Telah 10 bulan lebih murid belajar dari rumah, mereka makin bosan, dan tidak ada terobosan yang benar-benar baru dalam penyelenggaraan belajar dari rumah. Haruskah situasi ini diteruskan? Sementara penularan virus Corona di Indonesia makin tinggi.

Sekolah Dari Rumah Dan Keterampilan Pedagogik Untuk Orang Tua
Foto Ilustrasi

Dalam sistem Pendidikan Nasional dikenal istilah kompetensi pedagogik. Kompetensi ini merupakan salah satu dari empat kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru selain kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Kompetensi pedagogik dalam Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, antara lain mencakup penguasaan tentang karakteristik peserta didik, menguasai teori belajar dan prinsip pembelajaran, penyelenggaaraan pembelajaran yang mendidik, komunikasi yang efektif, evaluasi belajar, pengembangan peserta didik, dan lain-lain. Dalam tulisan ini sengaja tidak menggunakan istilah kompetensi pedagogik tapi menggantikannya dengan istilah keterampilan pedagogik.

Ada dua pertimbangan untuk tidak menggunakan istilah kompetensi pada gagasan ini:

Pertama, istilah kompetensi pedagogik dalam profesi ke-guruan merupakan masalah yang bersifat mendasar yang membedakan antara profesi guru dengan profesi lainnya. Sebagai identitas profesi, kompetensi pedagogik diraih dengan proses, pendidikan serta syarat tertentu yang bersifat khusus.

Kedua, gagasan keterampilan pedagogik dalam gagasan ini bukan membicarakan atau ditujukan kepada guru tetapi diperuntukkan bagi para orang tua/wali murid yang dalam masa PSBB yang terus diperpanjang ini telah dipaksa oleh keadaan untuk memerankan beberapa tugas guru dalam mendampingi anak-anak yang harus belajar dari rumah. Kita tidak tahu persis sampai kapan anak-anak akan belajar dari rumah dan berapa lama lagi orang tua/wali murid harus terlibat aktif dalam proses belajar dari rumah.

Meski pada tanggal 4 Januari lalu pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memulai proses belajar-mengajar semester genap tahun ajaran 2020/2021, telah pula membolehkan belajar secara tatap muka (dengan berbagai syarat) namun mayoritas murid di Indonesia belum bisa belajar secara tatap muka di kelas karena masih tingginya angka penularan Covid-19 di daerah masing-masing. Banyak kepala daerah yang mengambil kebijakan untuk meneruskan proses belajar dari rumah saat semester genap tahun ajaran 2020-2021 ini dimulai.

Hal ini mengandung dua makna, pertama sebagian besar orang tua/wali murid masih harus terlibat aktif dalam mendukung proses belajar dari rumah hingga beberapa bulan ke depan, terutama mereka yang menjadi wali murid jenjang pendidikan SD dan PAUD. Kedua, belajar dari rumah yang telah dilakoni oleh murid semenjak bulan Maret lalu tidak boleh lagi dianggap bersifat darurat dan sementara. Terlalu banyak waktu dan hak murid yang terbuang jika praktik belajar bersifat darurat ini diperturutkan hingga situasi benar-benar normal.

Laboratorium Bahasa di Sekolah
Foto Ilustrasi

Perlu Perubahan Paradigmatik.

Surat edaran Sekretaris Jendral Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor 15 tahun 2020, tentang Pedoman Pelaksanaan Belajar Dari Rumah nampaknya dikeluarkan dalam rangka merespon situasi darurat yang diharapkan akan berakhir dalam jangka waktu yang tidak lama. Surat edaran ini yang menjadi payung dan pedoman praktik belajar dari rumah semenjak bulan Mei hingga memasuki semester genap 2020-2021.

Untuk kepentingan proses belajar dari rumah yang memenuhi hak murid secara maksimal dan mendukung tujuan pendidikan nasional, nampaknya surat edaran saja tidaklah cukup. Perlu skenario dan payung hukum yang lebih serius dan tinggi.

Baca juga:  Bagaimana Cara Agar Gajah Yang Berat Bisa Seringan Kapas?

Belajar dari rumah tidak boleh lagi dilakukan untuk kepentingan sementara. Faktanya belajar dari rumah telah berlangsung hampir satu tahun. Apakah tahun depan dengan adanya vaksin, pandemi bakal selesai? Tak ada jaminan itu. Karenanya, model belajar dari rumah harus dirancang secara serius dan ini menyaratkan beberapa hal yang bersifat mendasar:

Pertama, proses belajar dari rumah membutuhkan adanya bangun konseptual yang kuat yang mampu mengintegrasikan sumber daya guru, orang tua, sumber daya lingkungan/teknologi dan murid dalam suatu kesatuan sistemik yang mengarah pada capaian pendidikan yang bermutu dengan cara yang berbeda dari biasanya. Status dan peran masing-masing sumber daya harus dikerangkai secara utuh dalam skenario pembelajaran yang integratif meski tanpa tatap muka.

Kedua, perlu perubahan perangkat dasar terkait konsep sekolah, kurikulum, dan standar nasional pendidikan. Pedoman Pelaksanaan Belajar Dari Rumah sebagaimana terlampir dalam edaran Sekretaris Jendral Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor 15 tahun 2020, karena tidak dirancang untuk diberlakukan dalam jangka panjang terlihat tidak didahului dengan perubahan perangkat dasar pendidikan. Ini pula yang membuat praktik belajar dari rumah berdasarkan edaran tersebut tidak berjalan maksimal dalam memenuhi hak-hak belajar murid secara optimal.

