Terkait perkembangan emosi, adalah kemampuan anak dalam mengelola emosi yang disebut dengan kecerdasan emosi (emotional intelligence). Kecerdasan emosi didefinisikan sebagai kemampuan mempersepsi secara akurat; mengekspresikan emosi; menampilkan perasaan tertentu terkait apa yang dipikirkan; mengetahui dan memahami emosi; dan mengelola emosi.

Memahami Aspek Dasar Perkembangan Kecerdasan Emosi Anak
Foto oleh Will Francis di Unsplash

Salah satu unsur penting dalam kecerdasan emosi adalah kemampuan anak dalam mengendalikan diri. Psikolog bernama Walter Mischel melakukan penelitian terhadap anak-anak berusia 4 tahun. Kepada mereka diberikan sebuah marshmallow, makanan ringan yang biasanya disukai anak-anak. Instruksinya, anak duduk sendirian menghadap sebuah marshmallow.

Jika anak tersebut bisa menunggu selama 15 menit tanpa memakannya sampai peneliti datang lagi, ia akan diberi satu buah marshmallow lagi. Namun jika anak tersebut tidak mau menunggu, ia hanya mendapat satu marshmallow dan bisa langsung memakannya. Pada usia seperti mereka, keinginan yang muncul biasanya ingin segera dipenuhi. Dalam hal ini, tentu menahan diri dari pemenuhan keinginan merupakan suatu perjuangan besar.

Sekitar 14 tahun kemudian, saat anak yang berusia 4 tahun tersebut menjadi dewasa, peneliti mendapati keadaan yang berbeda. Anak usia 4 tahun yang bisa menahan godaan dengan tidak memakan marshmallow, pada saat remaja dinilai oleh orangtuanya sebagai pribadi yang lebih kompeten, efektif, lebih tegas, dan mampu mengatasi permasalahan yang dialami dalam hidupnya.

Mereka menjadi pribadi yang percaya diri, dapat dipercaya, dan dapat diandalkan. Mereka menjadi pribadi yang mampu mengambil inisiatif dan mengembangkan suatu proyek kegiatan. Mereka juga makin lebih baik dalam menunda kepuasan demi mencapai suatu tujuan.

Sementara, dibandingkan dengan anak yang langsung menyambar marshmallow, anak yang mampu menahan godaan pada saat remaja memiliki nilai akademik yang lebih baik. Pengendalian diri merupakan aspek penting kecerdasan emosi. Anak yang punya kemampuan dalam pengendalian diri lebih bisa meraih kesuksesan baik di sekolah, lingkungan kerja, maupun di masyarakat.

Daniel Goleman, tokoh yang mempopulerkan istilah kecerdasan emosi mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai kemampuan seseorang dalam mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan dalam mengelola emosi pada dirinya maupun saat berinteraksi dengan orang lain. Golemen memandang kecerdasan emosi sebagai kecerdasan tersendiri yang berbeda dengan kecerdasan kognitif yang biasa disebut intelligence quotient (IQ).

Dalam menelaah kecerdasan emosi ini, Goleman menggunakan teori kecerdasan majemuk (multiple intelligence) yang dikemukakan oleh Howard Gardner. Dua kecerdasan majemuk terkait dengan personal, yakni kecerdasan intrapersonal (pengetahuan tentang diri) dan kecerdasan interpersonal (kecakapan sosial).

Baca juga:  Meneguhkan Kembali Peran Kepemimpinan Ayah Dalam Rumah Tangga

Menurut Goleman, ada lima kecakapan yang menunjukkan kecerdasan emosi seseorang. Tiga kecakapan terkait kecerdasan intrapersonal, yakni kesadaran diri, pengaturan diri, dan motivasi. Ini disebut kecapakan pribadi. Sedangkan dua yang lain terkait kecerdasan interpersonal, yakni empati dan kecakapan sosial (social skill). Ini disebut kecakapan sosial.

Kecakapan Emosi Menurut Daniel Goleman.

Dalam hal ini Daniel Goleman membaginya dalam dua kecakapan utama yakni kecakapan pribadi dan kecakapan sosial.

Pertama, kecakapan pribadi. Dimaknai sebagai kecakapan yang menentukan bagaimana kita mengelola diri sendiri. Kecakapan ini terdiri atas:

  1. Kesadaran Diri, Mengetahui kondisi diri sendiri, kesukaan, sumber daya, dan intuisi. Yang meliputi:

• Kesadaran Emosi, mengenali emosi diri sendiri dan efeknya
• Penilaian diri secara teliti, mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri
• Percaya diri, keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri

Pengaturan Diri, mengelola kondisi, impuls, dan sumber daya diri sendiri. Meliputi:

• Kendali diri, mengelola emosi-emosi dan desakan-desakan hati yang merusak
• Sifat dapat dipercaya, memelihara norma kejujuran dan integritas
• Kewaspadaan, bertanggung jawab atas kinerja pribadi
• Adaptabilitas, keluwesan dalam menghadapi perubahan
• Inovasi, mudah menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan, dan informasi-informasi baru

  1. Motivasi, kecenderungan emosi yang mengantar atau memudahkan orang meraih sasaran

• Dorongan prestasi, dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan
• Komitmen, menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau perusahaan
• Inisiatif, kemempuan untuk memanfaatkan kesempatan
• Optimisme, kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan

Baca juga:  Apa Manfaat Yang Terkandung Dalam Qusthul Hindi? Obat Herbal Pencegahan Dan Penyembuhan Covid-19

Kedua, Kecakapan sosial. Sebuah kecakapan menentukan bagaimana kita menangani suatu hubungan. Meliputi 2 aspek penting:

  1. Empati. Kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain.

• Memahami orang lain. Mengindra perasaan dan perspektif orang lain dan menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan mereka
• Orientasi pelayanan. Mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain
• Mengembangkan orang lain. Merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan mereka
• Mengatasi keragaman. Menumbuhkan peluang melalui pergaulan dengan bermacam-macam orang
• Kesadaran politis. Mampu membaca arus-arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan

  1. Kecakapan sosial. Kepintaran dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki orang lain

• Pengaruh. Memiliki taktik-taktik untuk melakukan persuasi
• Komunikasi. Mengirimkan pesan yang jelas dan meyakinkan
• Kepemimpinan. Membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok atau orang lain
• Katalisator perubahan. Memulai dan mengelola perubahan
• Managemen konflik. Negosiasi dan pemecahan silang pendapat
• Pengikat jaringan. Menumbuhkan hubungan sebagai alat
• Kolaborasi dan kooperasi. Kerja sama dengan orang lain demi tujuan bersama
• Kemampuan tim. Menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama