Perkembangan sosial anak berperan penting bagi kehidupannya, antara lain dalam mengembangkan emosinya, dalam mencapai kesuksesan di sekolah maupun di tempat kerja, dan berbagai penyesuaian sosial yang lain.

Beberapa Aspek Penting Dalam Perkembangan Sosial Anak
Foto oleh Annie Spratt di Unsplash

Pada hakekatnya, manusia itu makhluk sosial. Manusia tidak bisa melepaskan dirinya dari berinteraksi dengan orang lain. Kehadiran seorang anak manusia di dunia langsung disambut tawa dan suka cita dari orangtua dan orang-orang terdekat dalam keluarganya.

Perkembangan sosial dimaknai sebagai proses di mana anak tumbuh kemampuan sosialnya, menyadari akan kehadiran orang lain, mengembangkan kemampauan bekerja sama, dan mendekati serta berinteraksi dengan orang lain. Perkembangan sosial anak berperan penting bagi kehidupannya, antara lain dalam mengembangkan emosinya, dalam mencapai kesuksesan di sekolah maupun di tempat kerja, dan berbagai penyesuaian sosial yang lain. Perkembangan sosial yang lemah pada anak membuatnya mengalami masalah terkait relasi, seperti terkucil dari teman sebaya, mengalami masalah akademik, bermasalah di tempat kerja, bahkan terlibat dalam tindakan kriminal.

Perkembangan sosial anak berlangsung mula-mula dari lingkungan terdekatnya, dalam hal ini orangtua. Orangtua, dan orang-orang terdekat dalam keluarga, adalah orang-orang yang pertama kali berinteraksi dalam kehidupan seorang anak. Setelah anak tumbuh lebih besar, ia mulai berinteraksi dengan teman-teman sebaya, baik di lingkungan rumah maupun di sekolah. Selama perkembangan sosialnya, anak akan berinteraksi atau dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang lebih luas, seperti komunitas, masyarakat, dan budaya.

Interaksi anak dengan orangtuanya merupakan pondasi dalam perkembangan sosial anak. Interaksi yang berlangsung terus-menerus dengan ibu dan ayahnya selama awal masa perkembangan menjadi rujukan anak dalam berinteraksi dengan orang lain. Melalui pengalamannya berinteraksi dengan orangtuanya, anak mengembangkan kemampuan sosialnya, bagaimana menyampaikan keinginan kepada orang lain dan bagaimana cara memenuhi kebutuhannya.

Pola interaksi antara anak dengan orngtuanya berperan besar bagi perkembangan sosial anak. Pola interaksi tersebut akan terus berpengaruh sampai anak tumbuh dewasa. Ilmuwan bernama John Bowlby dan Mary Ainsworth menyebut pola interaksi ini dengan nama gaya lekat (attachment style), yakni pola ikatan emosional yang terbangun antara anak dengan orangtuanya. Jika orangtua peduli dan konsisten dalam memenuhi apa yang dibutuhkan anak, anak akan mengembangkan kelekatan emosi yang nyaman. Anak akan merasa percaya diri karena orangtua siap sedia dan bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Sebaliknya, jika orangtua tidak bisa secara konsisten memenuhi kebutuhan anaknya, anak akan mengembangkan kelekatan yang tidak nyaman. Anak akan merasa tidak nyaman dalam meminta bantuan orangtuanya. Sebagai gantinya, karena sering mendapat penolakan dari orangtuanya saat meminta bantuan, anak malah menyembunyikan keinginan dan kebutuhannya dari orangtuanya. Akibatnya, anak menampilkan sikap yang menunjukkan penolakan terhadap orangtuanya.

Baca juga:  Memahami Aspek Dasar Perkembangan Kecerdasan Emosi Anak

Bowlby dan Ainsworth berpendapat bahwa pola ikatan anak dengan orangtua ini menjadi landasan bagi anak dalam mengembangkan interaksi sosialnya dengan orang lain. Interaksi yang selama ini terjalin dengan orangtuanya menjadi cara pandang anak dalam melihat bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Sehingga, anak yang punya kelekatan yang nyaman dengan orangtuanya cenderung mampu mengembangkan sikap positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Sebaliknya, anak yang punya kelekatan yang tidak nyaman dengan orangtuanya cenderung mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain.

Pelajaran tentang bagaimana membangun relasi yang diterima selama anak berinteraksi dengan orangtuanya digunakan oleh anak saat menjalin interaksi dan membangun pertemanan dengan teman sebayanya, baik teman di lingkungan rumah maupun teman di sekolah. Adanya perasaan diterima dan mampu membangun pertemanan dengan teman sebaya merupakan hal yang penting bagi perkembangan sosial anak. Anak yang diterima oleh teman sebaya cenderung dinilai hangat dan positif oleh teman-temannya, sedangkan anak yang tidak diterima teman sebaya cenderung dinilai negatif dan tidak disukai teman sebaya. Bagaimana anak menjalin relasi dan pertemanan dengan teman sebaya menjadi prediksi bagaimana anak membangun relasi dengan orang lain, baik di masyarakat maupun di tempat kerja. Jika anak sukses menjalin pertemanan dengan teman sebaya diperkirakan akan sukses juga dalam menjalin hubungan dengan orang lain di lingkungan sekitar maupun di tempat kerja saat dewasa kelak.

