Ternyata dari cara memperlakukan kerupuk yang alot ada satu pelajaran berharga dalam kehidupan kita. Sejatinya, kerupuk alot adalah kerupuk dalam kondisi sakit. Musuh kerupuk sebenarnya adalah udara bebas, dan pada dasarnya ia tak boleh bertemu udara bebas

Pernahkah kita memikirkan nasib kerupuk retur yang banyak dijual di warung-warung, akan dibuat apakah setelah ia sampai di tempat pabrik pembuatannya?

Suatu hari ada seorang teman bercerita, ia bertanya kepada tukang kerupuk keliling yang menyuplai kerupuk ke warung-warung, kerupuk-kerupuk retur itu mau dijadikan apa?

Tukang kerupuk menjelaskan bahwa semua tergantung kondisi kerupuknya. Bila agak alot atau ulet maka cukup dicampur dengan kerupuk-kerupuk yang baru digoreng, selanjutnya ia menjadi garing kembali. Tapi bila kondisinya sudah sangat alot, maka jalan satu-satunya adalah wajib digoreng kembali meski tak akan seperti semula.

Ternyata dari cara memperlakukan kerupuk yang alot ada satu pelajaran berharga dalam kehidupan kita. Sejatinya, kerupuk alot adalah kerupuk dalam kondisi sakit. Musuh kerupuk sebenarnya adalah udara bebas, dan pada dasarnya ia tak boleh bertemu udara bebas, bila sesekali ia terkena udara bebas ia masih bisa bertahan, tapi saat intensitas pertemuannya dengan udara bebas meningkat. Maka ia menjadi lesu dan akhirnya berubah alot, dan pada saat itulah tak ada lagi orang yang mau memakannya sebab ia telah kehilangan manfaatnya.

Bukankah seringkali kita dihadapkan pada kondisi perilaku yang sama seperti kerupuk. Musuh kita adalah akhlak tercela, teman-teman tercela, lingkungan tercela, pemikiran tercela, buku-buku tercela, media-media tercela dan lain-lain yang sejatinya kita dilarang mendekatinya. Suatu saat kita terjebak seperti nasib kerupuk, menjadi manusia yang sedang sakit, bisa sakit ringan dan bisa juga sakit parah. Sesuai dengan tingkat serangan musuh atau intensitas hubungan kita yang erat dengan sumber penyakit.

Baca juga:  Meniru Langkah Jepang Untuk Menjadi Negara Maju

Bila kita mencermati masalah hukuman dalam Islam, niscaya kita dapati bahwa Islam sangat menitikberatkan pada hukuman yang mampu menciptakan efek jera bagi pelakunya atau bagi orang yang melihat hukuman itu diterapkan. Oleh karena itu pada setiap pelaksanaan hukuman maka kaum muslimin dibolehkan dan juga diharuskan melihat prosesnya. Sudah pasti melihat pelaksanaan hukuman yang kadang begitu berat akan meninggalkan kesan yang juga berat pada setiap jiwa seorang muslim.

Kita juga akan mendapati adanya perbedaan hukuman antara pencuri dan perampok misalnya, sebab kejahatan perampok lebih berat daripada pencuri meski sama-sama mengambil hak orang lain.

Hukuman bagi pezina yang sudah berkeluarga berbeda dengan pezina yang belum berkeluarga. Demikian juga dengan hukuman atas kesalahan yang dilakukan oleh budak akan berbeda dengan yang diterima oleh orang merdeka.

Semua hukuman dalam Islam ada takarannya masing-masing. Semuanya didasarkan atas siapa pelakunya dan bagaimana ia melakukannya serta kapan ia melakukannya. Dan itulah keadilan hukum dalam agama Islam yang tidak akan kita temui dalam agama manapun.

Dalam lingkungan keluarga pun Islam sudah mengatur masalah hukuman ini dengan sangat bijaknya. Anak kecil usia tujuh tahun sudah diperintahkan untuk melakukan shalat. Dan perintah ini juga berlaku saat ia berusia sembilan tahun. Namun saat ia enggan melaksakannya maka tidak sama cara memperlakukannya.

Baca juga:  Krisis Lingkungan Hidup Serta Peran Dakwah Islam

Dan yang pasti, bila suatu saat kita berbuat salah maka jangan salahkan siapapun kecuali diri kita sendiri bila suatu saat kita harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Mungkin suatu saat kita cuma perlu bergaul dengan orang-orang baik agar kita mendapatkan kebaikannya sehingga diri kita menjadi baik kembali.

Dan bila suatu saat kita harus di digoreng sebagaimana halnya kerupuk, maka ketahuilah bahwa besar kemungkinan diri kita memang sudah sangat layak untuk digoreng, agar semua penyakit-penyakit tercela itu luntur dan menghilang dari diri kita, pikiran kita, jiwa kita, akhlak dan perilaku kita.

Tak selamanya mendidik itu hanya berupa memberikan belas kasihan. Sebab bila ia berlebihan maka akan menghasilkan jiwa-jiwa lemah tak bertanggung jawab.

Dan tak selamanya mendidik itu bersikap keras. Sebab bila ia berlebihan maka hanya menghasilkan jiwa-jiwa kasar yang penuh dengan sikap balas dendam.

Benar sekali apa yang dikatakan oleh Ibnu Zaidun, seorang penyair Arab dari negeri Andalusia saat ia melihat ada seorang raja yang menghukum seseorang meski orang itu adalah salah satu anggota keluarganya:

فقسا ليزدجروا ومن يك حازما… فليقس أحيانا على من يرحم

“Lalu ia (raja) bersikap keras agar mereka menjadi jera. Dan barangsiapa yang bersikap bijak… hendaklah ia sesekali bersikap keras meski kepada orang yang ia kasihi”