Alangkah indah dan luar biasa ungkapan Allah Azza wa Jalla saat menyampaikan wahyu tentang larangan ghibah. Dia tidak langsung melarangnya sebagaimana saat melarang memakan babi.

Cara Mudah Mengetahui Hubungan Antara Prasangka, Tajassus dan Ghibah
Photo by Daniel Fazio on Unsplash

Tapi Dia memulai larangan ghibah dengan melarang prasangka-prasangka. Lalu melanjutkannya dengan melarang tajassus atau memata-matai dan mencari-cari aib dan kesalahan orang lain.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.”

Al Hujuraat: 12

Lalu tahukah kita apa hubungan antara prasangka, tajassus dan ghibah?

Bukan Al-Qur’an bila tidak mengandung kebenaran, dan bukan pula wahyu Ilahi bila tidak memiliki hikmah dan pelajaran.

Salah satu ciri tarbiyah Al-Qur’an dalam hal melarang perkara dosa adalah dengan melakukan tindakan pencegehan dini. Bila perbuatan dosa diibaratkan sebuah pohon, maka saat ia berupa tunas kecil sudah harus dipangkas agar tidak tumbuh membesar, apalagi bila ia dibiarkan hidup hingga menghasilkan buahnya.

Maka sebelum ghibah atau mengumbar aib orang lain itu dilarang, larangan pertama adalah tidak boleh melakukan banyak prasangka. Sebab bila kita sudah banyak berprasangka, maka kita akan terjebak pada larangan kedua yaitu tajassus. Ya, saat kita memiliki prasangka-prasangka terhadap seseorang, maka akan diikuti dengan keinginan membuktikan kebenaran prasangka-prasangka tersebut, selanjutnya kita mencari informasi, membaca, mengorek keterangan, bahkan kita mencuri-curi dengar dengan memasang telinga yang dalam bahasa hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam disebut dengan tahassus. Bila tajassus adalah mencari-cari kebenaran aib orang lain dengan bertanya secara langsung, atau melihat dan membaca, maka tahassus adalah memasang telinga untuk mencuri dengar.

Baca juga:  Fungsi Bermain Dalam Fase Tumbuh Kembang Anak

Akhirnya, bila proses tajassus sudah selesai dan ternyata kita menemukan kebenaran tentang prasangka-prasangka kita, mulailah kita mengobral dan mengumbar hasil temuan kita. Bila kita mendapati ada orang lain yang masih dalam proses prasangka dan tajassus, maka kitalah yang akan memberinya segala informasi dengan cara ghibah kepada orang tersebut sehingga naiklah posisinya menjadi satu level dengan kita.

Bila prasangka adalah tunas sebuah pohon, maka tajassus adalah batangnya, dan ghibah adalah buahnya. Buah itu akan menggoda siapa saja yang berteduh di bawah pohon tajassus. Bila ia tidak mendapatkan runtuhan buahnya, maka ia akan melemparnya agar buah itu jatuh dan bisa dimakan bersama, lalu bijinya bisa ia tanam di pekarangan rumahnya, maka lengkap sudah episode dosa-dosanya. Semoga Allah melindungi kita dari dosa banyak berprasangka, tajassus, dan ghibah.