama, artinya tidak terlalu personal dan privat. Orang tua mudah mengawasi dan mengontrol. Berbeda dengan telepon genggam yang memiliki sifat sangat personal dan privat, orang tua akan sulit melakukan kontrol untuk mengakses apa saja telepon genggam itu digunakan.

Para ahli psikologi perkembangan anak mewanti-wanti orang tua agar tak terlalu dini mengenalkan telepon genggam pada anak. Bahkan seorang ahli teknologi internet sekaligus pemilik micrrosoft Bill Gates, bahkan mengambil kebijakan untuk anaknya; tidak akan memberikan telepon genggam hingga usianya genap 14 tahun!

Gawai (gadget) yang telah terkoneksi dengan internet memang tak aman bagi anak. Berikut ini berepa ancaman yang bisa muncul akibat anak terlalu dini menggunakan telepon genggam.

Pertama, secara psikologis anak akan cenderung malas bergerak karena asyik dengan gawainya. Sementara secara emosi mereka belum mengerti betul apa yang mestinya diprioritaskan dalam hidup.

Kedua, interaksi yang terlalu rapat dengan telepon genggam yang mengandung pancaran radioaktif juga menjadi ancaman serius bagi perkembangan otak anak.

Ketiga, saat ini mulai sering kita dengar efek kecanduan game dan telepon genggam yang melanda anak-anak di berbagai belahan dunia. Tentu kecanduan telepon genggam akan menjadi masalah mental psikologis yang jadi ancaman bagi anak-anak kita.

Keempat, sebagai orang tua, aka sing tentunya, bagaimana anak-anak tetangga, bahkan mungkin anak kita sendiri yang tidak cerdas emosi dan sosialnya. Terlalu individualis dan gak bisa sekedar bertegur sapa dengan tetangga terdekatnya. Tentu kita tidak ingin kejala seperti ini terus berkembang luas.

Kelima, ancaman pornografi. Ini tidak mengada-ada, terlalu banyak anak yang usianya belum genap 14 tahun sudah bisa mengakses content dewasa melalui telepon genggam-nya. Fakta ini akan menjadi ancaman serius bagi robohnya moral generasi Indonesia di masa yang akan datang.

Keenam, eksploitasi seksual oleh para predator yang dengan segala siasat kejinya tengah mengancam anak-anak kita yang bergaul rapat dengan telepon genggam. Ini ancaman yang sangat serius dan nyata. Banyak anak yang terpaksa menjadi Pekerja Seksual, karena mereka telah dijebak dengan foto telanjangnya dan harus menuruti kemauan sang predator karena takut foto dan videonya tersebar!

Karenanya, titip pesan kepada para pemangku kebijakan pendidikan, agar tidak menggunakan telepon genggam sebagai alat utama praktik belajar dari rumah. Ada banyak pendekatan yang bisa dikembangkan untuk menyelenggarakan pembelajaran Jarak Jauh yang lebih ramah-anak.