Perhelatan besar itu bernama Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia atau disingkat menjadi Munas MUI ke X. Berlangsung dari tanggal 25 – 27 November 2020 di Hotel Sultan, Jakarta. Diselenggarakan di tengah Pandemi Covid 19 yang sedari pembukaan dipuji oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bahwa penyelenggaraan Munas ke X ini telah menegakkan protokol kesehatan dengan sangat baik.

Titip Ukhuwah Untuk Nahkoda Baru Majelis Ulama Indonesi
Foto: Istimewa – Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Musyawarah Nasional yang dilakukan dengan cara blanded system (offline dan online) berlangsung dengan aman dan tertib. Salah satu agenda penting dan menjadi perhatian banyak pihak dalam kegiatan Musyawarah Nasional adalah pemilihan ketua umum MUI yang baru. Sosok ketua memang sangat menentukan arah dan dinamika MUI ke depan, wajar jika banyak pihak menaruh perhatian pada sesi ini, meski banyak agenda lain yang tak kalah penting.

Dan berita gembiranya, Ketua Umum Majelis Ulama terpilih adalah KH Miftachul Akhyar. Formatur yang terdiri atas 17 orang bermufakat untuk menetapkan Rais Aam Pengurus Besar Nahdatul Ulama ini sebagai nahkoda baru Majelis Ulama Indonesia periode 2020 – 2025. Semoga Allah menolong dengan kekuatan dan kemudahan kepada beliau untuk menjalankan amanah ini.

Ibarat kapal, secara kelembagaa MUI sebenarnya telah menetapkan tujuan akhir perjalanan yang akan diarunginya. Ada banyak pelabuhan yang harus disinggahi dalam rangka mendekatkan pada dermaga akhir yang telah ditetapkan sebagi visi MUI. Nahkoda MUI bertugas untuk mengarahkan bahtera yang dinahkodainya agar tetap pada jalur dan tujuan akhir dengan memimpin para awak kapal agar mematuhi tanggungjawab masing-masing sehingga kapal berfungsi baik dan dapat mencapai visi pelayarannya.

Akan ada ombak dan badai. Itu sunatullah dan kepastian hidup. Nahkoda hanya bertugas untuk mengarahkan kapal agar tetap pada koridor pelayaran, tentu boleh meliuk, melakukan manuver jika dipandang perlu agar perahu tak kandas, atau bahkan menerjang ombak besar jika tak ada lagi pilihan untuk mengelak, karena tujuan pelayaran ini telah ditetapkan dengan koordinat, manifest, dan rute yang telah ditentukan.

Baca juga:  Berbagai Aspek Perkembangan Kognisi Anak

Untuk itulah seorang nahkoda diperlukan. Memimpin pelayaran agar sampai tujuan dengan selamat. Godaan terbesarnya, karena memegang power dan kemudi nahkoda bisa tergoda, lupa atau mungkin kesulitan untuk membedakan mana tujuan kapal dan mana tujuan pribadinya. Apalagi kapal besar bernama MUI yang pada setiap laju pergerakannya berpotensi menciptakan riak, bahkan gelombang yang tak kecil.

Majelis Ulama Indonesia adalah wadah berhimpunnya para ulama dan cerdik pandai dari berbagai organisasi Islam yang ada di Indonesia. Fungsi keberadaan MUI ditilik dari latar sejarahnya adalah dalam rangka membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia. Tentu fungsi tersebut dalam konteks dakwah Islam dan peningkatan wawasan ke-Islaman masyarakat.

Sejauh ini, MUI cukup berhasil dalam menjalankan fungsi-fungsinya itu. Bahkan kegiatan bimbingan dan pembinaan ke-Islaman telah berkembang begitu pesat. MUI dengan sangat baik mampu membangun orkestra kegiatan bimbingan dan pembinaan umat yang berlangsung di organisasi-organisasi anggotanya. Sehinngga dakwah Islam terasa begitu dinamis di Indonesia. Gencarnya sertifikasi halal juga menunjukkan bahwa perlindungan atas hak-hak konsumen muslim makin terjamin di Indonesia. Itu semua adalah bagian dari peran penting yang telah dimainkan secara apik oleh MUI sejauh ini.

Tantangan terberat MUI di masa yang akan datang mungkin lebih pada peran melindungi umat Islam dari perpecahan. Dalam satu dekade terakhir umat Islam pasti merasakan, bahwa ukhuwah Islam rentan mengalami keretakan. Salah satu sisi paling rawan terkait ancaman terhadap persatuan umat Islam adalah dinamika dan agenda politik.

Baca juga:  Indonesia Bisa Menjadi Pusat Industri Keuangan Islam Di Asia

Dua kali pemilihan presiden dalam rentang waktu 10 tahun terakhir terasa sekali menggerus energi persatuan umat bahkan nyaris membuat defisit ukhuwah dan persaudaraan umat Islam. Ancaman perpecahan begitu nyata dan meluas hingga ke daerah-daerah.

Persatuan di tubuh umat Islam menggaransi keutuhan NKRI. Jika umat Islam gagal menjaga ukhuwah dan persatuan, maka dampaknya akan serius bagi keutuhan jati diri kita sebagai bangsa. Sungguh, sinyalemen ini tak berlebihan menginagt 85 persen warga negara kita adalah umat Islam dan sejarah telah membuktikan itu, bahwa persatuan di kalangan umat Islam adalah modal penting bagi kelestarian NKRI.

MUI harus menjadi perekat ukhuwah Islam, setidaknya di tingkat elit organisasi Islam yang menjadi anggota MUI. Syukur-syukur jika MUI menggalang gerakan ukhuwah Islam ini secara nasional dengan melibatkan semua elemen umat Islam di seluruh Indonesia, karena Pilkada di daerah juga memberi dampak kurang lebih serupa terhadap kelanggengan ukhuwah Islam. Bukan berarti umat harus dikendalikan hak-hak politiknya, justru yang terpenting adalah bagaimana berpolitik secara dewasa dan sesuai adab Islam sembari mengajak para politisi Islam agar tidak melakukan politisasi agama untuk kepentingan jangka pendek mereka.

Salah satu agenda penting terkait hal tersebut, MUI harus memulai dari internal MUI sendiri. Elit MUI jangan mudah silau oleh godaan politik dan menjadikan MUI sebagai kendaraan politik! Insya Allah amanat mengelola MUI jauh lebih mulia di sisi Allah dan manusia, melebihi jabatan manapun yang ada di dunia ini.

Selamat bekerja Pak Kyai, kami titipkan ukhuwah yang mulai retak ini agar rekat kembali.