Bagaimana Jepang bisa menjadi produsen otomotif terbesar di dunia? Bagaimana Jepang bisa begitu dominan dalam penguasaan pasar elektronika di seluruh dunia? Ada banyak faktor pendukung tentu saja, namun aspek pendidikanlah yang paling menentukan berbagai kemajuan yang dicapai oleh Jepang hari ini.

Jepang Untuk Menjadi Negara Maju
Foto oleh Tycho Atsma di Unsplash

Diakui atau tidak, Jepang adalah Negara yang sangat menarik. Capaian-capaiannya saat ini sungguh mencengangkan dunia. Ada beberapa Negara maju lainnya yang mungkin tidak sepaham dengan garis politik dan ekonomi yang dianut oleh Jepang, tetapi semua pihak harus mengakui bahwa Jepang telah melompat begitu jauh dan setara dengan Negara-negara industri maju lainnya di dunia.

Indonesia pernah memiliki luka historis dalam relasinya dengan Jepang pada masa lalu, terutama pada saat perang dunia ke 2 berkecamuk. Kita tentu tidak bisa melupakan bahwa Bangsa Indonesia pernah lama dijajah oleh Jepang dan mengalami penderitaan yang panjang karenanya. Namun seiring dengan usainya perang dunia ke 2, kekalahan Jepang, dan kemerdekaan yang dicapai oleh Republik Indonesia, hubungan kedua Bangsa saat ini justru sangat menarik.

Hubungan sejarah pahit pada masa lalu justru menjadi ‘ikatan’ emosional dari kedua Bangsa untuk bersama-sama menjadikannya sebagai aset sosial-politik untuk relasi dan masa depan yang lebih baik pada masa yang akan datang. Sehingga hari ini kedua belah pihak bisa berdiri sejajar sebagai bangsa merdeka yang peduli terhadap perdamaian dunia.

Meski sama-sama mengalami keterpurukan pada akhir perang dunia ke 2, namun nasib Jepang dan Indonesia dikemudian hari ternyata jauh berbeda. Jepang dalam waktu tidak terlalu lama mampu berbenah dan segera tampil sebagai salah satu raksasa dalam bidang industri dan teknologi. Negara-negara sekutu yang dahulu pernah memporak-porandakan negeri matahari terbit itu dengan Bom Atomnya, saat ini justru kewalahan dalam menghadapi ‘serangan’ ekonomi dan teknologi Jepang.

Sementara itu, langkah Indonesia memang tidak sesigap langkah “saudara tuanya” itu dalam merecovery diri pasca kolonialisme. Hingga hari ini kita masih tertatih dalam mencari model pembangunan. Bahkan terseok-seok dalam belitan ketidak-jelasan, sehingga jika dibandingkan antara kondis Jepang dan Indonesia, maka situasinya laksana bumi dengan langit. Jauh sekali rentang jaraknya.

Perbaiki Jalur Pendidikan

Sebenarnya kita sudah tahu rahasia sukses Jepang adalah “perbaikan kualitas pendidikan”. Anak-anak SMP di seluruh Indonesia juga kenal dengan istilah Restorasi Meiji. Bahwa restorasi Meji adalah titik balik bagi Bangsa Jepang untuk membangun martabatnya dan disana ada spirit dan kebersediaan semua pihak untuk belajar kepada orang lain dan semangat pantang menyerah.

Bangsa Jepang sadar betul bahwa kunci kemajuan adalah penguasaan atas ilmu dan teknologi. Kekayaan alam mereka boleh terbatas, namun dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi berbagai keterbatasan alam itu dapat diatasi bahkan bisa dibuat menjadi lebih baik. Posisi sadar akan arti penting ilmu dan pendidikan inilah yang nampaknya harus ditiru oleh Bangsa Indonesia. Bukan sekedar disadari belaka, namun benar-benar harus dilakukan, sehingga berdampak nyata.

Baca juga:  Bagaimana Cara Agar Gajah Yang Berat Bisa Seringan Kapas?

Bangsa kita sebenarnya telah sadar arti penting pendidikan, namun kesadaran tersebut belum mampu melahirkan kultur pembelajar di lingkungan masyarakat dan politik yang berpihak dan mengarus utamakan pendidikan pada tingkat pengambil kebijakan. Sehingga meski telah disadari, tetapi kondisinya belum bisa berubah menjadi lebih baik.

Keseriusan bangsa Jepang dalam menangani pendidikan juga sangat terlihat dari upaya Pemerintahnya yang selalu melakukan updating secara terus menerus dalam memperbaiki mutu pendidikan mereka.

Rainbow Plan

Diantara upaya updating mutu pendidikan itu misalnya, pada tahun 2001, pihak yang berwenang dalam masalah pendidikan di Jepang mencanangkan reformasi pendidikan yang kemudian dikenal sebagai ‘Rainbow Plan’. Yang diantaranya berisi tentang pengembangan kepribadian siswa menjadi pribadi yang hangat dan terbuka melalui aktifnya siswa dalam kegiatan kemasyarakatan, juga perbaikan mutu pembelajaran moral di sekolah.

