Apa jadinya bila setiap saat seseorang selalu melihat ke belakang seumpama makhluk bernama undur-undur yang selalu berjalan mundur. Sejatinya ia adalah makhluk Allah yang diciptakan untuk beribadah, dan beribadah tidak mengenal jalan mundur.

Seberapa Sibuknya Kita Mengenang Masa Lalu
Photo by Timothy Eberly on Unsplash

Bicara masa lalu kadangkala memang mengasyikkan. Bila ia masa lalu yang indah maka ia laksana pemandangan hutan yang belum terjamah oleh tangan-tangan. Masih asli dan penuh pesona meski ia belum disulap menjadi taman. Keaslian itulah yang senantiasa menggerakkan setiap jiwa-jiwa yang haus akan keindahan lalu ia bergegas menapak menelusur, ingin lagi kembali kepada hutan. Namun jika masa lalu tidaklah menawan maka ia ibarat bangkai menjijikkan. Semua membencinya karena selalu mampu merusak setiap suasana nyaman. Kadang tak perlu melihatnya namun hidung selalu mampu mencium aroma kebusukan. Setiap saat.

Ya, masa lalu memang ada yang layak untuk dikenang, namun tak sedikit pula yang layak untuk dibuang. Saat ia perlu untuk dikenang, maka itu disebabkan ia mampu melecutkan kembali semangat untuk tidak melupakan keaslian bentuk hutan meski kini telah berubah menjadi sebuah taman. Dan saat ia perlu untuk di buang, itu pun karena ia sudah tak layak untuk dijadikan kenangan.

Apa jadinya bila setiap saat seseorang selalu melihat ke belakang seumpama makhluk bernama undur-undur yang selalu berjalan mundur. Sejatinya ia adalah makhluk Allah yang diciptakan untuk beribadah, dan beribadah tidak mengenal jalan mundur. Meski suatu saat ia perlu mundur tapi tidak pada setiap saatnya. Shalat tidak mengenal mundur, puasa tidak mengenal mundur, bahkan jihad pun tak mengenal mundur. Itulah yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an saat Allah SWT berfirman:

“Maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan.”

QS. Al Baqarah: 148

Tidak ada perlombaan yang harus mundur. Karena mundur berarti kembali ke masa tanpa perlombaan. Sedangkan pahlawan surga haruslah seseorang yang ikut dalam perlombaan. Bukankah itu yang dikatakan oleh Allah:

“Dialah Zat Yang Menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian semua, manakah yang paling baik amalnya.”

QS. Al Mulk: 2

Tidak mungkin seseorang menjadi juara dan meraih amalan terbaik tanpa ikut perlombaan.

Baca juga:  Cara Mudah Mengetahui Hubungan Antara Prasangka, Tajassus dan Ghibah

Tapi yang pasti, pahlawan surga juga perlu sesekali melihat kebelakang. Tapi ia tak perlu mundur. Cukup mengurangi kecepatan, atau berhenti sejenak untuk evaluasi dan selanjutnya ia bergerak maju kembali.

Ibarat pengendara handal sebuah mobil dalam sebuah perlombaan. Ia harus pastikan bahwa kaca depan mobilnya harus besar dan proporsional sebagaimana kaca spionnya cukup dengan ukuran kecil saja. Ia tak perlu kaca spion berukuran besar untuk melihat peserta lainnya, apalagi bila ukurannya lebih besar dari kaca depan. Ia hanya sesekali melihat ke belakang melalui spion kecil sekiranya ada hal-hal penting yang harus dilakukan. Oleh karena itu apa jadinya saat seorang pengendara selalu melihat ke belakang, apalagi ia memasang kaca spion yang sangat besar agar selalu dapat melihat apa yang dilakukan oleh peserta lainnya. Maka jadilah ia seorang pengendara yang sibuk dengan urusan belakang.

Selain sibuk urusan belakang, ada hal lain yang kadang kala menyita waktu, tenaga dan pikiran seorang pengendara dalam perlombaan. Saat ada beberapa peserta lain yang berpacu dengan kecepatan yang sama, atau malah mampu melewatinya, ia mulai merasa goyah. Selanjutnya kadang ia mulai sibuk berusaha membuat mereka menyingkir, atau bahkan tak bisa melanjutkan lomba. Dan pada akhirnya, ia adalah seorang pengendara yang super sibuk, namun pada urusan yang tak perlu.

Alangkah rugi seseorang yang selalu terpaku pada masa lalu. Ia akan susah menjadikan dirinya maju, apalagi mampu untuk berpacu. Bukankah berdosa saat kita mengungkit masa lalu Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu saat beliau masih jahiliyah?

Baca juga:  Allah Menciptakan Telinga Dengan Segala Keajaibannya

Tentunya kita memang tak sekelas Umar bin Khaththab dalam hal kebaikan, namun juga tak layak menutup mata dari sedikit kebaikan yang telah kita lakukan. Coba kita simak ungkapan luar biasa dalam Al-Qur’an saat Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sungguh kebaikan-kebaikan itu akan senantiasa menghapus kesalahan-kesalahan.”

QS. Hud: 114

Dan bahkan pada puncaknya, seorang mukmin pendosa pun akan Allah masukkan ke dalam surga-NYA melalui delapan pintu yang ia suka, saat ia berperang fi sabilillah lalu terbunuh karenanya, itulah yang diungkapkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam:

“Sesungguhnya pedang itu penghapus dosa-dosa.” 1

Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 17204

Akhirnya, tidak ada alasan bagi kita untuk mengusik kembali masa lalu orang lain yang tak indah. Sebagaimana kita juga tak perlu memasang cermin besar untuk menyibukkan diri dan menghabiskan waktu demi melihat ke belakang.

Merubah hutan menjadi sebuah taman, lalu merawatnya dari kerusakan jauh lebih bermanfaat dari pada merubah taman agar ia kembali menjadi hutan.

Referensi:

1 Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (17204), Imam Ad-Darimy dalam Sunannya (2411), dan Imam At-Thabrani dalam al-Mu’jam (310) semuanya melalui jalur Shafwan bin Amr dari Abul Mutsanna Al-Amluki dari sahabat Utbah bin Abd As-Sulamy.

Imam Al-Haitsami dalam Majma’ mengatakan bahwa perawi dalam riwayat Imam Ahmad semuanya adalah perawi yang dipakai dalam As-Shahih, kecuali Abul Mutsanna, akan tetapi ia perawi tsiqah.

Dalam tahqiqnya di kitab Zadul ma’ad, Al-Arna’uth mengatakan bahwa hadits riwayat Imam Ahmad dan Ad-Darimy statusnya hasan dan dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban. (Zadul Ma’ad 3/94, Mu’assasah Ar-Risalah-Beirut, cet. 1410 H-1990 M.