Kalender tahun 2020 dalam hitungan beberapa hari ke depan akan segera sirna. Selanjutnya akan menjelang tahun 2021. Tahun baru, umumnya begitu orang banyak menyebut moment akhir Desember dan awal Januari. Meski disebut tahun baru, hakekatnya bumi makin renta dan kita para penghuninya akan bertambah tinggi pula batang usianya, makin tua, ringkih, pastinya makin berkurang pula jatah waktu yang tersisa untuk menempati “kos-kosan”ini.

Tahun Baru, Harapan, dan Kematian

Mungkin kelelahan dan jenuh dengan kondisi kehidupan pada tahun sebelumnya, orang bersuka cita untuk menyongsong tahun baru sembari berharap kehidupan dan peruntungan yang lebih baik pada tahun berikut. Entahlah, yang pasti hari-hari yang akan kita tapaki masih akan sama dengan tahun sebelumnya. Lalu bagaimana bisa orang berharap perubahan terjadi dari perubahan tahun?

Mencanangkan harapan pada tahun baru sesungguhnya hanya akan memiliki arti, manakala kita mengawalinya dengan proses evaluasi tentang apa yang telah kita lakukan pada satu tahun sebelumnya. Evaluasi atau muhasabah ini akan memberikan gambaran tentang apa yang berhasil kita capai dan apa yang telah kita lewatkan. Selanjutnya evaluasi atau muhasabah juga akan memberikan catatan, mengapa yang ini berhasil dan yang itu gagal total. Apa yang salah dan apa yang kurang?

Hasil evaluasi ini selanjutnya diterjemahkan menjadi agenda perbaikan dan rencana yang lebih matang untuk menghadapi tahun yang akan datang. Jika rencana dan agenda itu telah matang kita persiapkan, bolehlah kita berharap munculnya situasi yang lebih baik pada tahun yang akan datang.

Tanpa rencana, bahkan hanya percaya pada ramalan kemujuran, sebaiknya tak perlu terlalu berharap adanya perbaikan di masa yang akan datang. Tahun baru akan segera anda rasakan sama hal nya dengan tahun sebelumnya. Masalah yang sama tetap akan anda hadapi atau bisa jadi makin parah, masalah kesehatan yang makin buruk karena umur makin bertambah.

Tahun baru sekali lagi hanya perubahan formasi angka, ia sekedar bisa menjadi momentum untuk merencanakan kehidupan secara lebih baik. Ia bukan mantera sihir yang begitu selesai pinjaran kembang api dan dentuman petasan, maka pagi harinya bumi akan diliputi oleh kesejahteraan. Tidak sama-sekali!

Keuntungan dan kerugian bukanlah persoalan hari dan waktu. Menyalahkan tahun yang shio-nya buruk bukanlah cara Islam. Islam justru mengajarkan bahwa Allah menebar rahmat dan keberkahan sepanjang hari dan sepanjang tahun. Masalahnya lebih pada upaya kita dalam memanfaatkan sumber daya waktu dalam rangka menyongsong rahmat dan keberkahan tersebut.

Baca juga:  Berbagai Aspek Perkembangan Kognisi Anak

Tentu berharap adanya situasi yang lebih baik pada tahun baru boleh-boleh saja. Tapi tetap harus dengan rencana dan kerja keras untuk mencapai harapan itu, sembari terus berharap pada kemurahan Allah SWT dan pertolongan-Nya. Allah bahkan memerintahkan agar kita punya rencana terkait apa yang akan kita lakukan untuk esok hari (Al-Hasr: 18). Bukan mengabarkan tentang tahun yang penuh hoki dan tahun yang penuh kemalangan.

Bagi muslim, tahun baru ini mestinya menjadi momentum untuk meluruskan kembali cara pandang kita tentang waktu dan kehidupan. Setidaknya ada beberapa hal penting yang harus kita luruskan kembali:

Pertama, jangan menggantungkan harapan dan peruntungan pada waktu atau pergantian waktu. Berharaplah semata-mata kepada Allah. Pesta pora menjelang pergantian tahun tak ada korelasinya sama sekali dengan peruntungan kita di masa yang akan datang. Justru akan buruk secara ruhiah dan dimensi keimanan.

Maka luruskan lah kembali mindset dan paradigma hidup yang telah terkontaminasi dengan berbagai budaya pop yang tak memiliki sandaran kebenaran. Allah hanya akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu berkeinginan untuk mengubahnya. Sama-sekali bukan perubahan waktu yang akan mengubah nasib dan peruntungan kita.

Kedua, tahun baru mungkin akan memiliki makna yang berbeda-beda bagi suatu kaum maupun individu. Tapi satu hal yang pasti sama: “tahun baru mengurangi jatah kehidupan manusia satu tahun.” Artinya, tahun baru berarti mendekatkan kita pada kematian. Maka sebaiknya, setiap kali tahun baru pertanyaan penting yang perlu kita ajukan adalah: kebaikan apa yang telah aku lakukan dalam sisa umur ini? sehingga saatnya kematian tiba, kita siap menghadapinya lahir dan batin.

Baca juga:  PAIKEM Dipakai Dalam Pembelajaran Online Untuk Mengatasi Kejenuhan Siswa?

Lucunya, justru pada tahun baru orang bersuka cita untuk sekedar melupakan bahwa kematian makin dekat! Dalam ajaran Islam kematian dan kehidupan adalah satu kesatuan. Kehidupan di dunia akan berakhir dengan kematian, selanjutnya kematian akan menjadi pintu gerbang bagi kehidupan yang abadi. Gunakan waktumu sebelum datang masa kematianmu, begitu nasehat Rasulullah SAW.

Islam mungkin satu-satunya agama yang mengajarkan zikrul-maut dan menempatkan kematian sebagai bagian utuh dari kehidupan. Jadi mari kita pikirkan dalam momentum tahun baru ini, apa yang telah kita rencanakan untuk kematian kita?

Ketiga, harapan tentang kebaikan di tahun depan mari kita bingkai dalam kesadaran bahwa kematian kita juga makin dekat seiring dengan bertambahnya tahun. Dua aspek penting ini jika digunakan untuk merencanakan hari esok yang lebih baik, maka bingkainya akan luas. Tak sebatas baik dalam ukuran-ukuran duniawi tapi juga baik dalam konotasi ukhrowi. Sehingga resolusi tahun baru (meminjam istilah yang tahun baruan) tak sekedar keinginan untuk baik secara sosial, ekonomi, karier dan perjodohan, tetapi juga kebaikan yang berimplikasi pada kualitas hidup di akhirat yang juga hasanah.

Tahun bertambah dan umur juga bertambah. Apakah sudah berbanding lurus dengan tingginya kualitas ibadah dan akhlak kita? Tahun telah bertambah, apakah hapalan Al-Quran kita bertambah banyak atau justru makin banyak yang terlupakan? Jangan sampai pula semakin dekat dengan ajal makin tidak siap pula kita menghadapinya.

Tahun baru penting dijadikan momentum untuk muhasabah. Tahun baru bukan untuk berfoya-foya sehingga lupa pada tujuan kehidupan yang sesungguhnya. Berlindunglah dari tahun baru yang masih saja terjebak dari keburukan lama.