Teman sebaya berperan penting karena anak sedang tumbuh dan sedang berupaya lebih mandiri, mengurangi ketergantungannya dengan orangtua atau keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang hanya punya sedikit teman dekat pada saat dewasa nanti cenderung tidak lulus sekolah, punya masalah dalam pernikahannya, dan terlibat dalam tindakan kriminal.

Pertemanan anak dengan teman sebaya memiliki tiga peran penting, yakni memberi dukungan emosional, memberi informasi terkait mana perilaku dan nilai yang bisa diterima secara sosial, dan sebagai sarana untuk mengembangkan kecakapan sosial.

Salah satu tantangan yang dihadapi anak usia dini dalam bidang sosial adalah bagaimana bergabung dengan orang lain dalam suatu permainan. Anak dituntut kemampuannya dalam mengamati jenis permainan apa yang dilakukan teman sebayanya, terlibat dalam permainan, dan mengajak bicara temannya tentang permainan tersebut. Di sinilah kamampuan anak dalam komunikasi berperan penting. Anak yang punya kemampuan komunikasi yang baik cenderung lebih bisa memenuhi apa yang dibutuhkannya dibandingkan dengan anak yang kurang bisa berkomunikasi dengan baik.

Pada usia dini, anak cenderung menunjukkan kesukaannya bermain dengan teman sebaya yang berumur dan berjenis kelamin sama. Perilaku mereka terhadap temannya berbeda dibandingkan dengan teman sebaya yang bukan temannya. Misalnya anak lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan temannya dibandingkan dengan bukan temannya. Ada saling memberi manfaat antara anak dengan temannya dibandingkan dengan bukan temannya. Namun demikian, anak usia dini juga cenderung lebih banyak bermusuhan dengan temannya dibandingkan dengan bukan temannya.

Baca juga:  Meneguhkan Kembali Peran Kepemimpinan Ayah Dalam Rumah Tangga

Untuk mengembangkan pertemanan yang baik dengan teman sebaya sekaligus mencegah konflik dalam pertemanan, anak perlu ditumbuhkan dan dibangun kecakapan sosialnya. Kecakapan sosial (social skill) adalah sesuatu yang kita lakukan untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Beberapa di antaranya adalah bekerja sama, berbagi, menunjukkan perhatian, mengawali percakapan, dan sebagainya. Di antara kecakapan sosial bertujuan untuk memberi manfaat bagi orang lain atau yang biasa disebut perilaku pro-sosial (prosocial behavior). Di antara perilaku pro-sosial adalah membantu, membuat nyaman, dan menunjukkan empati kepada orang lain.

Sebagai orangtua atau guru, kita bisa menumbuhkan kecakapan sosial dan perilaku pro-sosial pada anak usia dini. Beberapa di antaranya melalui cara-cara sebagai berikut.

  1. Ajarkan kecakapan sosial tertentu pada anak. Kita bisa mengajarkan perilaku pro-sosial baik dengan memberi perintah langsung secara verbal mupun dengan memberi contoh terkait perilaku yang diharapkan. Berikan kesempatan anak untuk mempraktekkan perilaku pro-sosial tersebut. Lalu berilah penilaian dan masukan terhadap apa yang telah mereka lakukan. Misalnya untuk mengajarkan sikap empati, kita menanyakan kepada anak apa yang akan dilakukan jika ada teman kita yang murung sendirian sementara teman-teman yang lain asyik bermain?
  2. Namai dan pujilah perilaku yang baik saat hal itu terjadi. Dalam hal ini kita mengidentifikasi dan memuji kecakapan sosial tertentu yang dilakukan oleh anak. Misalnya, kepada anak yang usai menyapu lantai yang kotor, kita mengatakan, “Terima kasih sudah membantu membersihkan lantai.”
  3. Ajarkan strategi dalam menyelesaian masalah sosial, misalnya bagaimana cara mendamaikan dua teman yang sedang bermusuhan, bagaimana cara mengatasi teman yang sering membuat onar, dan sebagainya.
  4. Buatlah aktivitas yang menuntut kerja sama di antara anak-anak. Ketika anak terlibat dalam permainan yang menuntuk kerja sama, dorongan agresi menurun, dibandingkan dnegan permainan yang menuntut adanya kompetisi. Ketika anak terlibat dalam permainan yang menuntut kerja sama, perilaku positif muncul, seperti memberi bantuan, meminta bantuan, menyelesaikan masalah, dan berperilaku adil.