Menurut Borba, kecerdasan moral terbangun dari tujuh kebajikan utama, yakni empati, hati nurani, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan hati, toleransi, dan keadilan.

Arti Penting Kecerdasan Moral Dalam Tumbuh Kembang Anak
Foto oleh Andrew Ebrahim di Unsplash

Mengingat pentingnya moralitas dalam diri anak, ilmuwan memandang perlu bagi anak untuk memiliki kemampuan dalam bidang moralitas. Para ilmuwan menyebut hal ini sebagai kecerdasar moral (moral intelligence).

Menurut ilmuwan psikologi pendidikan Michele Borba, kecerdasan moral adalah kemampuan memahami hal yang benar dan yang salah. Artinya, anak yang memiliki kecerdasan moral memiliki keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan keyakinan tersebut sehingga dapat bersikap benar dan terhormat.

Kecerdasan Moral Sangat Diperlukan Karena Ada Dua Fakta.

Pertama, faktor-faktor sosial yang bertangung jawab dalam membangun moral anak semakin melemah. Misalnya, pengawasan orangtua terhadap anak berkurang, figur-fugur teladan yang memberi contoh moral mulai berkurang, pendidikan agama terlampau sedikit, sekolah berhasil menjadikan anak berprestasi secara akademik tapi gagal membentuk moralitas anak, kontrol sosial dari lingkungan masyarakat semakin melemah.

Kedua, anak secara terus-menerus menerima masukan dari luar yang bertentangan dengan norma-norma baik yang kita ajarkan. Hal ini terlihat dari, misalnya, berbagai tayangan program televisi yang tidak mendidik seperti sinetron yang menampilkan adegan kekerasan, gaya hidup bebas, dan memuja materialisme.

Internet menyajikan berbagai situs yang menampilkan pornografi yang dapat diakses tanpa terbatas. Situs-situs tertentu berisi penghasutan yang mengajarkan kebencian terhadap pihak lain.

Media sosial membawa pada pertemanan yang justru menjerumuskan anak pada tindakan asusila dan kekerasan. Perangkat komunikasi atau gawai (gadget) yang mudah dimiliki karena harga yang semakin terjangkau justru membuat situs-situs (yang tidak layak dikonsumsi anak) dan media sosial (yang seperti rimba belantara) menjadi semakin mudah diakses tanpa pengawasan dari orangtua.

Itulah mengapa kecerdasan moral sangat penting dimiliki anak agar mereka bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Juga agar mereka bisa membentengi diri dari pengaruh buruk dari luar. Kecerdasan moral menjadi bekal yang harus dimiliki anak agar mereka dapat menempatkan diri di masyarakat saat mereka dewasa kelak.

Baca juga:  Bagaimanakah Bentuk Bangunan Rumah Kita?

Untungnya kecerdasan moral ini bisa dipelajari, bahkan sejak anak berusia dini. Memang pada usia tersebut perkembangan kognisinya belum bisa melakukan penalaran moral yang kompleks. Namun, pada usia tersebut, dasar-dasar moral perlu dipelajari agar mereka terbiasa dengan nilai-nilai moral yang baik. Sehingga saat usia anak sudah pada tahap penalaran moral yang baik, mereka dapat lebih mudah menerima nilai-nilai moral yang ditanamkan orangtua atau guru.

Penelitian dalam bidang perkembangan moral menunjukkan bahwa bayi berusia enam bulan menunjukkan respon terhadap kesedihan orang lain. Artinya, pada usia tersebut mereka sudah bisa mempelajari dasar-dasar empati. Untuk itu, orangtua atau guru perlu menanamkan moral sejak usia dini, jangan menunggu sampai mereka berusia tujuh tahun atau lebih. Penanaman moral yang terlambat akan membuat orangtua atau guru kesulitan dalam mendidik mereka karena mereka sudah terbiasa dengan perilaku-perilaku yang mereka anggap benar selama ini.

Kebajikan Utama Kecerdasan Moral.

Menurut Borba, kecerdasan moral terbangun dari tujuh kebajikan utama, yakni empati, hati nurani, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan hati, toleransi, dan keadilan.

  1. Empati merupakan inti emosi moral yang membantu anak memahami perasaan orang lain. Kebajikan ini membuat anak peka terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain. Empati mendorong anak menolong orang lain yang kesusahan atau kesakitan, juga membuat anak bisa memperlakukan orang lain dengan kasih sayang. Empati mendorong anak bertindak benar karena ia bisa melihat kesusahan orang lain sehingga mencegahnya melakukan tindakan yang dapat melukai orang lain.
  2. Hati nurani adalah suara hati yang membantu anak memilih jalan yang benar daripada jalan yang salah serta tetap berada di jalur yang bermoral. Juga membuat dirinya merasa bersalah ketika menyimpang dari jalur yang semestinya. Hati nurani membentengi anak dari pengaruh buruk dan tahan terhadap godaan. Hati nurani merupakan ponasi bagi berkembangnya sifat jujur, tanggung jawab, dan integritas yang tinggi.
  3. Kontrol diri membantu anak menahan dorongan dari dalam dirinya dan berpikir sebelum bertindak. Kontrol diri membuat anak mampu melakukan tindakan yang benar, kecil kemungkinan melakukan perbuatan yang menimbulkan akibat buruk. Kontrol diri membuat anak menjadi pribadi yang mandiri karena ia mampu mengendalikan tindakannya sendiri. Kontrol diri juga dapat membangkitkan sifat murah hati karena anak mampu menahan keinginan untuk mamuaskan diri sendiri dan lebih mementingkan kebutuhan orang lain.
  4. Rasa hormat membuat anak mampu memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan. Rasa hormat mencegah anak bertindak kasar, tidak adil, dan memusuhi orang lain.
  5. Kebaikan hati membuat anak peduli terhadap kesejahteraan dan perasaan orang lain. Amak lebih belas kasih dan tidak terlalu memikirkan diri sendiri. Kebaikan hati mendorong anak untuk peduli atas kebutuhan orang lain dan membantu orang lain yang butuh bantuan.
  6. Toleransi membuat anak mampu menghargai perbedaan-perbedaan yang ada pada orang lain dan terbuka dengan pandangan dan keyakinan orang lain yang berbeda dengan dirinya. Toleransi mencegah timbulnya sikap-sikap negatif seperti prasangka, permusuhan, diskriminasi, dan fanatisme.
  7. Keadilan menuntun anak agar memperlakukan orang lain dengan baik, tidak memihak, menghargai hak-hak orang lain, dan patuh terhadap aturan yang berlaku. Keadilan membuat anak terdorong membela pihak-pihak yang diperlakukan tidak adil. Adanya kebajikan ini membuat anak berpandangan bahwa semua orang harus diperlakukan setara.