Anak yang punya masalah dalam perkembangan emosinya cenderung punya masalah interpersonal, pendidikan, pekerjaan, dan masalah kesehatan mental.

Perkembangan Emosi Anak Dan Peran Penting
Foto oleh Christoffer Zackrisson di Unsplash

Perkembangan emosi dalam hal ini dimaknai sebagai proses belajar anak dalam mengekspresikan dan mengelola emosi secara efektif sepanjang waktu. Perkembangan emosi memiliki dampak yang besar bagi anak baik pada saat mereka masih berusia anak-anak maupun saat dewasa kelak. Anak-anak yang punya perkembangan emosi yang baik cenderung sukses dalam hubungan interpersonal, pendidikan, pekerjaan, dan memungkinkan mencapai kebahagiaan dalam hidupnya.

Apa itu emosi? Oxford English Dictionary mendefinisikan emosi sebagai “setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu; setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap”. Daniel Goleman mengartikan emosi sebagai suatu perasaan dan pikiran-pikiran, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Ada berbagai macam jenis emosi pada manusia. Kita juga kerap berada pada keadaan yang mengandung berbagai emosi yang campur aduk. Namun, ilmuwan sepakat bahwa ada lima emosi dasar pada manusia yang ditemui pada berbagai bangsa dan budaya di seluruh dunia, yakni takut, jijik, marah, sedih, dan senang.

Seorang anak mulai belajar tentang emosi pada saat ia berinteraksi dengan ibunya saat masih bayi. Ada berbagai variasi interaksi antara anak dan ibunya. Namun secara umum, ada dua perlakuan ekstrim: ada bayi yang mendapat pelajaran emosi yang penuh kepercayaan dari ibunya, pada sisi lain ada bayi yang mendapat pelajaran emosi yang penuh kecurigaan dari ibunya. Bayi yang merasakan adanya kepercayaan saat berinteraksi dengan ibunya mendapatkan perlakukan dari ibunya dengan penuh kasih sayang. Saat bayi menangis tengah malam, ibunya datang, menyusui bayinya dengan pelukan yang hangat. Bayi yang merasakan adanya kasih sayang dari ibunya belajar bahwa ibunya dapat dipercaya untuk memperhatikan kebutuhannya dan diandalkan bantuannya. Dan bayi merasa dirinya dapat bersikap efektif untuk memperoleh bantuan.

Bayi yang merasakan adanya kecurigaan saat berinteraksi dengan ibunya mendapatkan perlakuan yang jauh dari kasih sayang. Sang bayi merasakan adanya ketegangan yang dialami ibunya saat menimangnya karena ibunya merasa mendapat gangguan dari bayinya yang rewel tengah malam. Sang bayi mendapati ibunya memperlakukan dirinya dengan kasar. Bayi yang diperlakukan demikian merasa bahwa ibunya tidak mempedulikannya, bahwa orang lain tidak dapat diandalkan, dan usahanya untuk memperoleh kasih sayang akan menemui kegagalan.

Seperti apa perlakuan orangtua terhadap bayi akan menjadi pembelajaran emosi bagi bayi. Jika orangtua memperlakukan bayi dengan cara tertentu, hal ini akan terekam oleh anak karena begitulah dirinya terus-menerus diperlakukan. Jika bayi terus menerus diperlakukan dengan cara tertentu, baik penuh kepercayaan maupun penuh kecurigaan, maka hal ini akan menjadi pembelajaran emosi yang akan tertanam pada diri bayi. Pembelajaran emosi yang berlangsung sejak bayi akan diteruskan pada masa anak-anak. Semua interaksi anak dengan orangtuanya memiliki makna emosional tersembunyi. Dengan adanya pengulangan selama bertahun-tahun, anak-anak membentuk pandangan serta kemampuan emosionalnya.

Baca juga:  Krisis Lingkungan Hidup Serta Peran Dakwah Islam

Pada empat tahun pertama kehidupan, otak anak tumbuh dan berkembang pesat. Pada periode ini, otak berkembang kerumitannya dengan laju pertumbuhan yang lebih cepat dari periode setelahnya. Selama periode empat tahun pertama ini, pembelajaran emosi berlangsung cepat dan menjadi periode pembelajaran emosi yang paling penting bagi kehidupannya. Dalam hal ini, peran orangtua dan guru sebagai mitra pembelajaran emosi anak sangat penting. Orangtua dan guru perlu mengambil peran mendampingi anak dalam melakukan pembelajaran emosi.

