Datangnya Ramadhan membahagiakan bagi yang mencintai kemuliaan dan tidak membahagiakan dan tidak akan berdampak bagi mereka yang tidak mengingingkan kemuliaan.

Ramadhan Momentum Untuk Memperbaiki Dan Meningkatkan Ketakwaan
Foto oleh Vladimir Mokry di Unsplash

Bagi orang-orang beriman, hadirnya Ramadhan mendatangkan kebahagiaan, kerinduan, pengharapan akan datangnya rahmat dan maghfiroh Allah SWT. Para Waliyullah, orang-orang saleh menyambut Ramadhan dengan suka cita dan rasa gembira yang tak terkira. Saat hari-hari sebelum datangnya Ramadhan, mereka menafakuri diri, menghitung apa yang pernah dilakukan dan mencoba menerka apakah perjalanannya selama ini adalah perjalanan kemuliaan atau perjalanan yang tidak memberi kemanfaatan bagi kehidupan.

Rasulullah SAW menaiki mimbar (untuk berkhotbah). Menginjak anak tangga (tingkat) pertama beliau mengucapkan, “Aamin”, begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga. Seusai shalat para sahabat bertanya, “Mengapa Rasulullah mengucapkan “Aamin”? Beliau lalu menjawab, “Malaikat Jibril datang dan berkata, “Kecewa dan merugi seorang yang bila namamu disebut dan dia tidak mengucap shalawat atasmu” lalu aku berucap “Aamin.” Kemudian malaikat berkata lagi, “Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orang tuanya tetapi dia tidak sampai bisa masuk surga.” Lalu aku mengucapkan “aamin”. Kemudian katanya lagi, “Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan (hidup) pada bulan Ramadhan tetapi tidak terampuni dosa-dosanya.” Lalu aku mengucapkan “Aamin.” — HR. Ahmad

Jangan inginkan datang Ramadhan hanya untuk sekedar menunggu dan menanti apa yang akan datang. Yang harus engkau lakukan, bagaimana menghitung dan menafakuri apa yang yang telah engkau lakukan. Datangnya Ramadhan kali ini, sama seperti dengan kedatangan Ramadhan yang lalu. Datangnya Ramadhan membahagiakan bagi yang mencintai kemuliaan dan tidak membahagiakan dan tidak akan berdampak bagi mereka yang tidak mengingingkan kemuliaan.

Kalau hari ini engkau begitu bahagia dengan menyambut Ramadhan, yang lebih penting lagi adalah mengukur diri, menghisab apa yang telah engkau perbuat dari Ramadhan yang lalu hingga kembali bertemu dengan Ramadhan saat ini. Menghitung apa yang telah engkau perbuat untuk mencintai Allah dan rasulnya, sejak kehilangan Ramadhan yang lalu hingga kembali bertemu dengan Ramadhan saat ini”.

Menyambut kedatangan Ramadhan denggan suka cita adalah wujud dan tanda bahwa engkau adalah orang beriman, tetapi yang lebih penting lagi mengukur dirimu, apakah engkau telah menjadi hamba yang dicintai dan disayangi Allah yang menciptakan kerajaan langit dan bumi.

Kalau hari ini engkau masih berharap mendapat pengampunan di bulan Suci Ramadhan, maka yang lebih penting lagi, bagaimana engkau bisa menjaga dirimu sehingga ketika tidak datang Ramadhan pun engkau adalah sudah termasuk orang-orang yang diampuni dan dirahmati Allah SWT.

Kedatangan Ramadhan hanya satu tahun sekali, namun datangnya dosa silih berganti tanpa engkau rasa, tanpa engkau ingat tanpa engkau lihat. Sehingga yang lebih penting lagi adalah menjadi orang yang beriman dan bertakwa, kapanpun dan dimanapun engkau berada.

Kalau saat menyambut Ramadhan hanya untuk memohon ampun kepada Allah maka engkau manyatakan takut kepada Allah ketika hanya saat menyambut Ramadhan. Seharusnya hari-harimu adalah hari-hari bulan suci, dimana engkau menjalankan ketakwaaan dimanapun dan kapanpun berada.

Kehadiran Ramadhan tidak akan begitu mengesankan ketika engkau hanya menjadikannya untuk membersihkan diri. Bersihkan dirimu setiap waktu, setiap saat, setiap detik, karena engkau tidak tahu dimana ajal itu akan tiba menjemput, dan dimana waktu hidup itu akan berakhir.

