Jika Jepang adalah fakta tentang korelasi positif antara pendidikan dan kesejahteraan, maka rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia sesungguhnya adalah cermin langsung dari rendahnya mutu pendidikan.

Membangun Masyarakat Sejahtera Serta Pendidikan Yang Berkualitas
Foto oleh Farhan Abas di Unsplash

Visi mendasar diproklamasikannya Republik Indonesia yang mengikat semua rumpun masyarakat dalam satu kesatuan kebangsaan adalah untuk menciptakan tatanan masyarakat adil-makmur dengan indikator utama tercapainya kesejahteraan masyarakat. Perahu bangsa ini dengan demikian mestinya dikayuh menuju satu dermaga, yakni dermaga kesejahteraan.

Sejahtera yang dimaksud tentu saja kesejahteraan bagi segenap warga bangsa, bukan golongan apalagi kesejahteraan perorangan. Visi membangun kesejahteraan bersama inilah yang menjadi amanah utama bagi siapa pun yang diberi kepercayaan untuk memimpin bangsa ini. Keberhasilan para pemimpin yang mewakili setiap kurun generasi tentu saja hanya ditentukan dengan satu hal, yakni sejauh mana mereka mampu menyejahterakan bangsa, bukan dari lamanya mereka memegang tampuk kekuasaan.

Di dalam sejarah Islam kita pernah berkenalan dengan sosok pemimpin yang namanya terus melegenda hingga hari ini, tokoh tersebut adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Di bawah kendali kepemimpinannya, masyarakat Islam ketika itu bahkan kesulitan mencari penerima zakat di lingkungan mereka sendiri, karena tingkat kesejahteraannya yang telah begitu tinggi dan merata.

Yang luar biasa, sejarah mencatat bahwa Umar bin Abdul Aziz memegang kendali kekuasaan kurang-lebih hanya 2,5 tahun. Dalam waktu yang pendek itulah, beliau bekerja keras dan mampu mengukir prestasi kesejahteraan yang luar biasa. Rakyat begitu kagum dan kiprahnya menjadi legenda yang menginspirasi para pemimpin dunia hingga hari ini.

Terkait kemampuannya dalam membangun kesejahteraan rakyatnya masing-masing, data sejarah juga menyodorkan kepada kita para Khalifah, Kaisar, Raja, di barat maupun di timur yang namanya dikenang sebagai pecundang karena gagal mempertahan kesejahteraan yang diwariskan kepadanya. Para pemimpin lemah ini bukan hanya gagal membangun kesejahteraan rakyat, tetapi ditangan mereka pula kebesaran dinasti yang memiliki kejayaan turun-temurun harus runtuh di tenggelamkan dinasti lain.

Nampaknya sudah menjadi hukum sejarah, bahwa kemampuan membangun kesejahteraan adalah faktor paling penting bagi kelanggengan sebuah kekuasaan. Sejarah hari ini pun di tuliskan dengan tinta yang sama, pemimpin yang hanya mampu menyejahterakan diri dan gagal mensejahterakan rakyat akan ditumbangkan oleh rakyatnya sendiri.

Baca juga:  Polisi Leicestershire, Inggris Melakukan Uji Coba Penggunaan Hijab Untuk Pertama Kalinya

Pendidikan & Kesejahteraan

Bangsa Indonesia telah lebih dari 75 tahun merdeka. Sejauh ini apakah visi menciptakan masyarakat sejahtera telah kita raih? Pada batas tertentu kita memang telah mengalami banyak kemajuan dan kesejahteraan dibandingkan dengan situasi pada saat kemerdekaan dikumandangkan. Namun untuk tatanan masyarakat sejahtera yang merata nampaknya masih banyak membutuhkan waktu.

Mengapa keajaiban ekonomi Jepang misalnya, tidak menular kepada kita, bukankah Jepang pada saat perang dunia ke dua berakhir, jauh lebih terpuruk dibandingkan kita. Tapi Jepang cepat bangun dan sembuh dari luka-luka politik akibat keterpurukannya pada akhir perang dunia ke dua. Hari ini kita melihat Jepang sebagai raksasa ekonomi dunia.

