Banyak orang tua yang masih salah mengerti fungsi bermain bagi tumbuh kembang anak. Bahkan ada beberapa orang tua yang terlalu protektif, sehingga kerap melarang atau memarahi anaknya yang sedang bermain.

Fungsi Bermain Dalam Fase Tumbuh Kembang Anak
Foto oleh Paige Cody di Unsplash

Dunia anak tidak lepas dari dunia bermain. Bermain berperan penting bagi perkembangan anak. Bermain menjadi lensa bagi anak dalam melihat, mengalami, dan menemukan dunianya dan dunia orang-orang di sekitarnya. Bermain bermanfaat bagi anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik dalam aspek kognisi, fisik/motorik, emosi, sosial, dan moral.

Ada berbagai macam jenis kegiatan bermain bagi anak. Variasi permainan berkaitan dengan definisi tentang bermain yang longgar. Ada yang mendefinisikan bermain sebagai suatu aktivitas spontan yang dilakukan demi mendapat kesenangan. Ada yang secara lebih spesifik mengartikan bermain sebagai akivitas yang secara sukarela dipilih dan dilakukan oleh anak sebagai hasil dari dorongan dalam dirinya. Namun, secara umum aktivitas disebut bermain jika memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:

  • Bersifat menyenangkan
  • Merupakan hasil dari dorongan dari dalam dirinya
  • Berorientasi proses, cara lebih penting dari tujuan
  • Melibatkan anak secara aktif
  • Bukan sesuatu yang harfiah, bukan yang sebenarnya.

Bermain biasanya mengandung minimal dua kriteria dari kriteria-kriteria di atas. Semakin banyak kriteria yang ada pada permainan, semakin menyenangkan permainan itu.

Saat anak bermain, berbagai aspek perkembangan anak saling berkait-kaitan. Bermain melibatkan perkembangan kognisi, fisik/motorik, emosi, sosial, dan moral. Lewat bermain, perkembangan kognisi, fisik/motorik, emosi, sosial, dan moral semakin terasah. Dengan bermain, anak mengembangkan kemampuan kognitif misalnya bahasa, penyelesaian masalah, kreativitas, dan pengaturan-diri. Dengan bermain, perkembangan sosial dan emosional anak juga tumbuh, misalnya saat berinteraksi dengan teman sepermainan, saat melakukan negosiasi, saat berkompromi dalam permainan. Perkembangan morotik anak juga terasah dengan bermain, misalnya dengan berlari, melompat, menggambar, dan membuat bangunan atau rumah-rumahan. Bermain juga meningkatkan perkembangan moral anak karena dalam bermain anak harus mengikuti aturan yang disepakati dan memperlakukan teman permainan dengan rasa hormat dan adil. Perkembangan kecerdasan anak juga terasah sesuai dengan jenis permainannya, misalnya permainan berkebun dapat mengasah kecerdasan natural, bermain membuat patung-patungan mengasah kecerdasan spasial. Anak yang banyak terlibat dalam aktivitas bermain cenderung lebih bahagia, lebih bisa menyesuaikan diri, lebih bisa bekerja sama, lebih berkembang kemampuan komunikasinya, dan lebih populer dibandingkan dengan anak yang tidak banyak bermain. Pada akhirnya, bermain menjadi pondasi mendasar bagi anak dalam berkembang dan belajar selama hidupnya kelak.

Proses Yang Terjadi Dalam Bermain.

Berikut ini beberapa proses yang setidaknya berlangsung saat anak bermain.

Baca juga:  PAIKEM Dipakai Dalam Pembelajaran Online Untuk Mengatasi Kejenuhan Siswa?

a. Proses Kognisi, antara lain meliputi:

  • Kemampuan dalam mengorganisasi permainan
  • Berpikir divergen: menjelaskan suatu objek dalam makna dan fungsi yang berbeda-beda
  • Kemampuan simbolik: mengubah suatu objek menjadi objek yang lain (misalnya lego dibentuk menjadi seperti gagang telepon)
  • Imajinasi atau Khayalan: mampu melakukan permainan seolah-olah, misalnya bermain dokter-dokteran, ada anak yang berperan seolah-olah menjadi dokter, ada yang berperan sebagai pasien

b. Proses Afektif, dalam proses ini setidaknya ada tiga yang dilakukan atau dialami oleh anak:

  • Ekspresi emosi
  • Nyaman dan senang
  • Mampu mengatur emosinya

c. Proses Interpersonal

  • Empati
  • Komunikasi
  • Interaksi interpersonal yang menuntut saling kenal dan saling percaya

d. Proses Penyelesaian masalah

  • Menganalisa masalah atau konflik yang ada selama bermain
  • Berkompromi
  • Menyelesaikan masalah atau konflik yang terjadi

Manfaat Bermain.

Berikut ini manfaat yang bisa diperoleh saat anak melakukan aktivitas bermain.