“Barangsiapa tidak dapat meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa) maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya.” — HR. Bukhari

Kalau engkau menyatakan bahwa di bulan Ramadhan ini engkau akan bermunajat dan mohon ampun atas dosa-dosa, lalu pertanyaannya apakah hari ini engkau akan sampai di bulan Ramadhan, atau apakah di bulan Ramadhan nanti engkau akan sempat memohon ampun padahal azal berada dekat dibelakangmu?

Menyambut Ramadhan harus dengan harapan semoga Allah SWT akan menyempurnaakan amal-amal ibadah dan ampunan yang sebelumnya. Ramadhan bukan hanya satu waktu dimana engkau meminta rahmat dan ampunan, namun harus menjadikan cara bagaimana engkau dapat menyempurnakan amal-amal sebelumnya dan keseluruhan katakwaan sebelumnya dan agar bisa mengevaluasi apa yang dilakukan sebelumnya menjadi bagian yang engkau lakukan untuk menyempurnakan ketakwaan kepada Allah yang menciptakan kerajaan langit dan bumi.

Jangan jadikan Ramadhan sebagai awal untuk melakukan kebaikan tapi jadikan Ramadhan sebagai akhir untuk melakukan evaluasi atas apa yang telah dilakukan setelah engkau mengarungi Ramadahan yang lalu hingga memasuki kembali Ramadahan kali ini. Seorang yang bertakwa kepada Allah tidak akan meninggalkan Ramadhan begitu saja, ia akan menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk memperbaiki dan meningkatkan ketakwaan.

Saat Ramadhan berlalu kebanyakan dari kita meninggalkan kebaikan-kebaikan kehidupan yang telah kita rajut saat Ramadhan sehinga kebaikan Ramadhan tidak berdampak menjadi ketakwaan dalam keseharian kehidupan selanjutnya.

Baca juga:  Hakikat Syukur Serta Perwujudannya Dalam Kehidupanmu

Yang harus dilakukan adalah menafakuri diri, menghitung apa yang terjadi setelah Ramadhan, apa yang didapatkan setelah melewati Ramadahan yang lalu. Kalau hari ini engkau menunggu Ramadhan hanya untuk menjalankan ritual ibadah, maka itu tidak mengugurkanmu sebagai mahluk untuk bertakwa, sehingga ada sebagian orang begitu giat beribadah, setelah itu melepaskan Ramadhan dalam kehidupannya. Sejatinya orang yang melewati Ramadhan adalah mereka yang suci dan disucikan dan menjadi pribadi yang semakin bertakwa kepada Allah SWT.

Orang-orang saleh, para waliyullah menangis ketika datang Ramadhan, tangisannya bukan hanya karena bahagianya menyambut Ramadhan, tetapi karena menghisab diri. Begitu waktu-waktu selama ini tidak dipergunakannya maksimal untuk mendekati Allah dan merajut ketakwaan. Dia merasa Allah telah begitu baik kepadanya karena telah dipertemukan kembali dengan Ramadhan bulan suci yang penuh rahmat. Dia begitu bahagia kerena kecintaannya kepada Allah yang telah memberikan waktu dan kesempatan sehingga akan dipertemukan dengan Ramadhan. Bukan menjadikan Ramadhan sebagai tempat penantian untuk memohon dan mengampuninya, tetapi Ramadhan tempat untuk menghisab diri dan menghitung kebaikan. Sebagian orang menunggu Ramadhan untuk meminta pengampunan lalu kembali menjalankan dosa-dosa dibulan selanjutnya.

Kebiasan yang Engkau lakukan saat Ramadhan selama ini, karena takut dengan dosa, lalu menanti pengampunan kepada Allah di bulan suci Ramadhan. Ketakutanmu tidak akan menyebabkan engkau menjadi orang yang mutaqien, orang yang berserah diri, karena engkau berharap akan ada pengampunan dan setelah itu melakukan dosa-dosa yang lain. Lalu berharap memohon ampun lagi di bulan Ramadhan. Seolah-olah ketika engkau melakukan dosa, lalu engkau menunggu datangnya Ramadhan bulan yang penuh pengampunan. Dan engkau mengalkulasi dosa-dosamu dengan logikakamu, padahal ada Allah yang yang tahu apa yang akan engkau hadapi, apa yang akan engkau rasakan dan apa yang tersembunyi dalam dirimu.

Harusnya Ramadhan kali ini adalah tempat untuk menempa dan meningkatkan derajat ketakwaan yang lebih baik dibandingkan derajat seebelumnya. Bukan kembali seolah-olah hanya menjadi seorang bayi yang baru lahir bersih dari dosa. Seharusnya maqom-mu meningkat dari Ramadhan ke Ramadhan. Kalau Ramadhan lalu engkau memiliki derajat kesempurnaan, lalu Ramadhan kali ini harus lebih sempurna dibandingkan Ramadhan yang lain. Bukan kembali dari nol, seolah engkau tidak memiliki apapun dari akumulasi kebaikan dari Ramdahan yang engkau lalui selama hidup.

