Konsep PAIKEM, saya yakin semua guru pernah dengar. Tapi mungkin ada banyak guru yang belum sempat mempraktikkannya. Bagiaman pula adaptasi konsep PAIKEM dipakai dalam pembelajaran online untuk mengatasi kejenuhan siswa? Sebuah tantangan inovasi dalam pembelajaran yang layak dipikirkan.

PAIKEM Dipakai Dalam Pembelajaran Online Untuk Mengatasi Kejenuhan Siswa
Foto Ilustrasi

Apa itu PAIKEM?

Para guru dan komunitas pendidikan umumnya sudah familiar dengan konsep PAIKEM. Ia memang bukan nama perempuan Jawa pada zaman dahulu, PAIKEM adalah sebuah akronim tentang pendekatan dalam metode pengajaran. Konsep PAIKEM mulai ramai dibincangkan semenjak reformasi UU sisdiknas pada tahun 2003, yang melahirkan UU no. 20 tahun 2003.

Undang-undang baru ini memang memberi tekanan yang cukup jelas soal penyelenggaraan pendidikan nasional, ada pergeseran penting yang bersifat mendasar terkait tujuan pendidikan, penyelenggaraan pendidikan, hingga cara pandang terhadap peserta didik. Guru dalam UU baru ini memang lebih dituntut untuk memerankan diri sebagai fasilitator dan siswa harus terlibat aktif, serta pengajaran yang harus berfokus pada siswa.

PAIKEM adalah respon dari perubahan itu. Meski model pendekatannya telah lama dikembangkan kalangan LSM dan beberapa sekolah swasta di tanah air, namun adopsi secara sistematis di ruang kelas baru terjadi sekitar tahun 2008-an.

PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Konsep ini memang jawaban alternatif bagi banyaknya kritik yang menggugat model pembelajaran di sekolah-sekolah yang dinilai kaku, berpusat pada guru, miskin metode, dan kurang membuka ruang partisipasi siswa, sehingga banyak siswa yang merasa tidak nyaman dengan model belajar yang telah ada.

Payung Hukum.

Lahirnya konsep PAIKEM bukanlah gagasan liar tanpa landasan hukum. Meski tidak ada produk hukum yang secara spesifik berbicara tentang PAIKEM, namun beberapa produk perundangan secara nyata memberikan amanah untuk mengkreasi metode mengajar yang sesuai dengan spirit perubahan paradigma pendidikan.

Bab I, Pasal 1, ayat 1, UU Sisdiknas no. 20 tahun 2013 setidaknya memberi pedoman bagi munculnya model belajar yang berorientasi pada siswa, dimana keterlibatan atau keaktifan siswa menjadi perhatian serius dalam pemaknaan konsep pendidikan nasional.

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”

Selanjutnya Permendiknas no. 41 tahun 2007 adalah jabaran lebih teknis yang bisa digunakan sebagai payung hukum bagi keberadaan konsep PAIKEM. Dalam poin B (pelaksanaan Pembelajaran), pada ayat ke 2 ada ketentuan sebagai berikut:

Baca juga:  Arti Penting Kecerdasan Moral Dalam Tumbuh Kembang Anak

“Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, sertaMemberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian”

Dengan demikian payung hukum bagi pengembangan model PAIKEM ini cukup kuat. Justru mestinya para guru tergerak untuk mengkreasi pendekatan-pendekatan lain yang lebih efektif, mengena, dan tentu menyenangkan hati anak-anak, karena peraturan memang menuntut itu.

Metode Belajar Dengan Konsep PAIKEM
Foto Ilustrasi

Karakteristik PAIKEM.

PAIKEM dapat dimaknai sebagai sebuah metode pendekatan dalam mengajar, yang bisa adaptif dengan model-model pengajaran yang telah ada. Beberapa karakteristik dasar yang menjadikan PAIKEM berbeda dengan metode atau pendekatan lain menurut Dr. Muhibbin Syah dan Dr. Rahayu Kariadinata (1990) adalah:

Pertama, PAIKEM adalah model belajar yang berpusat pada siswa. Ini membedakan secara tegas antara PAIKEM dengan metode konvensional yang biasa di pakai oleh para guru, dimana guru adalah sumber ilmu dengan otoritas yang sangat mutlak di dalam kelas.

