Orang boleh saja terbelah dalam berbagai keyakinan agama dan ideologi, sekat nasionalisme dan geografi, warna kulit dan ras. Namun faktanya, dalam semua perbedaan itu, manusia adalah makhluk penghuni planet yang sama, yakni planet bumi.

Krisis Lingkungan Hidup Serta Peran Dakwah Islam
Foto Ilustrasi

Konflik panjang atas nama ideologi, keyakinan, kejayaan ras dan kompetisi keunggulan ekonomi dengan eksploitasi alam, telah melahirkan perang dan perusakan lingkungan secara masif. Situasi ini menjadikan bumi sebagai perahu yang kita tumpangi bersama mengalami berbagai kerusakan yang serius. Beberapa pihak mulai terkejut dan sadar, bahwa kesejahteraan dan kejayaan hanya akan bermakna jika bumi tempat kita berpijak dapat lestari (sustainable).

Bukankah kemenangan kita atas ideologi lain, bangsa lain dan ras lain akan menjadi percuma jika ladang (baca: bumi) yang kita perebutkan menjadi hancur dan tidak layak huni lagi? Kemenagan dan supremasi politik dan ekonomi atas kelompok lain hanya akan mengantarkan kita sebagai saksi atas rusaknya lingkungan dan kepunahan ras manusia. Apakah supremasi dan kemenangan dalam situasi itu masih ada maknanya?

Bukankah lebih baik kita duduk bersama, berbagi dan menjaga kelestarian lingkungan hidup agar kehidupan kita pun terselamatkan? Meski berbagai ketamakan sosial-ekonomi manusia masih dominan, namun pertanyaan sederhana tersebut hari ini kian mendapatkan tempat. Lingkungan adalah isu strategis yang akan memosisikan manusia sebagai umat yang satu, yakni komunitas hidup yang terancam kepunahan spesiesnya karena kerusakan alam.

Gerakan pro-lingkungan hidup pun menjadi gelombang dan paradigma baru dalam pembangunan di segala sektor kehidupan. Ambisi dan ketamakan manusia atas nama modernisme harus dikontrol sedemikian rupa, agar wajah peradaban kita lebih humanis dan peka lingkungan namun tetap modern.

Diantara berbagai masalah serius yang hadapi oleh umat manusia terkait dengan memburuknya mutu lingkungan hidup adalah masalah pemanasan global (global warming). Pemanasan Global ditengarai oleh meningkatnya suhu permukaan bumi akibat emisi gas rumah kaca. Emisi ini terjadi karena efek dari penggunaan bahan bakar fosil (minyak tanah dan batu bara).

Akibat pemanasan global ini, temperatur bumi mengalami kenaikan hingga 0,72 derajat selsius dan permukaan air laut mengalami kenaikan hingga 0,175 cm/tahun dan telah mulai terjadi semenjak tahun 1960-an. Apa efeknya bagi kehidupan?, para ahli memprediksi jika kenaikan suhu mencapai 1,5 derajat selsius, maka akan terjadi kepunahan atas 20-30 persen tumbuhan dan hewan dimuka bumi. Jika kenaikan mencapai 3 derajat selsius, maka 40-70 persen kehidupan akan punah dari muka bumi.

Baca juga:  Memahami Kecerdasan Majemuk - Bagian Dua

Mengingat seriusnya persoalan ini, maka para pemimpin dunia pun menggagas sebuah konsep bersama tentang bagaimana menyelamatkan lingkungan hidup. Pada tahun 1992 embrio tentang konsep penanganan masalah pemanasan global dan perubahan iklim pun di gagas di Rio de Janeiro, Brazilia. Pertemuan ini menghasilkan Framework Convention on Climate Change yang bertujuan agar negara-negara industri mengurangi emisi karbon dioksida-nya.

Lima tahun kemudian gagasan itu dipertajam lagi melalui forum internasional yang kemudian dikenal dengan sebutan Protokol Kyoto, di mana tingkat penurunan emisi dipatok secara lebih tegas pada angka 5,2 persen di bawah tingkat emisi pada tahun 1990.

United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) menindaklanjuti Protokol Kyoto, dan Indonesia menjadi tuan rumah bagai acara yang sangat strategis itu, tepatnya di pulau Bali pada tanggal 3-14 Desember 2007. Forum ini dipakai untuk melakukan evaluasi atas pelaksanaan protokol Kyoto dan tuntutan yang lebih serius atas komitmen negara-negara di dunia di dalam mengatasi masalah pemanasan global.

Lalu apa korelasi ini semua dengan dakwah Islam? Tentu saja banyak sekali hubungannya. Namun yang paling penting adalah; dakwah bertanggungjawab atas terbangunnya adab dan koridor moral masyarakat yang terkait langsung dengan cara berhubungan dengan alam. Di dalam masyarakat itu ada pemimpin dan calon pemimpin bangsa yang suatu hari nanti akan bertanggungjawab dalam pengambilan kebijakan pembangunan.

Lingkungan Hidup Belum Menjadi Fokus Dakwah.

Ajaran Islam sesungguhnya memiliki pesan kuat pada isu-isu lingkungan hidup. Beberapa ayat dalam Al-Quran menautkan secara langsung antara perilaku buruk dan larangan untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi. Bahkan dalam Al Qur’an Surat Ar-Ruum ayat 41, Allah bahkan dengan tegas menyebut bahwa kerusakan alam adalah akibat ulah manusia: “Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

QS. Al A’raf: 56

Dalam surat yang lain Allah menyebutkan bahwa Allah tida ridha pada perbuatan manusia yang mendatangkan kerusakan.

“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.”

QS. Al Baqarah: 205

Masih banyak ayat lain yang menyampaikan larangan dan seruan yang serupa. Artinya, isu lingkungan sesungguhnya menjadi tema yang penting dalam doktrin ajaran Islam. Lucunya, para dai dan khotib justru tidak banyak yang membawakan isu lingkungan sebagai tema kajian dan khotbah.

Baca juga:  Empat Tahap Perkembangan Motorik Anak

Untuk membangun kesadaran umat agar memiliki perhatian yang serius terkait krisis lingkungan hidup ini selayaknya pada dai, khotib, dan para ustadz secara umum agar mulai mengarus-utamakan isu lingkungan sebagai bagain dari masalah keimanan dan keislaman.

Seruan para dai ini mungkin akan lebih efektif daripada kampanye kelestarian lingkungan yang saat ini banyak kita dengar. Apa yang membuat seruan para dai terkait isu lingkungan ini akan berpeluang lebih efektif?

Pertama, melalui para dai atau khotib, masalah lingkungan hidup akan berdimensi lebih luas. Tidak sekedar sebagai masalah duniawi, tapi juga berimplikasi dalam dimensi ukhrowi.

Kedua, tidak sekedar diyakinkan dengan pertimbangan rasional-logis semata, pendekatan para dai dan khotib akan membawa persoalan lingkungan ini sebagai masalah dengan argumen theologis dan masalah kemanusiaan. Sehingga dapat menjadi kesadaran spiritual.

Terakhir, di tangan para dai dan khotib, masalah lingkungan akan berkembang menjadi bagian dari sikap dan tanggung jawab keberagamaan. Orang tergerak untuk menjaga kelestarian alam karena kesadaran spiritual dan tanggung jawab sebagai orang yang beriman. Mungkin aspek ini akan makin membuat aksi pro-lingkungan hidup menjadi lebih militan dan kuat, karena masuknya argumen-argumen teologis.