Rainbow Plan juga memuat dokumen tentang penguatan kapasitas guru dengan memberikan pelatihan kepada para pengajar tersebut. Tujuannya agar guru menjadi tenaga profesional, dengan pemberlakuan evaluasi guru, pemberian penghargaan dan bonus kepada guru yang berprestasi, serta pembentukan suasana kerja yang kondusif untuk meningkatkan etos kerja guru.

Rainbow Plan sebenarnya dilandasi oleh ketidak-puasan banyak pihak di dalam negeri, atas mutu pendidikan di Jepang pada rentang waktu 1980-1990-an. Bayangkan ketika semua Negara di dunia ini mereka buat tercengang dengan keberhasilan sistem pendidikan yang mereka terapkan, ternyata dikalangan masyarakat Jepang justru telah tumbuh suatu ketidak-puasan atas kondisi yang ada sehingga mereka menuntut adanya reformasi serius di dalam sistem pendidikan Jepang. Inilah yang membedakan antara kita dengan Jepang. Kita cepat puas dengan kondisi pendidikan yang ada, sementara mereka terus melakukan peningkatan mutu.

Hal lain yang membuat pendidikan di Jepang terasa kokoh adalah pada fokusnya. Menurut Prof. Yoneo Ishii Direktur Pusat Studi Asia Tenggara pada Universitas Kyoto, keunggulan pendidikan Jepang sesungguhnya terkait banyak hal, namun satu yang sangat diperhatikan adalah; pendidikan Jepang lebih berkonsentrasi pada penguatan pendidkan dasar, ketimbang pendidikan tinggi.

Baca juga:  Arti Penting Kecerdasan Moral Dalam Tumbuh Kembang Anak

Mengapa? Di atas dasar yang kuatlah segala sesuatu itu diletakkan. Bagaimana mungkin bangunan tinggi mampu bertahan lama jika, bangunan dasarnya rapuh? Sekarang mari kita lihat fokus penguatan pada pendidikan kita. Bukankah pendidikan dasar dilingkungan kita dilakukan dengan sekenanya? Untuk mendidik anak TK kita masih banyak mempekerjakan tenaga pendidikan tamatan SMA, untuk mendidik anak SD kita butuh guru tamatan D2 dan seterusnya. Padahal semua tahu bahwa mengelola anak TK jauh lebih sulit dibandingkan dengan mengelola anak SMP.

Maka mari belajar dari pengalaman Jepang, terutama dalam hal-hal berikut ini:

Pertama, masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan mestinya mampu bersikap kritis atas kualitas layanan pendidikan. Kritis dimaksud dalam hal ini adalah sejauh mana pendidikan mampu memberikan garansi bagi para siswa bahwa di masa depan mereka akan menjadi SDM yang kompetitif dan siap bersaing dengan tenaga kerja asing dari seluruh dunia.

Masyarakat kita hari ini justru lebih melihat pendidikan sebagai pelengkap prestisge. Sekolah mahal dan bergengsi lebih menjadi prioritas daripada melihat mutu. Inilah yang kemudian membuat masyarakat kita tak kritis terhadap mutu pendidikan sebagaimana halnya masyarakat Jepang.

Kedua, di tingkat kebijakan, semangat UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003 perlu diejawantahkan dalam kebijakan dasar pendidikan yang lebih terintegrasi dan ajeg meski tetap harus adaptif terhadap berbagai perkembangan. Aspek keajegan ini penting, agar kebijakan pendidikan dan kurikulum tidak mudah berubah begitu saja. Matangkan konsepnya, jalankan, baru ada evaluasi. Perubahan mestinya berangkat dari evaluasi bukan kecenderungan subjektif pejabat menteri pendidikan!

Ketiga, perlu kesungguhan semua pihak untuk mengembangkan sikap mau melakukan yang terbaik serta tidak pernah cepat merasa puas. Budaya bertindak nyata itu lah yang ingin kita tiru dari pendidikan yang dikembangkan oleh Jepang.

Keempat, perlu kebijakan prioritas dalam bidang pendidikan. Pengembangan guru sebagaimana yang dilakukan oleh Jepang mestinya juga kita tiru. Dari gedung yang sederhana, tetapi ditangan guru yang hebat, akan lahir para pemimpin dan profesional yang hebat. Artinya, guru sebagai tulang-punggung pendidikan nasional harus menjadi prioritas dalam strategi pengembangan pendidikan.

Percuma, gedung bagus, laboratorium canggih tapi diserahkan kepada guru yang kapasitasnya pas-pasan saja. Tidak ada pilihan, majukan guru maka akan maju pula pendidikan.