Pertanyaannya menjadi pengingat dan wasiat bagi anak-anaknya, sementara jawaban anak-anak telah melegakan hati, perasaanya jadi ringan untuk perpisahan panjang itu.

Pertanyaan Diujung Sakaratul Maut
Foto oleh Ivan Kuznetsov di Unsplash

“Apa yang kalian sembah sepeninggalku nanti?” pertanyaan legendaris seorang ayah yang diabadikan di dalam Al-Qur’an dan menjadi pedoman penting bagi kaum muslimin. Adalah Nabi Yaqub alaihisalam, yang tengah dalam fase berat berat menuju sakaratul-maut. Ia masih dalam kesadaran penuh meski tubuhnya telah tak memiliki daya.

Mata sayunya menatap anak-anak yang sedang terpekur dalam keprihatinan mengelilinginya. Yaqub tak cemas dengan maut yang beberapa saat lagi akan datang menjemput. Ia justru khawatir dengan generasi atau anak turunan yang sebentar lagi akan ia tinggal pergi. Bukan takut terkait kesejahteraan hidup anak-anaknya, bukan pula cemas tentang apa yang akan dimakan mereka, bukan pula khawatir tentang sedikitnya harta benda yang mungkin bisa diraih anak cucunya. Bukan, bukan tentang itu semua.

Yakub tak khawatir tentang itu semua. Ia yakin sepenuhnya, anak-anaknya yang telah matang itu pasti akan tumbuh dan memiliki kemampuan untuk hidup sesuai zamannya. Rezeki telah dijanjikan oleh Allah ﷻ kepada siapa saja yang telah diberi-Nya kehidupan. Akan dibagikan sesuai takaran dan upaya serta tak akan pernah salah alamat. Ia sungguh tidak sedang mencemaskan itu!

Satu hal saja yang menggangu pikirannya. Apakah anak-anaknya akan tetap beriman kepada Allah sepeninggalnya nanti? Godaan dunia makin berat dan beragam, semakin tua umur dunia, semakin sulit memiliki ketetapan hati untuk tetap beriman kepada Allah. Ilah atau Tuhan-tuhan yang lain akan berdatangan menggoda. Yang paling berat godaannya tentu saja meng-ilahkan hawa nafsunya sendiri yang terus menuntut untuk diperturutkan.

Maka terlontarlah pertanyaan itu: “Maa tak buduuna mimba’di – Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Ujung usia dan jelang perpisahan kerap menjadi moment yang dramatis bagi banyak orang. Itu pula yang terjadi dengan Nabi Yakub dan anak-anaknya. Pertanyaannya menjadi pengingat dan wasiat bagi anak-anaknya, sementara jawaban anak-anak telah melegakan hati, perasaanya jadi ringan untuk perpisahan panjang itu.

Allah berkenan mengabadikan drama kehidupan yang luar biasa ini dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 133. Tentu diabadikan agar menjadi pengingat bagi generasi manusia yang telah dipusakai dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah ﷺ. Siapa lagi, kalau bukan kita umat Islam?

Baca juga:  Pencabutan Larangan Hijab Di Belgia Selatan Menjadi Harapan Bagi Wanita Muslim

Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.” — Q.S. Al Baqarah: 133

Peri hidup Nabi Yaqub ini telah mengajarkan kepada kita, bagaimana menjadi ayah yang mulia di sisi Allah ﷻ. Mungkin dalam memerankan diri sebagai sosok ayah atau orang tua, telah banyak teori-teori parenting yang kita pelajari dan kita lahab. Itu semua penting untuk mendukung peran sebagai orang tua yang efektif. Tapi apakah itu cukup untuk mengantarkan anak cucu kita dalam naungan iman dan taqwa kepada Allah?

Memutar ulang drama kehidupan keluarga Yaqub akan memberikan kita fundamen dasar tentang bagaimana bilah-bilah kehidupan rumah tangga harus ditegakkan dan diarahkan. Untuk apa memiliki skill parenting yang mumpuni jika kita justru kehilangan pijakan nilai dan arah spiritual, keujung mana pendidikan anak harus kita arahkan?

Bercermin dari pertanyaan Yaqub alaihissalam, mungkin perlu kita sisipkan pertanyaan pada diri kita masing-masing. Apa sesungguhnya yang paling kita khawatirkan terjadi pada anak-anak di masa yang akan datang?

Apakah akan segelisah Yaqub alaihissalam yang khawatir anak-anaknya melupakan Allah? Atau justru lebih banyak gelisah tentang pekerjaan anak-anak dan kekayaan yang bisa mereka kumpulkan setelah kematian kita?

Jika kita menghadapi sakaratul maut, akan kah kita memberikan wasiat akhir pada anak-anak untuk taat kepada Allah dan Rasulnya? Atau wasiat yang lain? Sesuai teori parenting yang kita ikuti selama ini. Sulit mengatakan, meski tahu jawabannya. Atu jangan-jangan pertanyaan kita malah menjadi: “Maa takkuluuna mim ba’di? – Apa yang engkau makan sepeninggalku nanti?”

Ujung dari drama antara Yaqub dan anaknya adalah jawaban yang diberikan oleh anak-anak Nabi Yaqub alaihissalam. “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.” Komitmen untuk menyembah Allah dan menjadi sosok muslim (berserah diri).

Baca juga:  Reem Kirja (13 Tahun) Mendesak Sekolah Di Iowa City Untuk Merayakan Dua Hari Raya Besar Islam

Jawaban kritis di masa yang kritis sebagaimana terjadi pada kisah tersebut hanya mungkin terjadi jika anak telah ditarbiyah sedemikian rupa oleh ayahnya. Diberi keteladanan yang baik, dikenalkan dengan Tuhannya dengan baik pula. Sehingga jawaban yang mereka berikan adalah jawaban yang melegakan sang ayah.

Yaqub memanen buah manis itu di saat-saat akhir kehidupannya. Anak-anak saleh berkerumun mendoakan untuk melapangkan jalannya menuju kampung keabadian, hasil dari pendidikan keagamaan yang telah ia lakukan semenjak anak-anak itu masih bayi. Bagaimana dengan kita?

Alih-alih memberikan jawaban yang baik dan melegakan di masa kritis. Banyak orang tua yang harus gelisah saat mengalami sakaratul maut, mencoba menatap wajah anak disaat genting itu, tapi tak ada satupun wajah mereka. Tragis, yang sibuk mentalqin dan membaca Surat Yasin ternyata para tetangga yang diupah oleh anak-anaknya. Mereka takut dan tak mengerti untuk menghadapi situasi seperti ini, sehingga sang ayah harus menghadapi sakaratul maut tanpa bimbingan anak-anaknya.

Ilmu yang dimiliki anak-anak dari berbagai sekolah bergengsi yang kita banggakan di hadapan banyak orang ternyata tak terpakai disaat – saat akhir kehidupan kita. Sesal kemudian tida berguna lagi, nelangsa sepanjang kehidupan.

Alhamdulillah kita masih punya waktu untuk membuka-buka wasiat Yaqub alaihissalam melalui Al-Quran. Segeralah pahami bahwa tujuan terpenting dalam mendidik anak adalah mengajak mereka beriman dan bertaqwa kepada Allah ﷻ.

Jika dirasa masih kurang bekal pendidikan tauhid kepada anak-anak kita, mari kita perbanyak lagi. Mulailah dari diri anda sendiri mudah-mudahan Allah masih memberikan rahmat-Nya kepada kita untuk memiliki anak keturunan yang mewarisi iman Kanjeng Nabi Ibrahim dan Rasulullah ﷺ.