Pendidikan formal yang membutuhkan kehadiran murid di sekolah dan tatap muka di kelas dengan guru adalah pendidikan formal dalam kerangka pikir situasi normal. Dalam era New Normal, apakah keharusan itu tetap harus dijalankan? Penggunaan istilah belajar dari rumah juga mengindikasikan kedaruratan dan kesementaraan. Mungkinkah istilahnya perlu “diseriuskan” menjadi sekolah dari rumah? Sehingga orang tua dan murid tidak memiliki ganjalan psikologis, yang seakan merasa tak bersekolah dengan hanya belajar dari rumah. Tentu konsepnya harus berbeda dengan term homeschooling yang telah ada.

Ketiga, pengelolaan pendidikan di Indonesia mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Ada delapan standar yang harus dipenuhi. Standar Isi, kompetensi, proses, sarana, pengelolaan, pembiayaan, penilaian dan standar pendidik-tenaga pendidik. Delapan standar tersebut saling melengkapi untuk menjamin layanan dan mutu pendidikan yang baik. Standar Nasional Pendidikan ini pula kurikulum pendidikan dirancang dan ditetapkan.

Sekedar pertanyaan ringan saja, apakah praktik belajar dari rumah yang telah berlangsung kurang lebih 4 bulan ini dapat memenuhi standar proses? Inilah antara lain yang harus dijawab, sehingga perlu perubahan perangkat dasar yang bersifat paradigmatik jika belajar dari rumah akan dibakukan sebagai platform yang akan dipergunakan dalam jangka waktu yang panjang.

Tanpa diawali perubahan yang dimensinya paradigmatik, maka praktik pendidikan di era New Normal akan terbelenggu oleh asumsi era normal. Prosedurnya diubah tapi standar dan kurikulumnya tidak adaptif dengan prosedur tatanan era New Normal sehingga berpotensi merugikan para murid yang tidak mendapatkan layanan pendidikan selayaknya.

Baca juga:  Perkembangan Emosi Anak Dan Peran Penting Ibu Dalam Fase Awal Perkembangannya

Pembekalan Keterampilan Pedagogik.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nampaknya sedari awal telah menyadari bahwa praktik belajar dari rumah mutlak membutuhkan peran serta para wali/orang tua murid. Setidaknya ini terbaca dari uraian prinsip-prinsip belajar dari rumah yang termaktub dalam Pedoman Pelaksanaan Belajar Dari Rumah, khusunya poin 7 yang menyatakan: Mengedepankan pola interaksi dan komunikasi yang positif antara guru dengan orang tua/wali. Bahkan tidak hanya itu, pedoman ini juga telah dilengkapi dengan uraian peran orang tua dalam proses belajar dari rumah.

Masalahnya, orang tua/wali murid memiliki pemahaman yang beragam terkait persoalan pendidikan. Demikian juga dalam mengambil peran mendukung proses belajar dari rumah sebagaimana diamanahkan dalam surat edaran tersebut, mungkin tidak semua peran itu dapat mereka pahami dan lakukan sebagaimana diharapkan.

Jika pedoman ini telah dikemas menjadi konsep yang lebih baku, harus ada format atau prosedur terkait status dan peran wali murid. Pedoman Pelaksanaan Belajar Dari Rumah yang saat ini berlaku, nampak tidak memberi status yang jelas kepada orang tua/wali tetapi memberikan uraian peran.

Oleh karenanya, status wali/orang tua dalam konsep belajar dari rumah perlu diperjelas. Misalnya status mereka dikukuhkan sebagai mitra guru, status dimaksud diatur melingkupi tanggung-jawab, fungsi dan peran, yang telah ditentukan berdasarkan kebutuhan konsep belajar dari rumah yang utuh.

Sehingga peran yang dimainkan oleh orang tua berdasarkan aturan main dan orang tua melakukannya dengan prosedur yang jelas. Bukan sekedar himbauan untuk melakukan ini dan itu yang bersifat teknis tanpa memahami visi yang jelas dalam melihat proses belajar dari rumah sebagai sebuah sistem.

Karenanya, orang tua yang biasanya secara mandiri belajar tentang teknik parenting, nampaknya perlu diberi wawasan dan keterampilan pedagogik minimal yang dibutuhkan oleh platform belajar dari rumah tersebut. Untuk kepentingan ini, perlu dipahami apa yang tak bisa dilakukan oleh guru selama belajar dari rumah berlangsung. Penting juga untuk memahami apa yang menjadi keluhan, kemampuan, kebutuhan, dan harapan para orang tua/wali terkait peran yang harus mereka mainkan dalam mendukung program belajar dari rumah.

Keterampilan pedagogik sebagaimana disinggung diawal gagasan ini bukan dimaksudkan untuk mengubah orang tua menjadi sekapasitas guru. Istilah keterampilan dimaksudkan untuk membedakan antara kompetensi guru dengan hal-hal teknis dan umum yang layak dipahami oleh orang tua/wali secara minimal dalam rangka mendukung proses belajar dari rumah dengan mengikuti arahan guru dan pedoman atau pembekalan yang diberikan.

Proses pembekalan bisa dilakukan dengan banyak cara. Memberi pelatihan barangkali, atau membuat pedoman khusus yang sangat teknis bagi para orang tua/wali sebagai mitra guru sehingga mudah dilaksanakan.