Anak-anak muda berseloroh bahwa CINTA adalah akronim dari Cerita Indah Tanpa Akhir, tetapi faktanya cinta tidak selalu berakhir indah, tidak jarang cinta harus berujung pada tragedi yang memilukan. Bahkan atas nama cinta manusia bisa saling baku bunuh, membuat banyak hati lain yang terluka karenanya.

Tersesat Di Jalan Cinta
Photo by Roman Kraft on Unsplash

Hampir semua peperangan besar yang dialami oleh manusia adalah dampak dari cinta. Epos Ramayana yang legendaris itu, sesungguhnya bukanlah sekedar kisah percintaan antara Prabu Rama dengan Dewi Shinta, tetapi ia adalah peringatan penting bahwa perang akan selalu mengatas-namakan cinta.

Cinta atas kekasih hati, cinta atas agama, cinta pada tumpah darah/tanah air sebagaimana lakon yang diperankan oleh Kumbakarna adik Rahwana, ia tahu kakaknya yang salah, tapi ia berperang atas nama negeri yang dicintai dari serangan tentara Prabu Rama. Sementara adik bungsu Rahwana yang arif bijaksana, yakni Wibisana harus bertahan pada pendiriannya sendiri karena cintanya pada ilmu dan kebenaran yang ia junjung tinggi. Atas nama cinta mereka harus berhadap-hadapan sebagai musuh dan menafikan cinta yang lain, cinta atas saydara sedarah!

Jika demikian halnya, maka berarti cinta adalah kekuatan yang merusak? Nanti dulu, jangan terburu menyimpulkan. Meski cinta kerap dibarengi tragedi, tetapi ratapan setiap wanita, ratapan setiap ibu, yang suami atau anaknya menjadi korban atas nama cinta dalam setiap peperangan ternyata kerap dimaknai oleh manusia sebagai sebentuk keagungan! Ia jadi pahlawan bagi kaum atau bangsanya.

Manusia tidak pernah jera dengan semua risiko cinta, tragedi yang muncul memang menyakitkan tetapi itu semua akan dimaknai sebagai sebuah pembuktian kecil, bahwa memang ada yang harus selalu dikorban di altar cinta. Nah, masalahnya adalah, bagaimana agar cinta itu terang dan dipenuhi cahaya-cahaya Ilahiah, agar jangan sampai cinta menjadi berhala dan ilah baru yang mengendalikan jiwa dan batin kita. Bagaimana cinta dikelola dan tetap diletakkan sebagai media pengabdian pada Allah SWT?

Baca juga:  Pencabutan Larangan Hijab Di Belgia Selatan Menjadi Harapan Bagi Wanita Muslim

Seperti cinta Ibrahim atas Ismail, ayahanda mana yang tidak cinta pada putera kandungnya? Tetapi Ibrahim alaihissalam mengerti tentang prioritas cinta. Cintanya pada Ismail tidak boleh menjadi penghalang bagi cinta kudusnya kepada Allah azza wa jalla. Bahkan Ibrahim memahami, bahwa cintanya pada Allah sebagai Sang Causa Prima, menuntut bukti dengan kerelaan untuk mensub-ordinasikan cinta-cinta yang lain pada tahta cintanya kepada Allah yang Maha Berkuasa dimana segala sesuatu bergantung kepada-Nya.

Hidup dengan cinta memang akan terasa lebih hidup. Tetapi cinta tanpa landasan nilai Ilahiah, justru akan berujung pada kesesatan dan penderitaan abadi. Anda bisa bayangkan, jika semua cinta dipatuhi dan diperturutkan, alangkah capeknya manusia karena dominasi cinta. Cinta pada harta dan dunia, akan menjadikan hidup kita sebagai lahan perburuan uang yang tanpa akhir.

Jika kemudian uang itu didapatkan, maka bukan kita yang mengendalikan uang tersebut, tetapi cinta yang amat sangat terhadap uang, akan membuat seseorang menuruti kemauan uang, akhirnya manusia menjadi hamba uang. Demikian pula dengan cinta pada jabatan atau kekasih hati, jabatan bisa menjadi Tuhan, yang karenanya kita akan melakukan apapun agar jabatan itu abadi, maka sesatlah manusia di jalan cintanya.

Mari mengikuti dan meneladani jejak Ibrahim alaihissalam, maka pertama-tama cinta kepada Allah harus menjadi paradigma bagi semua cinta yang lain. Di atas keyakinan dan kecintaan kepada Allah, cinta pada hal lain ditegakkan. Jika kita mencintai keluarga, maka insyaallah cinta kita pada mereka dalam koridor cinta kepada Allah dan tunduk pada aturan Allah tentang bagaimana berkeluarga.

Baca juga:  Bahwa Antara Kehendak Dan Keridaan Allah Terletak Pada Dirimu

Jika kita mencintai harta, kita akan mencintainya dalam rangka cinta kita kepada Allah, sehingga uang akan kita letakkan di tangan, bukan di hati. Maka manakala Allah menyeru untuk beramal dan bersedekah, tangan kita akan mudah terulur untuk berkonstribusi.

Cinta yang yang ditegakkan atas nilai tauhid inilah yang akan membawa manusia merasa indah menapaki jalan kehidupan yang terang. Sebaliknya, jika mengagungkan cinta namun tidak mencintai Allah Sang penganugerah rasa cinta, sungguh ia dalam keindahan yang semu hanya sebatas kenikmatan duniawi belaka yang akan diperolehnya.

Kenalilah Tuhan, tumbuhkan cinta pada-Nya, maka keindahan hidup akan menghampiri, seperti musim hujan yang akan menggemburkan ladang batin, dimana semua keindahan akan tumbuh dan bunga-bunganya akan mewangi. Gerakmu akan menjadi sedekah yang menghidupkan mereka yang papa, tuturkata menjadi gending bening yang mewartakan nasehat kebaikan, alampun mendapatkan berkah dari keberadaanmu.

“Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

QS. At-Taubah: 24