Bulan Maret tahun ini, genap sudah warga dunia dan terutama Bangsa Indonesia memasuki satu tahun bergulat dengan Covid-19.

Satu Tahun Covid-19 Makin Cerdaskah Batin Kita
Foto oleh Andre Ouellet di Unsplash

Apa yang telah kita dapat dari pertarungan ini? Tentu ada banyak hal. Dunia kesehatan misalnya, telah berhasil mengembangkan vaksin, bahkan dengan banyak varian pilihan. Dunia statistik memiliki tumpukan data kematian, data orang orang terinfeksi, data orang yang berhasil sembuh, data orang tanpa gejala (OTG), dan lain lain.

Pun demikian halnya dengan dunia pendidikan. Guru dan sekolah dipaksa secara dini untuk mengembangkan model belajar jarak jauh tanpa kelas dan tanpa tatap muka. Lahirlah kemudian banyak platform dan aplikasi penunjang pendidikan jarak jauh.

Dunia perdagangan juga banyak menorehkan hal-hal baru selama pandemi. Konsep pasar telah berubah drastis. Pola relasi antara penjual dan pembeli juga mengalami perubahan. Dunia perdagangan di masa pandemi bahkan mendongkrak kemajuan industri jasa pengiriman.

Meski Covid-19 telah memporak-porandakan berbagai kelaziman yg telah menjadi budaya dan pakem perekonomian masyarakat, ternyata Covid-19 juga menyuburkan inovasi dalam segala dimensi kehidupan. Bahwa tetap ada pihak-pihak yang harus tersingkir atau minimal mengalami marginalisasi akibat kegagalan dalam adaptasi menghadapi pandemi, harus kita terima sebagai sesuatu yang alamiah. Tanpa pandemi pun akan selalu ada pihak yang tergeser dan tergusur. Aktor lama menepi dan aktor baru bermunculan.

Kehidupan tetap berjalan dengan berbagai penyesuaian. Covid-19 hanya seperti bencana yang lazim terjadi dalam sejarah peradaban manusia. Ada yang bisa bertahan, ada yang mati. Seperti ritual seleksi alam sebagaimana diyakini banyak ilmuwan.

Masker, hand sanitizer, vaksin, social distancing, belanja online dan transaksi digital adalah pola adaptasi yang lahir dari pandemi untuk menjaga peradaban fisik manusia agar tetap bertahan hidup. Sementara realitas kemanusiaan itu bukan sebatas onggokan fakta-fakta fisik dan kasat mata belaka.

Ada dimensi batin dan ruhani yang sama pentingnya dengan aspek fisik dan wadah kebendaan kita. Lalu perkembangan ruhani dan batiniah apa yang telah kita capai dalam satu tahun pandemi ini?

Kesuksesan inovasi dan kemampuan beradaptasi secara fisik jika tidak dibarengi dengan meningkatnya kearifan batiniah pada akhirnya akan melahirkan bencana dan pandemi baru dalam waktu yang tidak lama lagi. Bukankah pandemi virus Covid-19 adalah residu dari peradaban fisik kita yang gilang-gemilang namun bebal secara batiniah?

Dalam paradigma berpikir seorang muslim, setiap peristiwa selalu memiliki dua makna sekaligus. Makna zahir dan makna batiniah. Semua peristiwa terjadi semata-mata atas izin Allah SWT. Pandemi Covid-19 terjadi karena izin Allah. Mestinya hikmah dan capaian yang kita peroleh dari pandemi ini juga berdimensi lahiriah dan batiniah.

Baca juga:  Pandemi Dan Pendidikan Mengingat Kembali Gagasan Roem Topatimasang

Beberapa hal yang mungkin perlu kita refleksikan dalam satu tahun Covid-19 ini.

Pertama, apakah cara berpikir kita makin holistik dalam menautkan suatu peristiwa sebagai fakta lahiriah dan fakta batiniah sekaligus. Jika kita berpikir dan merespon bahwa pandemi adalah masalah kesehatan, fisik dan duniawi, maka ketahuilah cara berpikir ini adalah cara berpikir yang tegak di atas paradigma sekulerisme.

Perbaikan yang akan muncul sebagai solusi pasti hanya berdimensi fisik dan duniawi. Kehilangan tali-temali dengan realitas batin dan ruhani kita. Peradaban fisik akan bertahan dan terlihat kokoh namun keropos sisi batiniahnya. Sehingga kekokohan dimensi fiisk itu sekali tempo akan roboh lagi, bukan oleh sesuatu dari luar manusia, tapi kerapuhan batiniah kita sendiri yang melahirkan kebijakan-kebijakan ceroboh dan merusak yang memerangkap manusia dalam pandemi dan bencana baru.

Kedua, berbagai inovasi dan pola adaptasi yang kemudian lahir akan segera berubah sudut pandang penggunaannya. Tak lagi semata dalam rangka membantu eksistensi kemanusiaan, inovasi tersebut akan segera berubah menjadi komoditas ekonomi yang dipatok dengan harga yang ditentukan oleh hukum supply and demand.

Kerakusan yang khas dari paradigma kebendaan yang sekuleristik. Pada akhirnya akan muncul hegemoni sedikit negara atas banyak negara lain yang butuh inovasi tersebut. Pasar kebendaan akan makin dinamis, sementara keadilan dan kemanusiaan yang menjadi ukuran batiniah makin sayup-sayup, tergilas logika untung-rugi.

Ketiga, secara individual, moralitas level apa yang kini telah kita tapaki selama satu tahun pandemi ini. Apakah kita makin dekat dengan Allah sebagai pencipta alam semesta? Apakah makin seimbang antara kesalehan individu dan kesalehan sosial kita?

Baca juga:  Mengikuti Jurus Dagang Rasulullah Agar Tajir Melintir

Pandemi Covid-19 adalah spiritual training yang mestinya berujung pada peningkatan iman dan kecerdasan batin kita. Betapa kehidupan dunia yang pendek ini telah diperlihatkan oleh Allah dengan begitu gamblang, melalui kerabat dan kenalan dekat yang wafat karena Covid-19. Masihkah kita abai untuk bersegera menyiapkan kematian yang indah?

Jika dalam satu tahun ini ternyata kualitas batin kita masih seperti satu tahun sebelumnya, batin kita mungkin bebal. Tak mampu membaca tanda-tanda yang Allah berikan melalui fenomena alam. Bersegeralah untuk mendekatkan diri kepada Allah agar cahaya petunjuk-Nya mampu menerangi kebebalan mata hati kita.

“(Orang-orang yang mempunyai akal yang cerdas) yaitu orang-orang yang mengingat Allah saat dia berdiri, duduk dan berbaring, mereka memikirkan tentang penciptaan langit-langit dan bumi (kemudian berkata) Wahai Pemelihara kami, Engkau tidak menciptakan semua ini sia-sia. Maha suci Engkau, maka jagalah kami dari adzab neraka” — Q.S. Ali Imran: 191

Keempat, Masihkah kita beragama dalam kepentingan dan batas-batas invidual? Hubungan kita dengan Allah begitu privat dan individual. Rajin menyembah Allah tapi tidak memiliki sensitifitas kemanusiaan. Lupa bahwa ukhuwah Islam adalah doktrin dan ujian penting bagi kualitas keimanan.

Sadarkah bahwa kualitas shalat anda akan diuji melalui sejauh mana anda memiliki kepekaan sosial. Pandemi adalah pesan Allah, bahwa shalat berjamaah ke masjid yang kita lakukan harus berujung pada tertib sosial dan rapi-nya barisan ukhuwah Islam di ranah sosial-kemasyarakatan. Jangan karena pandemi justru ukhuwah makin renggang dan solidaritas sosial makin rapuh diantara umat Islam.

Sekali lagi, pandemi terjadi atas izin Allah. Maha Suci Allah dari berbuat iseng. Itu semua memiliki hikmah dan tujuan-tujuan pengajaran yang sangat agung untuk mematangkan konsep kemanusiaan kita. Mungkin pesan dan hikmah yang diterima setiap orang akan berbeda. Tapi satu ukurannya, makin cerdasnya batin kita untuk menerima isyarat dan petunjuk Allah ﷻ yang kemudian berdampak pada meningkatnya mutu dan intensitas hubungan kita dengan Allah dan manusia.

Wallahu a’alam