Ada dua momen penting pada bulan November. Pertama adalah hari pahlawan yang diperingati pada tanggal 10 November dan hari guru nasional yang jatuh pada tanggal 25 November. Membincangkan guru dan nilai kepahlawanan di bulan November ini menjadi relevan dan penting, mengingat profesi guru yang kerap disandingkan dengan nilai kepahlawanan.

Refleksi Nilai Kepahlawanan Di Hari Guru
Ilustrasi, Al Basir – Refleksi Nilai Kepahlawanan Di Hari Guru

Hari pahlawan dirayakan untuk mengingat pertempuran di Surabaya antara tentara Indonesia dengan tentara Inggris dan Belanda. Pelopor muda, Bung Tomo, menjadi sosok penting pada peristiwa 10 November ini. Beliau bersama tokoh-tokoh lain mampu membakar semangat juang tentara dan rakyat Indonesia sehingga mampu memberikan perlawanan sengit terhadap tentara penjajah di Surabaya. Tanggal 10 November diperingati sebagai hari pahlawan untuk mengenang jasa ribuan pejuang dan rakyat sipil yang gugur pada peristiwa ini.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Pahlawan juga berarti pejuang yang gagah berani. Pahlawan adalah sosok yang mempunyai sikap patriotik, berjasa bagi negara, dan memiliki perilaku yang patut dicontoh dan ditiru. Sikap patriotik tersebut diantaranya mencakup: berjiwa pemimpin, rela berkorban, bertanggung jawab, keteladanan, dan berjiwa pelopor (Badrun, 2006). Dalam konteks yang lebih luas, makna pahlawan bukan hanya mengacu kepada individu-individu yang berjuang merebut kemerdekaan semata, tetapi juga tertuju kepada mereka yang berjasa kepada masyarakat dan bangsa sesuai dengan profesi dan keahliannya.

Salah satu sosok penting dalam kehidupan berbangsa adalah guru. Guru adalah orang yang berjasa kepada bangsa dalam bentuk perjuangan dan pengabdiaanya bagi pendidikan bangsa. Menurut UU No. 20 tahun 2003 pasal 30, guru merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai pembelajaran, dan melakukan pembimbingan. Undang-undang tersebut menjabarkan bahwa tugas guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik, mengasuh, membimbing, dan membentuk kepribadian siswa guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia.

Guru adalah pilar utama peningkatan kualitas pendidikan bangsa. Kualitas pendidikan yang baik akan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki daya saing tinggi di dunia global. Studi-studi tentang kualitas guru dan pembelajaran di kelas telah mengindikasikan bahwa peran guru sangat sentral pada proses pembelajaran dan peningkatan kualitas pendidikan. Bahkan, kualitas guru lebih utama dari kurikulum dan fasilitas pembelajaran (Geringer, 2006). Namun demikian, berbagai tes dan evaluasi hasil belajar siswa (PISA, TIMSS) menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia masih di bawah rata-rata yang diharapkan. Performa siswa yang rendah ini berkolerasi positif dengan masih rendahnya kompetensi guru, dan prilaku dan serta mereka di kelas.

Baca juga:  Mengarus-utamakan Isu Pendidikan Dalam Konstelasi Politik

Peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru sudah semestinya menjadi prioritas utama pemerintah. Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menunjukkan niat baik dan usahanya dalam upaya peningkatan mutu guru dan kesejahteraan mereka melalui berbagai program seperti sertifikasi guru, pengembangan profesi guru berkelanjutan, dan pemberian insentif. Terlepas dari belum maksimalnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru tersebut, guru harus tetap menjaga jatidirinya sebagai pahlawan pendidikan yang memiliki jiwa kepemimpinan, nilai keteladanan, rasa tanggung jawab, dan berjiwa pelopor.

