Teori kecerdasan majemuk (multiple intelligence) dikemukakan oleh profesor pendidikan dari Universitas Harvard bernama Howard Gardner sejak awal tahun 1980an. Pandangannya ini berbeda dengan pandangan umum dan konvensional tentang kecerdasan.

Memahami Kecerdasan Majemuk Bagian Satu
Foto oleh Brenna Huff di Unsplash

Kecerdasan (intelegensi) menurut Gardner adalah suatu potensi bio-psikologis untuk memproses informasi yang dapat diaktifkan dalam sebuah latar budaya untuk menyelesaikan masalah atau menciptakan produk yang bernilai. Kecerdasan majemuk menjelaskan bahwa setidaknya ada delapan kecerdasan yang bisa dimiliki seseorang dan dapat digunakan sepanjang hidupnya.

Akan tetapi, meskipun semua orang bisa mengakses semua kecerdasan tersebut, sebagian besar orang hanya menonjol pada satu atau dua kecerdasan saja. Kedelapan kecerdasan itu adalah sebagai berikut:

  1. Kecerdasan linguistik
  2. Kecerdasan matematis/logis
  3. Kecerdasan kinestetik
  4. Kecerdasan interpersonal
  5. Kecerdasan intrapersonal
  6. Kecerdasan natural
  7. Kecerdasan musik
  8. Kecerdasan spasial

Kecerdasan linguistik dan kecerdasan matematika adalah dua kecerdasan yang biasanya menjadi aspek yang diukur dalam kecerdasan konvensional yang dikenal dengan Intelligence Quotient (IQ). Gardner berpandangan bahwa penilaian kecerdasan yang hanya meenekankan pada kemampuan linguistik dan matematika merupakan suatu bias dalam mengukur kecerdasan.

Berbeda dengan pandangan tentang kecerdasan konvensional, teori kecerdasan majemuk berpandangan bahwa beberapa kecerdasan, seperti kecerdasan interpersonal dan kecerdasan natural, meskipun tidak bisa diukur secara pasti, tetapi merupakan kemampuan penting yang seharusnya diakui dan ditumbuhkan dalam diri manusia.

  • Kecerdasan linguistik

Kecerdasan linguistik dicirikan dengan seberapa sensitif seseorang pada bahasa, termasuk kemampuan untuk mempelajari bahasa, dan menggunakan bahasa untuk mencapai suatu tujuan. Gardner mengungkapkan bahwa lingusitik atau bahasa merupakan kecerdasan manusia yang utama yang sangat diperlukan oleh masyarakat. Di awal sejarah manusia, bahasa mampu mengubah fungsi otak manusia dengan cara menggali dan mengembangkan kecerdasannya.

Bahasa memungkinkan nenek moyang kita mengubah cara berpikir manusia dari pemikiran konkret ke pemikiran abstrak. Dengan bahasa manusia bisa mengkomunikasikan dan menamai suatu objek, baik konkret maupun abstrak. Kecerdasan linguistik merupakan kecerdasan yang berkembang kemudian, karena untuk mahir dalam berbahasa seseorang butuh pengalaman dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Ada empat unsur dalam kecerdasan linguistik: fonologi, sintaks, semantik, dan pragmatik. Orang yang cerdas dalam linguistik memperhatikan fonetik atau bunyi dari bahasa. Sehingga ia biasanya memiliki kemampuan dalam humor yang bersifat verbal, seperti permainan kata-kata, analogi, dan lelucon. Mereka juga mampu memanipulasi sintaks atau struktur bahasa. Mereka bisa membuat struktur paragraf yang baik dan punya kepekaan terhadap komposisi dan grammar dalam tulisan atau ucapannya maupun tulisan atau ucapan orang lain.

Bahasa asing mudah baginya, juga dalam hal membaca dan mengingat. Orang yang cerdas secara linguistik juga peka terhadap semantik, yakni arti dan makna suatu kata. Mereka juga pragmatis dalam penggunaan bahasa, dalam pengertian memiliki kemampuan memanfaatkan bahasa untuk kepentingna praktis, misalnya dengan menghibur, membujuk, mengajar, dan memimpin melalui penggunaan kata-kata baik lisan maupun tertulis.

