Perkembangan motorik anak tidak hanya bersifat genetis, yakni seperti apa kedua orang tuanya dalam perkembangan motoriknya, tapi juga bersifat budaya, yakni sejauh mana lingkungan mendukung perkembangan motorik anak.

Empat Tahap Perkembangan Motorik Anak
Foto oleh Gabe Pierce di Unsplash

Perkembangan motorik adalah salah satu aspek penting yang menyertai proses perkembangan anak. Perkembangan motorik diartikan sebagai proses belajar yang dialami seorang anak dalam menggunakan otot-otot tubuhnya untuk bergerak. Proses penguasaan kemampuan motorik seorang anak berlangsung dari gerakan yang sederhana menuju gerakan yang lebih kompleks. Adanya perkembangan motorik ini membuat bayi berkembang kemampuannya dalam menggerakkan tubuhnya, mulai dari mengangkat kepala, membalikkan badan, duduk, merangkak, berdiri, dan berjalan.

karakteristik perkembangan motorik ada pada prosesnya yang bersifat interaktif. Dalam hal ini, perkembangan motorik merupakan hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya. Perkembangan motorik anak tidak hanya bersifat genetis, yakni seperti apa kedua orang tuanya dalam perkembangan motoriknya, tapi juga bersifat budaya, yakni sejauh mana lingkungan mendukung perkembangan motorik anak. Adanya dua pengaruh yang saling berinteraksi inilah yang membuat perkembangan motorik tiap-tiap anak berbeda. Misalnya, tiap anak berbeda-beda mengenai pada usia berapa mulai bisa merangkak, berdiri, atau berjalan.

Ada empat tahap perkembangan motorik anak. Tahap pertama, perkembangan motorik bayi dari gerakan refleks sampai gerakan mendasar seperti duduk, merangkak, berdiri, dan berjalan. Tahap kedua, gerakan-gerakan dasar seperti lari, melompat, menangkap. Tahap ketiga, pada usia anak-anak akhir, mulai mampu melakukan gerakan-gerakan yang spesifik dan gerakan-gerakan dasar menjadi lebih halus dan otomatis. Keempat, pada usia remaja, gerakan-gerakan yang spesifik menjadi lebih matang bergantung pada bakat, motivasi dan kemampuan motorik yang diasah.

Baca juga:  Tahun Baru, Harapan, dan Kematian

Selama melewati keempat tahap tadi, perkembangan motorik dapat dibedakan ke dalam dua kelompok, yakni motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar meliputi gerakan yang membutuhkan koordinasi bagian tubuh seperti tangan, kaki, dan badan. Contoh motorik kasar di antaranya duduk, berdiri, berjalan, berputar, melompat, melempar, dan sebagainya. Motorik halus meliputi gerakan yang menekankan koordinasi mata dan tangan. Gerakan tersebut misalnya menggunakan pensil untuk menulis, mengancingkan baju, dan membuka halaman buku.

Motorik kasar pada anak usia dini (3-6 tahun) misalnya tampak pada kemampuannya dalam mengendarai sepeda roda tiga, berdiri seimbang hanya dengan satu kaki, dan menaiki tangga dengan langkah kaki yang bergonta-ganti (usia 3 tahun); melompat hanya dengan satu kaki dan melempar sesuatu di atas tinggi badannya (usia empat tahun); lari dengan ujung-ujung jari atau berjingkat (usia 5 tahun); menangkap bola dengan akurat, memukul bola/kock dengan raket, melompat dengan tali yang diayun sendiri maupun oleh orang lain, berjalan dengan langkah yang seimbang (usia 6 tahun). Sementara motorik halus ditandai dengan kemampuannya dalam menyalin gambar lingkaran, membalik-balik potongan permainan puzzle, menggunting kertas, menaruh benda di tempat yang kecil, dan menumpuk benda sebanyak enam tingkat (usia 3 tahun); memotong gambar dengan gunting, menyalin lingkaran dan tanda silang (usia 4 tahun); membuat tulisan berupa huruf kapital dan mengikat sendiri tali sepatunya (usia 5 tahun); memotong gambar yang lebih kompleks tingkat kesulitannya dengan menggunakan gunting, menulis dengan lebih baik, mampu memakai pakaiannya sendiri (usia 6 tahun).

Baca juga:  Membangun Mutu Demokrasi Politik Berbasis Nilai Dan Kearifan Lokal

Perkembangan motorik berperan penting bagi perkembangan anak. Hal ini karena aktivitas motorik yang dilakukan anak berhubungan erat dengan perkembangan kognisi dan emosionalnya. Aktivitas motorik merupakan cara anak dalam melakukan eksplorasi diri dan lingkungan di sekitarnya. Pada anak usia dini, aktivitas motorik dilakukan dengan cara bermain. Aktivitas motorik ini menjadi sarana anak dalam melakukan interaksi dengan orang lain sehingga mempengaruhi perkembangan sosial dan emosionalnya. Saat seorang anak bermain kelereng bersama teman-temannya, ia melakukan aktivitas motoriknya sekaligus mengembangkan kualitas emosi dan sosialnya.