Pernahkah kita merasakan anugerah telinga? Bahkan benar-benar merasakan anugerah telinga? Bila ada yang belum pernah, atau malah tidak merasa bahwa telinga adalah anugerah, maka lihatlah bagaimana perilaku tetangga-tetangganya, yaitu mulut dan mata.

Letak telinga sengaja Allah berikan di bagian samping, sedang mata dan mulut mendapatkan posisinya di bagian depan. Apakah semua itu hal biasa? Tentu tak mungkin Allah Azza wa Jalla mencipta sesuatu tanpa ilmu, sedangkan sudah Dia tegaskan dalam kitab-Nya,

“Laqad khalaqnal-insaana fii ahsani taqwiim”

Maka letak telinga, mulut dan mata adalah sudah kesempurnaan. Mulut dan dua mata ada di bagian depan, sedang dua telinga ada di bagian samping. Kita tak hendak mempertanyakan kenapa Allah mencipta seperti itu. Namun sebaik-baik ciptaan-Nya tentulah menyimpan hikmah. Kita mendapatinya atau tidak, tetaplah hikmah itu ada.

Saat kita berkomunikasi maka mulut dan mata senantiasa seiring sejalan. Menghadap pada posisi yang sama. Letak keduanya yang sama-sama di bagian depan inilah yang memberikan isyarat kepada kita bahwa berkomunikasi haruslah manghadap pada komunikan. Sangat tidak santun dan tidak elok bila kita berkomunikasi sedang kita tak menghadap orang yang kita ajak berkomunikasi. Meski kadang ada juga orang berkomunikasi namun hanya mulut yang ia hadapkan, sedang matanya menghadap ke arah lain. Cara ini pun sama, tidak santun.

Lihatlah apa yang diajarkan oleh Jibril alaihissalam kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat ia datang untuk bertanya kepada Nabi apa itu iman, islam dan ihsan. Setelahnya beliau pun berkata kepada para sahabatnya,

“Hadzaa jibriil, ataakum yu’allimukum amra diinikum”, dia itu Jibril datang pada kalian untuk mengajarkan agama kalian.

Dalam kisah di atas, sejatinya Jibril diutus oleh Allah bukan untuk mengajari sang Nabi. Namun ia datang memberikan contoh teladan kepada umat beliau agar melihat secara langsung bagaimana adab berkomunikasi. Dan itu salah satu yang diajarkan. Maka ia datang menghadap. Dalam bentuk manusia yang memiliki mulut, mata dan telinga. Ia berbicara, namun ia justru banyak mendengar. Bukankah kemudian Nabi yang menjawab lalu didengarkan oleh sang malaikat?

Baca juga:  Sekolah Dari Rumah Dan Keterampilan Pedagogik Untuk Orang Tua/Wali Murid

Bila kita telaah lebih lanjut, maka mulut adalah alat yang paling sering dan banyak digunakan untuk berkomunikasi. Ia mengeluarkan suara yang dapat difahami. Suara-suara yang dihasilkan oleh mulut berupa kosa kata-kosa kata yang mencakup semuanya. Baik dan buruknya, santun dan kasarnya, sejuk dan pedasnya, berat dan ringannya, juga termasuk mengandung ilmu atau tidaknya. Oleh karena ia adalah alat yang dapat mengeluarkan suara-suara itulah maka seringnya kita menganggap bahwa alat berkomunikasi hanyalah mulut, sedang selainnya dianggap tak perlu. Jadilah kita lebih banyak bersuara. Bahkan kadang kala kita sekehendaknya ingin bersuara sendirian, sedang yang lain hanya layak mendengar, yaitu mendengar hanya kepada suara kita.

Lalu mata. Dialah tetangga mulut yang paling dekat. Bahkan sudah dipastikan dimana mulut menghadap disitulah mata juga menghadap. Begitu pula sebaliknya. Mata senantiasa mengajak mulut agar bersuara. Meski mulut tak pernah mengajaknya untuk melihat. Dan umumnya memang seperti itu. Maka dari itulah betapa seringnya kita acap bersuara seketika mata melihat sesuatu. Itulah mulut, yang punya dua tetangga dekat bernama mata.

Lalu bagaimana kabar dua tetangga lainnya yaitu telinga? Pastinya ia tetangga jauh. Berada di bagian samping. Oleh karena ia berada di samping maka seringnya ia terabai oleh mulut dan juga mata. Bahkan acapkali mulut menganggapnya sebagai tetangga yang harus dikesampingkan, sesuai dengan posisinya. Mulut menganggap sulit bila harus menghadapkan telinga saat berkomunikasi. Tapi mulut lupa bahwa telinga sangat ahli dan piawai berkomunikasi meski ia tak menghadap, namun telinga tahu, telinga faham, dan telinga juga mengerti. Meski sekali lagi, telinga tak pernah menghadap saat berkomunikasi.

Baca juga:  Tahun Baru, Harapan, dan Kematian

Cukuplah bukti bahwa fungsi telinga pernah diletakkan pada urutan pertama mengalahkan mata dan hati. Sebab ia sangat ahli dan piawai dalam berkomunikasi.

“Innas-sam’a wal-bashara wal-fu-aada kullu ulaa-ika kaana ‘anhu mas-uulaa”

Maka sudah selayaknya kita memberi harga pada telinga kita. Ia lebih mahal dari mulut dan juga mata. Bukankah hati adalah tempatnya berpikir? Namun ia perlu masukan agar ada yang dipikirkan. Ia bisa mendapatkan masukan dari hasil pandangan mata. Tapi saat mata kehilangan fungsi maka ia pun masih bisa digantikan oleh telinga. Namun sayang sekali saat telinga yang kehilangan fungsi, maka mata tak akan mampu menggantikan kedudukannya.

Alangkah banyak orang buta namun ia masih sanggup bicara dan mendengar. Namun betapa banyak juga orang yang tuli dan akhirnya ia pun tak mampu bicara meski ia masih punya mata.

Tak selamanya berkomunikasi harus dengan mulut. Justru saat ia dicipta hanya satu dan telinga dicipta dua, adalah agar kita lebih banyak mendengar dari pada bersuara.

Dan mendengar itu perlu.