Beberapa karakteristik orang yang memiliki kecerdasan linguistik yang tinggi adalah sebagai berikut:

a. Sensitif terhadap setiap bunyi, ritme, dan berbagai ungkapan kata;
b. Menirukan suara, bahasa, bacaan, dan tulisan orang lain;
c. Belajar melalui menyimak, membaca, menulis, dan diskusi;
d. Menyimak secara efektif dengan memahami, menguraikan, menafsirkan, dan mengingat apa yang diucapkan;
e. Membaca secara efektif dengan memahami, meringkas, menafsirkan, dan mengingat apa yang dibaca;
f. Berbicara secara efektif kepada berbagai pendengar, berbagai tujuan, dan mengetahui cara berbicara yang sederhana, fasih, persuasif, dan bersemangat pada waktu yang tepat;
g. Menulis secara efektif dengan memahami dan menerapkan aturan tata bahasa, ejaan, tanda baca, dan penggunaan kosa kata yang tepat;
h. Memperlihatkan kemampuan dalam mempelajari bahasa yang lain.

Baca juga:  Berbagai Aspek Perkembangan Kognisi Anak

Agar anak memiliki kecerdasan linguistik, orangtua atau guru perlu menciptakan lingkungan yang penuh dengan aktivitas berbahasa. Dalam hal ini, orangtua atau guru perlu melibatkan anak dalam aktivitas verbal, misalnya bermain dengan kata-kata, bercerita, bercanda, pengajukan pertanyaan, menjelaskan nama-nama benda atau suatu konsep, dan memberikan kesempatan anak mengungkapkan pendapatnya, anak dilibatkan dalam diskusi dan diberi kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri atas sesuatu. Untuk mengasah kecerdasan ini, baik di rumah maupun di sekolah anak diberi kesempatan untuk terpapar dengan aktivitas seperti mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Karier yang tepat bagi orang yang punya kecerdasan linguistik adalah dalam bidang penulisan kreatif maupun penulisan ilmiah, penampilan di media atau panggung, politik dan hukum, pengajaran di segala tingkat pendidikan, dan penerjemahan. Penulis, pengarang, editor, penerjemah, penyair, jurnalis, penyiar, pembicara, guru, dosen, hakim, pengacara, dan politisi adalah profesi yang didukung oleh kecerdasan lingustik yang tinggi.

  • Kecerdasan matematis/logis

Kecerdasan matematis/logis ditunjukkan dengan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah secara logis, menyelesaikan masalah matematika dengan cepat, dan melakukan pencarian ilmiah. Jadi ada tiga bidang yang tercakup dalam kecerdasan ini, yakni logika, matematika, dan ilmu pengetahuan (sains). Gardner menjelaskan bahwa model perkembangan kognitif yang dikemukakan Piaget mulai dari sensorimotor sampai operasional formal merupakan deskripsi perkembangan kecerdasan matematis/logis.

Karakteristik orang yang memiliki kecerdasan matematis/logis adalah sebagi berikut:

a. Memahami tujuan dan fungsi mereka di tengah-tengah lingkungannya;
b. Mengenal konsep yang bersifat kuantitas dan konsep yang bersifat hubungan sebab-akibat;
c. Mampu menggunakan simbol-simbol abstrak;
d. Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah secara logis;
e. Memahami pola-pola dan hubugan-hubungan;
f. Cakap dalam mengajukan hipotesis dan mengujinya secara ilmiah;
g. Menggunakan berbagai macam keterampilan statistik seperti memperkirakan, menghitung algaritma, menguraikan data stratistik, dan menyajikan grafik.
h. Menyukai operasi yang kompleks seperti kalkulus, fisika, pemrograman komputer, dan metode penelitian;

Agar anak memiliki kecerdasan matematis/logis, orangtua atau guru perlu menciptakan lingkungan yang mendukung. Orangtua atau guru perlu memancing anak untuk berpikir logis dengan cara mengajukan pertanyaan kepada anak. Pertanyaan sebab akibat (mengapa?) dan pola hubungan (bagaimana?) bisa dikemukakan kepada anak untuk membiasakan anak berpikir logis. Orangtua atau guru memberi kesempatan anak mengungkapkan alasan atas pilihan yang diambil. Orangtua atau guru bisa menumbuhkan cara berpikir ilmiah dengan mengajak anak melakukan pengamatan dan penyelidikan atas suatu objek konkret yang biasa ditemui sehari-hari.

Bidang karier bagi orang yang menonjol dalam kecerdasan matematis/logis adalah matematika, statistika, filsafat, fisika, kimia, dan pemrograman komputer. Para ilmuwan, insinyur, akuntan, dan pemrogram komputer adalah orang yang menonjol dalam kecerdasan ini.

  • Kecerdasan kinestetik

Kecerdasan kinestetik merupakan kemampuan seseorang dalam mengendalikan gerakan tubuhnya dan keahlian dalam menangani suatu objek. Orang yang punya kecerdasan kinestetik mampu menggunakan tangan dan tubuhnya untuk menciptakan sesuatu atau untuk menyelesaikan suatu masalah. Piaget menyebut kemampuan ini diasosiasikan dengan tahap sensorimotor dalam perkembangan kognitif anak. Namun pada kenyataannya, kemampuan gerakan tubuh anak seperti keseimbangan, koordinasi, fleksibilitas, refleks, dan ekspresi terus tumbuh.