Kedua, Prinsip belajar yang menyenangkan. PAIKEM mengajak siswa dan guru untuk menyenangi aktifitas belajar sehingga proses belajar bisa mereka nikmati sebagai kegiatan yang menyenangkan, bukan yang membikin tegang apalagi stress.

Ketiga, Berorientasi pada tercapainya kecakapan tertentu. PAIKEM tidak hanya transfer pengetahuan, tetapi harus melahirkan peningkatan kecakapan.

Keempat, Belajar secara tuntas. Tidak setengah-setengah, PAIKEM mengajak siswa untuk memahami objek pelajaran secara tuntas, sehingga tercapai pemahaman makro yang bisa lebih dipertajam oleh siswa seiring perjalanan waktu dan kebutuhannya akan pengetahuan.

Kelima, Belajar secara berkesinambungan. Tidak ada pelajaran atau bahkan ilmu yang benar-benar tuntas dipelajari. PAIKEM membangun kesadaran ini, bahwa belajar adalah proses yang tidak berkesudahan

Keenam, Belajar kontekstual. Bahwa proses belajar sangat terkait dengan isu atau tema-tema kekinian dan fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan terdekat kita, hal ini akan mendorong siswa untuk peka dan tertantang menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan masalah-masalah keseharian. Sehingga ilmu menjadi aktual.

Masalah yang sering dihadapi para guru yang ingin mendalami konsep PAIKEM ini adalah pelatihan PAIKEM yang mereka terima seringkali disampaikan dengan cara berceramah. Sehingga umumnya guru hanya memperoleh pengetahuan tentang PAIKEM tetapi akan sulit untuk menerapkannya, karena mereka tidak memiliki pengalaman apapun untuk melakukannya di hadapan para siswa.

Baca juga:  Apa Manfaat Yang Terkandung Dalam Qusthul Hindi? Obat Herbal Pencegahan Dan Penyembuhan Covid-19

Pengembangan PAIKEM online?

Di beberapa daerah di Pulau Jawa, konsep PAIKEM bahkan telah berkembang lebih jauh. Beberapa komunitas guru menambahkan unsur “Gembira dan Berbobot”. Sehingga konsepnya berubah menjadi PAIKEM GEMBROT.

Inovasi pengembangan model pembelajaran ini layak dikembangkan secara spesifik oleh komunitas guru di manapun. Dengan sentuhan idiom-idiom lokal, konsep PAIKEM dapat makin variatif berkembang sesuai tantangan lokalnya.

Dalam masa Pandemi Covid 19 ini ruh atau jiwa konsep PAIKEM mestinya menjadi pilihan, agar siswa tak jenuh dan tetap belajar secara berkualitas meski tanpa tatap muka. Tantangannya tentu saja bagaimana PAIKEM yang banyak menggunakan kekuatan interaksi face to face yang relatif rapat dapat diadaptasikan dalam model pembelajaran daring atau PJJ.

Mungkin para guru harus mampu menterjemahkan konsep PAIKEM dengan banyak menggunakan slide powerpoint yang tak semata dipakai sebagai alat presentasi materi belajar. Powerpoint bisa dikembangkan untuk game, humor, teka-teki, dll.

Beberapa model kuis online untuk pendidikan semacam kahoot, quizizz, wordwall, dan lain-lainnya harus segera diakrabi oleh para guru. Demikian juga ketrampilan dalam editing film sederhana barangkali juga harus menjadi ketrampilan alternatif yang harus dikuasi oleh guru.

Dengan pemahaman dan spirit PAIKEM, beberapa teknologi tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan model belajar online yang memiliki filosofi PAIKEM. Tentu ini akan menjadi tantangan menarik bagi para guru. Mengembangkan model belajar PAIKEM secara online. Agar model belajar PJJ makin kaya pendekatan dan mampu menjadi ruang kreatifitas bagi para guru.

Ini penting, bukan saja untuk mengurangi keluhan siswa yang sudah jenuh dengan model belajar online yang seringkali monoton dan sekedar banyak memberi tugas. Bagi guru, agenda ini bahkan bisa bernilai strategis, jika inovasinya menjadi model yang berlaku di seluruh Indonesia.

Nah, selamat mencoba!