  1. Mendapatkan gairah dan rasa senang. Anak suka mencari tantangan baru. Bermain membuat anak bergairah dan bersemangat secara fisik dan psikis.
  2. Bebas untuk melakukan tindakan secara mandiri. Bermain memungkinkan anak mengeksplorasi dan melakukan percobaan dalam kerangka bermain yang aman.
  3. Fleksibilitas. Bermain mendorong anak mencoba melakukan kombinasi perilaku yang baru. Melalui bermain anak memperoleh pendekatan yang fleksibel terhadap dunia.
  4. Interaksi sosial dan sosialisasi. Bermain memungkinkan anak mengembangkan kecakapan sosial. melalui bermain anak mendapatkan pemahaman tentang kebiasaan-kebiasaan, aturan-aturan, dan makna suatu hubungan atau relasi
  5. Aktivitas fisik. Bermain membantu mengembangkan kemampuan morotik anak dan koordinasi bagian tubuh dalam dalam berinteraksi dengan lingkungan fisik.
  6. Kreativitas dan penyelesaian masalah. Anak bermain dengan alat-alat permainan yang mendorong tumbuhnya kreativitas dan penyelesaian masalah
  7. Keseimbangan emosi. Bermain mendorong pertumbuhan emosi anak karena saat bermain emosi anak terlibat.
  8. Penemuan diri (self discovery). Bermain mendorong tumbuhnya identitas diri.

Jenis-jenis Bermain.

Berikut ini jenis-jenis bermain dan rentang usia anak bisa bermain permainan tersebut.

  1. Bermain objek. Dalam kategori ini, Anak kecil mengeksplorasi objek dan lingkungan sekitar dengan cara menyentuh, memasukkan ke mulut, melempar, memukul, memencet. Saat anak tumbuh lebih besar, mereka mulai tertarik bermain adonan, tanah liat, dan melukis. Rentang usia dalam Bermain Objek adalah 0 – 2,5 tahun
  2. Bermain dramatik. Anak menghabiskan banyak waktu bermain permainan imajinatif yang dilakukan sendiri. Mereka membangun naskah dan memainkan peran secara terus menerus. Alat-alat permainan (misalnya boneka, mobil-mobilan, dan tokoh superhero) biasanya menjadi sarana bermain mereka. Rentang usia anak mulai melakukan permainan ini adalah 3 – 8 tahun
  3. Bermain konstruksi. Anak mulai membangun dan mengkonstruksi dengan mainan yang komersil (misalnya lego), dengan mainan hasil daur ulang (kertas koran, kardus, botol plastik), dan mainan yang bisa dibentuk (tanah liat, adonan). Anak-anak melakukan permainan ini sendiri atau bersama teman sepermainan. Rentang usia 3 – 8 tahun
  4. Bermain Fisik. Anak pada usia dini sering melakukan permainan yang bersifat fisik. Mereka menguji kemampuan fisik mereka dengan aktivitas yang lebih menguras tenaga seperti berlari, memanjat, meluncur, melompat, baik bermain sendiri maupun dalam kelompok. Usia 2 – 5 tahun
  5. Bermain sosio-dramatik. Bermain peran (di mana anak seolah-olah berperan seperti orang dewasa berdasarkan naskah cerita yang dibuat) dilakukan dalam kelompok kecil. Rentang usia 3 – 6 tahun
  6. Permainan dengan aturan. Anak mulai bermain permainan yang formal dalam kelompok pertemanan. Permainan memiliki aturan yang sudah ditetapkan, seperti bermain kartu, sepak bola. Usia 5 tahun ke atas
  7. Permainan dengan aturan yang ditemukan kemudian. Anak mulai menemukan permainannya sendiri dan atau memodifikasi aturan dari permainan tradisional yang disepakati oleh kelompok bermainnya, misalnya petak umpet. Usia 5 – 8 tahun
Baca juga:  Siapakah Sarah Al Amiri Ilmuwan 33 Tahun Yang Memimpin Misi Luar Angkasa Harapan UEA

Dengan demikian, melihat proses dan manfaat bermain, aktivitas bermain pada anak tidak sekedar menghabiskan waktu luang. Juga bukan sekedar menjadi aktivitas untuk mengisi masa usia dini. Bermain itu belajar. Bermain juga berpengaruh pada bagaimana anak belajar pada saat dewasa, bahkan sepanjang usianya. Berikut ini beberapa hal yang pelu diperhatikan terkait aktivitas bermain yang dilakukan anak.

  • Pilihlah permainan yang sesuai dengan usia anak
  • Pilihlah aktivitas bermain yang aman dan tidak membahayakan anak secara fisik maupun psikologis
  • Karena bermain pada hakikatnya adalah bersenang-senang, jangan bermain yang membuat anak merasa tertekan
  • Pendampingan, pengawasan, dan pengarahan dari orangtua atau guru saat anak bermain disesuaikan dengan tingkat usia dan kemandirian anak
  • Pada saat-saat tertentu saat atau usai anak bermain, berikan umpan balik pada anak untuk mengasah perkembangan dalam berbagai domain
  • Lakukan permainan yang bervariasi untuk mengetahui bidang-bidang yang diminati anak untuk mengetagui kecenderungan kecerdasannya.