Jadikan Ramadhan kali ini sebagai tempat dimana engkau bisa menigkatkan derajat sebagai hamba, meningkatkan ketakwaan, meningkatkan kecintaan kepada Allah SWT dan sesama manusia. Jangan kembali dari nol, sehingga engkau tidak mendapatkan derajat yang lebh tinggi.

Derajat (Maqom) orang-orang menjalani Ramadhan berbeda-beda, ada seorang yang mendapat Ramadhan hanya mendapatkan rangkaian ibadah ritual, tetapi ada juga yang mendapatkan Ramadhan dengan hakikat kehidupan yang sejatinya.

“Mungkin hasil yang diraih seorang shaum (yang berpuasa) hanya lapar dan haus, dan mungkin hasil yang dicapai seorang yang shalat malam (Qiyamul lail) hanyalah berjaga.” — HR. Ahmad dan Al Hakim

Menilai ibadahnya dengan hakikat kehidupan, apakah berdampak baik bagi kehidupannya, tidak menghitung-hitung ibadah ritualnya, tetapi menghitung apakah ritualnya berdampak pada derajat ketakwaan kehidupannya.

Lalu Allah akan mendatangimu orang-orang yang bertakwa melalui malaikat-malaikat-Nya disatu malam yang penuh berkah. Disitulah engkau akan mendapatkan hadiah yang tidak pernah diberikan kepada orang yang lalai dalam ibadahnya. Hanya orang-orang yang mendapat derajat kemuliaan yang akan mendapatkan hadiah itu.

Hari ini engkau harus meningkatkan derajat ketakwaan dari Ramadhan lalu. Kalau Ramadhan yang lalu engkau baru menjalankan ibadah yang bersifat ritual, maka Ramadhan kali ini harus mendapat derajat hakikat ritual-ritual itu. Kalau dalam shalatmu hanya untuk menunaikan kewajiban, maka pada Ramadhan kali ini engkau bermohon kepada Allah “Ya Allah jadikan salat-salatku adalah sebagai penghambaan diriku kepada-Mu dan jadikan shalat-shalatku adalah cara aku untuk mencintai-Mu, mencintai sesama dan mensyukuri nikmat-nikmat-Mu’. Itulah yang harus engkau lakukan untuk meningkatkan derajatmu di bulan suci ini.

Kalau Ramadhan yang lalu engkau baru bisa menjalankan infak karena merasa memiliki kewajiban untuk menginfakan harta yang dimiliki. Maka Ramadhan kali ini infaq yang engkau berikan harus memiliki derajat yang lebih tinggi dengan menyadari bahwa infak itu sebagai tanggung jawab insani untuk mencintai dan dicinta Allah SWT, mencintai kehidupan ini, dan mencintai orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri.

Jangan engkau biarkan infak-infak itu hanya sebatas menunaikan kewajiban ritual degan memberi kepada orang-orang yang membutuhkannya. Tetapi yang harus engkau lakukan dengan infaq, zakat dan amal-amalmu itu harus menghujam dalam dirimu seraya bermohon kepada Allah “Ya Allah aku bersyukur karena diberikan kemampuan untuk memberi kepada orang-orang yang membutuhkan, aku bersyukur karena aku diberikan istikomah untuk melakukan kebaikan-kebaikan, karena saat ini ada orang yang bergelimang dosa yang tidak pernah berpikir untuk melakukan kebaikan. Maka kebaikan yang kulakukan hari ini karena hamba semata-mata mengabdi kepada Engkau bukan karena sebatas ikhitar hamba untuk melakukan itu”.

Kalau hari ini engkau mampu melakukan salat malam, maka yang harus engkau lakukan adalah meningkatkan derajatnya dari hanya sebatas bangun malam menjadi sebuah kecintaan kepada apa yang diciptakan, dimiliki dan diberikan oleh Allah SWT. Ketika tahajudmu engkau isi dengan keluhan-keluhan kesulitan maka dalam tahajudmu engkaupun harus mensyukuri nikmat-nikmat yang telah Allah berikan.

Baca juga:  Penyelidikan Hope Uni Emirate Arab (UEA) Menjadi Yang Pertama Dalam 3 Misi Mars

Terkadang keluhan-keluhan itu hanya akan mengotori hatimu, tetapi rasa syukurmu terhadap apa yang Allah berikan akan menjadikan engkau orang yang paling kaya di muka bumi ini. Karena setiap orang yang diberikan kekayaan mereka diberikan kebahagiaan dan kedukaan. Dan begitupun kepada mereka yang diberikan kedukaan, Allah berikan juga kepada mereka kebahagian-kebahagiaan yang sulit engkau bisa manafsiri apa makna yang terkandung yang diberikan Allah kepada kehidupan setiap manusia.

