Perkembangan anak usia dini berkaitan erat dengan perkembangan kognisinya. Istilah kognisi dalam hal ini mengacu pada proses mental yang memungkinkan seorang anak memperoleh dan menggunakan pengetahuan. Perkembangan kognisi dapat dimaknai sebagai perubahan sepanjang waktu pada seorang anak terkait caranya berpikir, berpendapat, berbahasa, menyelesaikan masalah, dan belajar.

Berbagai Aspek Perkembangan Kognisi Anak
Foto oleh Kelly Sikkema di Unsplash

Salah satu tokoh yang memberi sumbangan besar dalam kajian perkembangan kognisi anak adalah ilmuwan psikologi asal Swiss bernama Jean Piaget (1896-1980). Ia dipandang sebagai bapak kajian perkembangan kognisi karena ia orang yang pertama kali mengkaji perkembangan kognisi anak dengan teori yang komprehensif. Piaget melakukan kajian tentang perkembangan kognisi berdasarkan serangkaian eksperimen dan wawancara terhadap anak-anak, termasuk anaknya sendiri.

Ia menyebut kajian yang dilakukannya sebagai epistemologi genetis, yang secara garis besar dimaknai sebagai kajian tentang asal usul dan proses perkembangan pengetahuan manusia yang menekankan pada proses pembentukan dan validitas pengetahuan. Ia menyimpulkan bahwa perkembangan pengetahuan pada anak merupakan proses yang bersifat konstruktif. Ia menekankan pada peran aktif anak dalam melakukan konstruksi pengetahuan, yakni bahwa pengetahuan dikonstruksi melalui suatu proses pertukaran yang aktif antara individu dan lingkungannya.

Piaget tidak setuju dengan pendapat bahwa pengetahuan adalah gambaran atau representasi yang sesuai dengan realitas. Pengahuan bukan hasil ‘copy paste’ dari realitas seperti apa adanya. Namun, pengetahuan juga bukan sesuatu yang sudah ada dalam diri seorang anak. Bagi Piaget, pengetahuan dibangun melalui tindakan terhadap dunia. Pengetahuan yang diperoleh melalui tindakan dimulai sejak usia dini dengan tindakan sederhana seperti mendorong dan menarik, dan terus berlanjut sepanjang masa perkembangan seorang anak. Dengan demikian, pengetahuan dikonstruksi melalui interaksi anak yang terus menerus dengan dunianya.

Bagi Piaget, perkembangan psikologis dari anak sampai dewasa dapat dibandingkan dengan pertumbuhan organis. Seperti pertumbuhan organis di mana badan tumbuh menuju taraf yang lebih stabil dan tercapai kematangan organ, perkembangan psikologis pada dasarnya merupakan aktivitas yang terarah menuju keseimbangan. Proses mental anak berkembang menuju suatu bentuk keseimbangan, yang diwujudkan dalam pikiran yang dewasa.

Proses anak dalam memahami lingkungan sekitar merupakan cerminan adanya kebutuhan atas keadaan yang seimbang. Pengalaman baru yang dialami seorang anak menciptakan ketidakseimbangan sehingga anak berusaha beradaptasi baik dengan cara memahami pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang baru maupun dengan cara melakukan perubahan kognisi sebagai adaptasi terhadap pengalaman baru itu.

Proses perkembangan kognisi anak menurut Piaget antara lain diformulasikan dalam konsep tentang skema, asimilasi, dan akomodasi. Konsep-konsep ini menggambarkan tentang relasi fungsional antara individu dengan dunianya pada masa perkembangan. Skema merupakan struktur atau kerangka mental yang didapat dari pengamatan dan tindakan terhadap lingkungannya dan selanjutnya kerangka mental tersebut digunakan untuk memahami lingkungannya. Pada usia bayi, aktivitas yang dilakukan berulang-ulang membentuk skema, misalnya skema mengisap. Bayi punya skema mengisap karena ia minum ASI terus menerus sepanjang waktu.

Asimilasi merupakan proses mental di mana suatu objek (baik data maupun pengalaman dari lingkungan sekitar) diterima dan dimasukkan (inkorporasi) ke dalam skema-skema yang sudah ada pada individu. Dengan mengintegrasikan objek atau peristiwa ke dalam struktur pengetahuan atau skema yang sudah ada, proses asimilasi memberikan makna. Bayi merasa jari-jarinya seperti puting yang dapat diisap, maka ia mengisap jari. Jadi, jari diasimilasikan ke dalam skema mengisap.

Akomodasi merupakan proses penyesuian di mana struktur mental atau skema yang sudah ada diubah untuk menampung fakta atau pengalaman baru. Seiring dengan bertambah usia, skema mengisap bayi berubah, bahwa tidak semua benda dapat diisap. Jari pun dihapus dari skema tentang mengisap. Asimilasi dan akomodasi ini merupakan dua aspek fundamental yang tidak dapat dipisahkan sebagai proses interaksi dengan dunia dalam rangka memperoleh pengetahuan.

Berdasarkan pandangan konstruktivis tentang pengetahuan, Piaget membagi perkembangan kognisi menjadi empat tahap. Keempat tahap itu secara berturut-turut adalah tahap sensorimotor, tahap pra-operasional, tahap operasional konkret, dan tahap operasional formal.

Tahap sensorimotor berlangsung sejak lahir sampai usia 2 tahun. Tahap ini dicirikan dengan tingginya fungsi sensorimotor yang mengatur indra dan gerakan bayi. Pada periode ini, hampir tidak ada aktivitas bayi yang bersifat simbolis atau abstrak. Anak terikat pada tempat (di sini) dan waktu (kini) yang bersifat konkret. Hal ini karena bayi yang baru lahir masih sangat tergantung pada berbagai reflek bawaan yang otomatis seperti mengisap, memegang, dan melihat, yang menimbulkan suatu tindakan tersendiri. Pada tahap ini, seorang bayi mulai menyadari adanya dunia di luar dirinya yang berbeda dengan dirinya sendiri.

Baca juga:  Perkembangan Emosi Anak Dan Peran Penting Ibu Dalam Fase Awal Perkembangannya

Tahap pra-operasional berlangsung saat anak berusia 2 tahun sampai 7 tahun. Pada tahap ini anak mulai tumbuh kemampuan dalam mengabstraksi, mampu melepaskan diri dari sesuatu yang konkret. Tahap pra-operasional ini terbagi dalam dua sub-tahap, yakni sub-tahap pra-konseptual (2 sampai 4 tahun) dan sub-tahap intuitif (5 sampai 7 tahun). Pada tahap pra-konseptual, kemampuan mengabstraksi muncul melalui kemampuannya menggunakan simbol-simbol. Anak mampu menggunakan simbol-simbol untuk mewakili pikiran dan perasaannya. Benda-benda yang dikenal tidak lagi bersifat konkret (hadir di sini dan kini), tapi juga sesuatu yang tidak hadir. Permainan, tiruan, dan bahasa merupakan tiga faktor yang menjadi cara untuk menghadirkan sesuatu yang secara nyata tidak hadir. Ciri lain dari sub-tahap pra-konseptual ini adalah adanya sifat egosentrisme, yakni anak merasa dirinya sebagai pusat dari dunianya. Diri digunakan sebagai ukuran dalam melakukan penilaian dan pertimbangan sehingga anak tidak bisa menempatkan diri pada sudut pandang orang lain. Ilustrasi klasik terhadap sifat egosentris ini merujuk pada percobaan yang dilakukan Piaget tentang tiga gunung. Anak-anak diminta melihat diorama berupa tiga gunung dari sudut pandang tertentu. Setelah itu anak diminta memilih satu dari beberapa gambar dua dimensi yang dianggap mewakili gambaran tiga gunung yang dilihat dari sudut pandang orang lain. Seorang anak tidak berhasil dalam menentukan gambar mana yang mewakili apa yang dilihat orang lain. Ia justru memilih gambar gunung yang sesuai dengan perspektif di mana ia melihat.

Sub-tahap intuisi ditandai dengan mulai munculnya kemampuan anak dalam menangkap realitas secara logis. Misalnya muncul pemahaman konservasi, yakni kesadaran bahwa suatu benda (misalnya tanah liat, air) tidak kehilangan sifat tertentu (berat, volume) walaupun secara jelas terjadi perubahan bentuk tertentu (misalnya tanah liat dari bulat menjadi pipih). Pada tahap ini juga muncul kemampuan seriasi, yakni kemampuan menyusun benda-benda dalam sebuah seri menurut panjangnya. Serta muncul kemampuan klasifikasi, yakni benda-benda yang punya ciri khas yang umum atau sama dikumpulkan dalam satu golongan.

Tahap operasional konkret berlangsung pada usia 7 sampai 11 tahun. Tahap ini dicirikan dengan kemampuan anak dalam menangkap realitas secara logis pada periode sebelumnya (melalui konservasi, seriasi, dan klasifikasi) mulai diterapkan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Ada dua ciri khas tahap operasional konkret, yakni operasional dan reversibel. Operasional berarti bahwa pengertian-pengertian yang baru dperoleh dapat diterapkan tapi semata hanya pada sesuatu yang bersifat konkret. Reversibel berarti bahwa dalam operasi logis yang dilakukan (misalnya menghitung), seorang anak dapat melakukan dalam arah yang sebaliknya.

Tahap keempat atau yang terakhir disebut operasional formal. Tahap ini muncul pada usia 11 sampai 15 tahun selama masa remaja dan dapat memuncak pada saat usia dewasa. Ada dua cara berpikir yang menandai tahap ini, yakni hipotesis-deduktif dan kombinatoris. Seorang anak remaja dapat disebut memiliki kemampuan berpikir hipotesis-deduktif jika saat menghadapi masalah ia akan memikirkan segala penyelesaiannya yang mungkin dengan membentuk sejumlah hipotesis atau perkiraan secara deduktif. Dalam menyelesaikan suatu masalah, ia tidak terpaku pada realitas yang tampak tetapi sudah bisa berpikir secara abstrak dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Cara berpikir kombinatoris berarti bahwa remaja sudah bisa mengerjakan sesuatu secara metodis-sistematis. Dalam hal ini hipotesis-hipotesis ditentukan dan diuji secara sistematis.