Peningkatan kompetensi guru dan kualitas pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Guru sebagai salah satu pilar utamanya harus memiliki niat, inisiatif dan usaha sadar untuk terus mengembangkan potensi dirinya. Sebaik apapun program pengembangan guru dan pengingkatan kesejahteraan guru dari pemerintah akan tidak bermakna jika subjek utama pendidikan, para guru, tidak memiliki keinginan yang kuat dan usaha keras untuk keluar dari belenggu kemalasan – malas belajar dan malas menjalankan tugas sebagai pendidik.

Nilai Kepahlawanan Di Hari Guru
Ilustrasi, Al Basir – Refleksi Nilai Kepahlawanan Di Hari Guru

Guru harus terus menjadi pembelajar mandiri dan menjadi pendidik yang profesional sehingga di sekolah dan kelas menjadi panutan bagi siswa dan mampu membangkitan semangat mereka untuk belajar. Nilai dan sikap patriotisme keguruan telah diwariskan oleh sosok maha guru Ki Hadjar Dewantara, terangkum dengan indah di dalam semboyan: Ing Ngarso Sung Tulodo (dari depan memberi contoh teladan), Ing Madyo Mangun Karso (dari tengah menciptakan ide atau prakarsa) dan Tut Wuri Handayani (dari belakang memberikan dorongan dan arahan). Dengan kata lain, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani berarti figur seorang guru yang baik adalah selain menjadi panutan, juga harus mampu membangkitkan semangat dan memberikan dorongan moral sehingga para siswa dapat menjadi manusia yang bermanfaat di masyarakat.

Baca juga:  Islam Akan Menjadi Agama Mayoritas Di Eropa Pada Masa Yang Akan Datang

Disamping memiliki kemampuan mengajar dan pengetahuan luas, guru harus memiliki nilai dan sikap seperti sabar, rela berkorban, dan komitmen atau keteguhan hati. Kesabaran adalah syarat utama untuk menyelesaikan setiap tugas dan tanggung jawab yang diamanatkan. Sikap sabar adalah salah satu ciri utama kepribadian orang dewasa dan guru akan memiliki sikap ini manakala mereka telah memiliki emosi yang stabil. Dengan stabilitas emosi yang baik guru mampu mengendalikan emosinya dan akan senantiasa berhati-hati dalam setiap tindakannya. Guru yang emosinya stabil akan senantiasa sabar dan arif dalam menghadapi masalah yang mudah menyulut kemarahan yang terjadi dilingkungan sekolahnya.

Selain sabar, guru harus memiliki sikap rela berkorban. Rela berarti bersedia dengan ikhlas hati atau dengan kemauan sendiri, dan tidak mengharapkan imbalan. Berkorban berarti memberikan sesuatu yang dimiliki sekalipun menimbulkan penderitaan bagi dirinya sendiri. Rela berkorban dalam pendidikan bermakna bersedia dengan ikhlas memberikan sesuatu baik tenaga, harta, pengetahuan, dan pemikiran untuk kepentingan siswa dan pendidikan. Walaupun dengan berkorban berakibat cobaan penderitaan bagi dirinya sendiri. Guru yang baik juga harus berkomitmen pada tugas dan kewajibannya. Guru yang berpegang teguh terhadap komitmennya sebagai pendidik tidak melihat profesinya hanya sebagai tempat untuk mencari harta dan meniti karier, melainkan sebagai ibadah atau ladang amal untuk menjadikan hidupnya bermakna dunia dan akhirat, bermanfaat bagi dirinya, masyarakat, dan akhiratnya.

Peringatan hari pahlawan dan hari guru nasional selayaknya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas dan semangat pengabdian guru di Indonesia. Semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani harus terus menyinari hati guru dalam melaksanakan tugas mulianya. Nilai-nilai kepahlawanan seperti sifat sabar, kerelaan berkorban, dan komitmen, harus senantiasa melebur di dalam jiwa guru Indonesia. Sifat sabar, kerelaan berkorban, dan keteguhan hati akan melecut semangat guru untuk mengembangkan kemampuan mengajar dan pengetahuan, dan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara profesional. Dengan kesabaran, kerelaan berkorban, dan keteguhan hati, guru mampu mencapai misi mulianya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan sumber daya manusia yang memiliki daya saing tinggi dan berakhlak terpuji.