Melalui interaksi dengan orangtua dan guru, anak mengembangkan tentang apa yang dirasakan dirinya maupun orang lain. Dari interaksi inilah anak mengembangkan pembelajaran emosi, emosi apa yang akan ditampilkan pada situasi tertentu. Misalnya, seorang anak yang baru saja terjatuh dan tidak yakin apakah dirinya merasa sakit atau tidak, akan memandang ke arah ibunya untuk mendapatkan informasi. Referensi sosial yang didapat dari orangtua atau pengasuhnya menjadi petunjuk bagi anak dalam menentukan bagaimana ia merasakan dan menampilkan emosi dalam berbagai situasi.

Ekspresi Emosi.

Anak-anak sudah memiliki reaksi atau ekspresi emosi tertentu menanggapi keadaan di sekitarnya. Menjelang usia 6 bulan, anak mengekspresikan emosinya dengan cara tersenyum kepada orang di sekitarnya. Senyumnya bukan lagi refleks yang bisa dijumpai saat mereka tidur, tetapi sebagai hasil dari interaksi aintara dirinya dengan orangtua atau pengasuhnya. Ekspresi emosi tampak pada saat anak menangis dan berteriak hebat saat apa yang diinginkan tidak disetujui orngtuanya. Menangis merupakan ekspresi emosi yang efektif sebagai saraa berkomunikasi dengan orang lain. Menangis yang dilakukan anak berbeda-beda polanya tergatung apakah anak dalam keadaan sakit, lapar, atau menunjukkan emosi marah.

Pada saat usia 1 sampai 2 tahun, anak sudah menampilkan emosi dasar seperti marah, sedih, dan senang. Pada saat usia dini, sekitar 3-6 tahun, anak sudah menampilkan ekspresi emosi yang menyesuaikan konteks lingkungannya. Misalnya, saat berada bersama kawan-kawan seusianya, anak lebih sering menampilkan emosi marah dan senang dibandingkan emosi sedih. Selanjutnya, seiring anak tumbuh lebih besar, ekspresi emosinya makin kompleks, mereka mulai menunjukkan berbagai emosi sekunder seperti rasa bangga, rasa malu, dan rasa bersalah. Pada saat itulah anak mulai punya kesadaran untuk membawa diri saat berada di lingkungan sekitarnya. Mereka mulai mampu mengatur emosinya saat berinteraksi dengan orang lain.

Baca juga:  Mengapa Bangsa Indonesia Kerap Diingatkan Tentang Toleransi Pada Setiap Desember?

Pengaturan Emosi.

Pengaturan emosi merupakan proses dasar yang terjadi dalam perkembangan emosi. Pengaturan emosi berkaitan dengan bagaimana anak mengelola dan mengendalikan emosinya. Pengaturan emosi terjadi baik pada aspek kognitif, afektif, maupun perilaku. Sejak lahir, seorang bayi sudah bisa melakukan pengaturan emosi yang dilakukan secara refleks, antara lain dengan menghindar dari cahaya terang, juga memasukkan tangan ke mulutnya utuk mendapatkan rasa nyaman. Pada saat anak berusia 1-3 tahun, anak masih membutuhkan orangtuanya untuk melakukan pengaturan emosi. Namun, saat anak mulai tumbuh lebih besar, mereka mulai bisa mengembangkan strateginya sendiri untuk mengelola emosi. Pengaturan emosi yang digunakan oleh anak, baik yang paling adaptif maupun yang kurang adaptif antara lain dengan cara menyelesaikan masalah (berusaha untuk mengubah situasinya), mencari dukungan dari orangtua atau teman sebaya (misalnya dengan mencari penghiburan/pelipur lara atau meminta bantuan), menjaga jarak dari orang lain, menampilkan perilaku berdiam diri (misalnya dengan mengambil nafas dalam-dalam), maupun melakukan perilaku anti sosial (misalnya memukul temannya). Dari cara pengelolaan emosi tersebut, cara yang baik adalah dengan mencari penghibur/pelipur lara kepada orang lain dan strategi berdiam diri. Pengelolaan emosi yang buruk adalah dengan cara menampilkan perilaku anti sosial.

Memahami Emosi.

Pada saat usia dini, anak terus belajar memahami emosi mana yang akan diekspresikan, kapan dan dimana melakukan emosi tertentu. Anak mulai melakukan upaya memahami emosinya dengan menunjukkan kemampuan dalam menamai emosi, menggunakan bahasa emosi, dan mengetahui penyebab dan konsekuensi dari emosi tertentu. Pada usia menjelang 3 tahun, anak sudah bisa mendeteksi dan menamai emosi yang ditampilkan orang lain. Mereka sudah bisa memilih dan menentukan situasi yang tepat agar menghasilkan emosi yang positif. Saat usia dini, anak semakin cakap dalam menggambarkan penyebab dari emosinya sendiri. Bahkan anak pada usia 2 tahun sudah mampu menggunakan kata-kata emosi untuk menggambarkan keadaan emosinya kepada orang lain.