Bukan hanya membuat kagum masyarakat Timur, orang-orang Amerika dan Eropa yang pernah menghancurkan Jepang pun dibuat terkesima oleh pertumbuhan ekonomi Jepang. Apa sih yang dilakukan Jepang sehingga mampu merengkuh kesejahteraan dalam waktu relatif singkat pasca kehancuran yang mereka derita?

Mungkin kita ingat pelajaran sejarah tentang restorasi meiji? Ya, dalam rangka membangun kembali Jepang dari kehancuran Pemerintah jepang ketika itu tergerak untuk melakukan restorasi. Hal utama di dalam gerakan tersebut adalah memajukan sektor pendidikan. Pemimpin Jepang ketika itu sangat paham bahwa pendidikanlah yang akan membawa kembali kejayaan Jepang di era modern ini. Oleh karenya restorasi Jepang diawali dengan perumusan sistem pendidikan yang ideal.

Pilihan dan langkah tersebut hari ini terbukti kebenarannya. Pendidikan yang mereka rumuskan dan mereka yakini sebagai jalan utama dalam meraih kembali kejayaan ternyata benar-benar menunjukkan hasilnya. Ekonomi yang ditopang kehandalan ilmu-teknologi telah memposisikan Jepang sebagai negara yang bukan saja sejahtera, namun juga terpandang dan berwibawa.

Baca juga:  Manila Akan Mendeklarasikan 1 Februari Sebagai Hari Hijab Nasional

Berkat kesejahteraan yang tinggi pula, Jepang menjadi negara yang relatif aman. Rakyatnya tidak hobi protes, karena tingkat kesejahteraan mereka terpenuhi. Coba kita bandingkan dengan Indonesia, protes dan ketidak-puasan masyarakat kerap meletus menjadi prahara politik yang bisa merembet kemana-mana, stabilitas menjadi barang mahal, lantaran para pemimpin tidak mampu mensejahterakan rakyatnya.

Jika Jepang adalah fakta tentang korelasi positif antara pendidikan dan kesejahteraan, maka rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia sesungguhnya adalah cermin langsung dari rendahnya mutu pendidikan. Dengan demikian, memperbaharui sistem pendidikan sehingga muncul pendidikan yang berkualitas, merupakan syarat utama dalam menggapai kesejahteraan masyarakat.

Jujur harus kita akui, bahwa sesungguhnya sistem pendidikan yang hari ini kita jalankan adalah model pendidikan tanpa visi yang jelas. Wacana bongkar pasang kebijakan setiap kali terjadi pergantian menteri merupakan fakta paling nyata tentang ketidak-jelasan visi pendidikan kita.

Apa yang ingin kita capai dengan pendidikan ini? Mungkin para pengambil kebijakan tidak memiliki jawaban yang sama atas pertanyaan tersebut. Contoh paling anyar dari kebingungan ini adalah soal bagaimana kita belajar di masa pandemi. Kita bisa melihat dengan jelas, betapa konsep pendidikan kita terlalu rapuh dan hanya mengandalkan konsep sekolah secara tatap muka.

Silahkan di cek di daerah-daerah, terutama untuk tingkat Sekolah Dasar, pendidikan seperti terhenti dengan tutupnya sekolah. Nyaris tak ada terobosan yang benar-benar efektif untuk tetap memberi layanan pendidikan yang layak dalam situasi pandemi. Semua pihak menggerutu, menyalahkan keadaan.

Nah, bagaimana mungkin out put pendidikan akan bagus dan memiliki dampak menyejahterakan warga,jika lahir dari ketidak-jelasan visi dan berbagai macam kebingungan? Maka, mari benahi pendidikan agar semua pihak memiliki visi yang sama soal penyelenggaraan dan target-target pendidikan. Dengan kesamaan visi itu, apapun situasinya, pendidikan tetap bisa dijalankan.