Teori Piaget tentang perkembangan kognisi anak lebih banyak menitikberatkan pada kemampuan anak itu sendiri dalam mengembangkan kognisinya. Perkembangan kognisi yang dicapai seorang anak merupakan hasil interaksi anak itu sendiri dengan dunianya menuju suatu titik keseimbangan. Teori Piaget dikritik karena mengabaikan pengaruh orang lain dalam perkembangan kognisi anak.

Baca juga:  Setidaknya 4 Fase Penting Dalam Proses Demokrasi

Teori sosial-budaya, yang terinspirasi pemikiran ilmuwan Rusia Lev Vygotsky (1896-1934), mencatat bahwa teori Piaget mengabaikan peran interaksi sosial, bahasa, dan budaya terhadap perkembangan kognisi anak. Menurut perspektif ini, seorang anak bukanlah pelaku yang bertindak sendirian. Anak hidup bersama orang lain, baik orang dewasa maupun teman sebaya yang menyertainya selama proses perkembangan kognisinya. Menurut teori ini, faktor budaya, orang dewasa, dan teman sebaya berpengaruh terhadap perkembangan kognisi anak.

Vygotsky berpandangan bahwa perkembangan kognisi anak terjadi pada dua bidang, yakni bidang sosial dan bidang psikologis. Bidang sosial tejadi di antara orang-orang dalam interaksi sosial, sedangkan bidang psikologis terjadi di dalam diri individu itu sendiri. Proses perkembangan kognisi anak menuju fungsi yang lebih tinggi terjadi saat anak melakukan proses internalisasi, yakni saat aktivitas sosial yang terjadi di antara orang-orang diproduksi ke dalam diri individu. Misalnya, saat seorang anak laki-laki usia 5 tahun kesusahan menemukan bola mainannya karena lupa di mana ia menaruh bola tersebut, ayahnya membantu mengingatnya dengan menanyakan, “Di mana kamu terakhir kali bermain-main dengan bola tersebut?” Hasil interaksi anak dengan ayahnya tersebut diinternalisasi sehingga meningkatkan kemampuannya dalam mengingat.

Untuk memahami peran orang lain yang lebih dewasa dalam membantu perkembangan kognisi anak, Vygotsky mengenalkan istilah Zone of Proximal Develompent (ZPD). Istilah ini dimaknai sebagai perbedaan kemampuan ketika seorang anak menyelesaikan masalahnya sendiri dengan ketika ada orang lain yang lebih dewasa memberikan bantuan. Adanya perbedaan kemampuan ini memungkinkan orang yang lebih dewasa (misalnya orangtua atau guru) mengidentifikasi kemampuan apa yang sudah dikuasai anak dan kemampuan apa yang harus dikuasai di kemudian hari. Di sinilah pentingnya peran orang yang lebih dewasa dalam membantu anak meningkatkan kemampuannya menuju taraf perkembangan kognisi yang lebih tinggi. Misalnya, anak usia 4 tahun yang hendak belajar mewarnai di buku mewarnai dapat dibimbing oleh orangtuanya tahap demi tahap: memilih warna yang sesuai, cara memegang pensil warna yang tepat, dan sebagainya.

Seorang ilmuwan psikologi bernama Jerome S. Bruner (lahir 1915) mengembangkan pemikiran Vygotsky. Ia juga menekankan hubungan antara bahasa dengan pikiran. Ia berpandangan bahwa anak merupakan sosok yang aktif dalam memaknai dunianya. Sama seperti Vygotsky, ia memandang perkembangan kognisi anak sebagai suatu proses sosial. Lingkungan sosial memfasilitasi belajar anak sehingga anak dapat menemukan sendiri selama proses belajar (discovery learning), bukan semata-mata diajarkan. Ia mengenalkan istilah scaffolding, yakni peran yang dilakukan orang lain (orangtua atau guru) dalam membimbing anak untuk menguasai kemampuan tertentu.

Menurut Bruner, ada tiga proses saat seorang anak belajar sesuatu, yakni, secara berturut turut, akuisisi, transformasi, dan evaluasi. Akuisisi berarti memperoleh informasi baru, baik yang bertentangan atau yang sesuai dengan apa yang sudah diketahui, maupun perbaikan dari apa yang sudah diketahui. Transformasi berarti proses mengolah informasi dan mengubahnya menjadi bentuk lain yang lebih luas dan lebih bermakna. Evaluasi berarti memeriksa apakah informasi yang kita olah sudah tepat, apakah generalisasi yang dilakukan sudah sesuai. Pada proses ini, bantuan seorang pembimbing (orangtua atau guru) sangat diperlukan.

Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa peran lingkungan, termasuk di dalamnya orang lain yang lebih dewasa (orangtua atau guru) berperan penting bagi proses perkembangan kognisi anak. Anak memiliki kemampuan dalam mengembangkan kognisinya, namun untuk mencapai perkembangan kognisi yang optimal, bimbingan orang lain di sekitarnya sangat diperlukan.