Jangan jadikan Ramadhan kali ini seperti orang yang sekolah kembali dari nol, lalu menjajaki kelas, menapakai kelas satu dan selanjutnya. Tetapi jadikan Ramadhan kali ini yang akan mengangkat derajatmu menjadi orang-orang yang mutaqin, semakin berserah diri, mencintai Allah, mencintai mahluk dan mencintai alam semesta.

Jangan sekali-kali engkau mengatakan bahwa apa yang engkau niatkan akan berjalan sesuai dengan harapan, niatmu untuk memohon agar Allah memberi petunjuk terhadap niat yang selalu kau panjatkan. Jangan sekali-kali engkau merasa bisa melakukan kebaikan tanpa izin Allah, maka apabila akan melakukan sesuatu dekatkanlah dirimu kepada Allah dan memohoan kepada Allah dengan doa-doa seperti yang dicontohkan para nabi, rasul dan orang-orang yang saleh dengan seruan doa “Ya Allah apabila apa yang hamba inginkan dalam kehidupan ini adalah kebaikan maka mudahkan hamba untuk medapatkannya, namun apabila apa yang hamba inginkan adalah sesuatu keburukan maka jauhkan hamba untuk mendapatkannya. Hamba berserah diri kepada apa yang Engkau berikan dan apa yang Engkau inginkan, karena hamba hanya seorang mahluk, tidak ada kekuasaan dan kekuatan apapaun yang hamba miliki selain karena engkau yang memiliki apa yang Engkau kehendaki.” Karena sejatinya tidak akan ada yang bisa menjaminmu tentang kebaikan kecuali Allah yang memberikan kebaikan dan keburukan.

Jadilah engkau orang-orang yang saleh dan semakin bertakwa kepada Allah. Orang-orang saleh dan bertakwa kepada Allah, firasatnya adalah firasat kehidupan. Allah menunjukan kebaikan dan keburukan dalam batinya dan Allah akan memilihkannya sehingga batinnya mengetahui. Orang-orang yang masih menjalani keburukan tidak akan diberikan tanda-tanda firasat kebaikan dan keburukan. Sehingga untuk itu engkau harus berlomba menuju kebaikan, mendekat kepada Allah, sehingga Allah mengilhamkan kebaikan dan menjaga dari hal-hal keburukan.

Yang harus engkau lakukan adalah terus menyerahkan diri, mengabdi, dan menjalankan apa yang diperintahkan, menghindari dosa dan apa-apa yang dilarang Allah SWT. Maka Ramadhan kali ini engkau harus mendapatkan sebuah anugerah besar, yaitu anugerah Lailatul Qadar, dengan berniat menjadi orang yang menghamba kepada Allah, mencinta kepada sesama, mencintai utusaan Allah, Rasualliah SAW.

Sebentar lagi akan ada orang-orang yang menyeru kepada kebaikan, maka ikutlah mereka dalam satu barisan yang kokoh dan bermohon kepada Allah agar engkau menjadi orang-orang yang dianugerahi Allah dengan kebaikan. Insya Allah anak-anak dan istrimu akan menjadi orang yang saleh dan salehah yang akan terus bergabung dengan kemuliaan selama engkau terus berjuang dalam kemuliaan.

Suatu saat nanti anak-anakmu akan menjadi orang-orang yang terus menafakuri diri, orang mulia karena engkau selalu berdoa untuk kemuliaan kehidupannya. Suatu saat nanti anak-anakmu akan menjadi utusan-utusan Allah yang menyebar kebaikan, menebar kemuliaan dalam kehidupan. Maka yang terpenting yang harus engkau lakukan, teruslah menghisab dan menilai kebaikan apa yang telah engkau lakukan agar kebaikan itu menjadi juga kebaikan anak-anakmu dan generasi keturunanmu.

Jangan sekali-kali engkau mencoba melakukan keburukan karena keburukan itu juga akan mengilhami keburukan-keburukan kepada anak-anak dan keturunan dan orang-orang yang menjadi generasi penerusmu. Teruslah istikomah dalam kebaikan, dan lanjutkan dakwah untuk menyeru kepada kebaikan, karena kebaikan itu akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang lain, lalu keburukan itu juga akan menghadirkan keburukan-keburukan lain.

Semoga Allah memberkahimu, keluargamu, orang tua, dan sahabat-sahabat yang engkau cintai dan sahabat seperjuanganmu.