Karakteristik orang yang memiliki kecerdasan kinestetik adalah sebagai berikut:

a. Dapat belajar lebih baik jika dilakukan dengan berpartisipasi atau langsung terlibat;
b. Sensitif terhadap lingkungan dan dan sistem secara fisik;
c. Menikmati dalam mempelajari pengalaman-pengalaman konkret, seperti melakukan perjalanan ke alam bebas, terlibat dalam aktivitas bermain peran, dan permainan ketangkasan;
d. Punya kemampuan dalam memperbaiki suatu benda atau barang yang rusak;
e. Mampu menunjukkan kemampuan dalam aktivitas yang mengeksplorasi tubuh seperti menari, berakting, dan olahraga atletik.

Baca juga:  Allah Menciptakan Telinga Dengan Segala Keajaibannya

Agar anak tumbuh dengan kecerdasan ini orangtua atau guru bisa memfasilitasi dengan mengajak anak berolahraga, mengajak dan membimbing anak membuat berbagai kerajinan tangan, mengajak anak melakukan berbagai permainan fisik yang menyenangkan, mengajarkan anak berbagai tarian daerah, dan sebagainya. Karier yang cocok bagi orang yang punya kecerdasan kinestetik adalah aktor, komedian, penari, pelatih kuda, atlet, dokter bedah, dan seniman pahat/kayu.

  • Kecerdasan interpersonal

Kecerdasan ini ditandai dengan kemampuannya dalam menilai secara akurat baik mood, intensi, pikiran, perasaan, dan motivasi yang dialami orang lain. Pada saat anak usia dini, kelekatan (attachment) yang terjalin dengan orangtuanya menjadi aspek penting dalam perkembangan interpersonal. Pada orang dewasa, interaksi sosial seperti kerja sama, kepemimpinan, dan kohesi kelompok memainkan peran yang menonjol. Ekspresi wajah, isyarat, dan bahasa tubuh yang lain, membangun suatu sistem simbol dari kecerdasan interpersonal.

Karakteristik orang yang memiliki kecerdasan interpersonal yang baik adalah sebagai berikut:

a. Mampu membentuk dan menjaga hubungan dengan orang lain;
b. Mengetahui dan menggunakan cara-cara yang beragam dalam berhubungan dengan orang lain;
c. Merasakan perasaan, pikiran, motivasi, tingkah laku, dan gaya hidup orang lain;
d. Berpartisipasi dalam kegiatan kolaboratif;
e. Mempengaruhi pendapat dan tindakan orang lain;
f. Berkomunikasi secara efektif baik verbal maupun nonverbal;
g. Mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan kelompok yang berbeda;
h. Mudah menerima umpan balik dari orang lain;
i. Menerima berbagai perspektif dalam bidang sosial dan politik;
j. Mampu menjadi mediator yang baik bagi dua pihak yang sedang berselisih;
k. Mampu mengorganisir orang dari berbagai usia dan latar belakang.

Orangtua dapat menumbuhkan kecerdasan interpersonal ini dengan melibatkan anak dalam berbagai aktivitas yang berorientasi pada orang lain. Saat orangtua bersilaturahim dengan kerabat dan teman dekat, orangtua dapat mengajak anaknya sehingga anak merasakan pengalaman bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Orangtua bisa mengajak anak melakukan aktivitas menolong orang lain atau aktivitas sosial lainnya di sekitar tempat tinggal. Orangtua juga bisa mendorong anak terlibat dalam organisasi baik di sekitar tempat tinggal maupun di sekolah. Orangtua mengajarkan anak bagaimana cara menyelesaikan perselisihan saat anak-anak berselisih satu sama lain.

Di sekolah guru bisa mendorong tumbuhnya kecerdasan interpersonal ini, misalnya dengan melakukan aktivitas belajar yang menuntut kerjasama (pembelajaran kolaboratif). Anak didik dilibatkan dalam aktivitas permainan di mana aturan-aturan yang disepakati dalam permainan ditegakkan. Guru bisa mengajak anak didik melakukan aktivitas yang bersifat pelayanan sosial, seperti menjenguk teman yang sakit, mengunjungi panti asuhan terdekat, memberi bantuan sosial kepada orang-orang di sekitar sekolah. Guru memberi kesempatan kepada anak didik untuk mengorganisir diri mereka dalam suatu proyek bersama.

Kecerdasan interpersonal ini ada pada orang-orang yang berprofesi sebagai politisi, ulama, rohaniawan, pekerja sosial, konselor, dan guru.